Kisah Kisah Kita

Showing posts with label Chicken Soup. Show all posts
Showing posts with label Chicken Soup. Show all posts

Wednesday, May 16, 2012

PELAJARAN DARI NENEK RUBY

Sebagai ibu dari dua anak yang sangat aktif, berusia tujuh dan satu tahun, kadang-kadang aku khawatir kalau mereka mengacaukan rumah yang sudah saya dekor dengan cermat. Disaat anak-anak yang masih murni itu bermain, terkadang mereka menjatuhkan lampu kesayanganku atau mengacaukan tata ruang yang sudah dirancang dengan seksama. Pada saat-saat itu ketika tak ada lagi rasa aman, aku terkenang akan pelajaran yang kudapatkan dari ibu mertuaku yang bijaksana, Ruby.

Ruby adalah ibu dari 6 anak dan nenek 13 cucu. Bagiku dia merupakan cermin dari kelemahlembutan, kesabaran, dan kasih sayang.

Pada suatu hari Natal, seperti biasanya semua anak dan cucunya berkumpul di rumah Ruby. Tepat sebulan sebelumnya, Ruby telah membeli sebuah karpet putih yang baru dan indah setelah hidup dengan karpet tua yang sama lebih 25 tahun lamanya. Dia merasa amat bahagia dengan suasana baru yang diberikan karpet itu pada rumahnya.

Adik ipar saya, Arnie, baru saja membagi-bagikan hadiahnya kepada para keponakan madu buatan sendiri yang bermutu tinggi dari peternakan lebahnya. Mereka sangat bergairah. Tetapi malang benar, Sheena yang berusia delapan tahun menumpahkan tabung madunya ke karpet baru nenek dan madu itu mengalir terus sampai ke bawah tangga rumah.

Sambil menangis, Sheena berlari ke dapur menyusup ke lengan nenek Ruby. "Nek, saya telah menumpahkan madu ke karpet baru nenek."

Nenek Ruby berlutut, melihat dengan lembut ke mata Sheena yang berlinang dan berkata, "Jangan khawatir sayang, kami akan memberikan madu lagi untukmu."

Lynn Robertson 

DALAM KASIH ADA TENGGANG RASA DAN KEMAMPUAN UNTUK TAHAN UJI TERHADAP SITUASI YANG KURANG MENGUNTUNGKAN DAN TERHADAP SIKAP ORANG-ORANG YANG KURANG MENGENAKKAN. KASIH ITU PANJANG SABAR.
  
Source     : Chicken Soup for the Woman's Soul
Picture by : andrewcomiskey.com

Tuesday, May 15, 2012

KECANTIKAN SEJATI

Untuk Hari Ibu, Jeannie telah bersusah payah merencanakan membeli sesuatu yang amat khusus bagi ibunya, Bess. Dengan cermat ia hendak memberikan sebuah sertifikat hadiah dengan memakai gaji pertamanya yang tidak seberapa. Pada hari yang telah ditentukan, putri muda ini membawa ibunya yang sederhana dan pemalu ke studioku.

Saat memasang layar-layar warna dan mengatur posisi, Bess mengaku ia telah mencurahkan seluruh perhatiannya bagi keluarganya selama bertahun-tahun dan telah mengabaikan dirinya sendiri. Akibatnya ia tak pernah mempertimbangkan pakaian apa yang pantas dikenakannya atau bagaimana memakai make up.

Ketika aku menaruh warna-warna cantik dekat ke wajahnya, ia mulai 'berbunga', walaupun tampaknya ia tidak menyadari hal itu. Setelah memberikan sentuhan akhir pemerah dan lipstik untuk meningkatkan penampilannya, aku mengundangnya untuk melihat dirinya sendiri dalam kaca panjang yang besar. Dia memperhatikan dirinya agak lama, seakan menyimak seorang asing, lalu terus beringsut mendekat ke bayangannya. Akhirnya dengan membelalak dan mulutnya terbuka, ia menyentuh cermin itu sedikit.

"Jeannie," ia memberi isyarat, "kesini donk." Sambil menarik putrinya ke sampingnya, ia menunjuk ke bayangan itu. "Jeannie, lihatlah saya. Saya cantik!"

Si wanita muda itu melempar senyum pada wanita tua di depan kaca dengan air mata di pelupuknya.

"Ya, Ibu, kamu memang selalu cantik."

Charlotte Ward

KETIKA DITANYA MENGAPA IA TAMPAK MUDA MESKI HIDUPNYA SUKAR, IBU TERESA MENJAWAB,"TERKADANG PERASAAN BAIK DARI DALAM LEBIH BERHARGA DARIPADA SEORANG AHLI KECANTIKAN."

Source      : Chicken Soup for the Woman's Soul
Picture by :  loyno.edu

Monday, May 14, 2012

NENEK MOSES DAN AKU

"Aku terlalu tua dan sudah uzur!" Kata-kata itu terus melayang- layang di kepalaku. Aku patah semangat dan letih setelah mengakhiri pernikahan dan karierku di bidang hukum pada saat bersamaan. Meski memiliki hasrat besar untuk menjadi penulis, aku meragukan kemampuanku untuk berhasil. Apakah aku telah menyia-nyiakan waktu dengan mengejar tujuan yang salah?

Aku berada pada titik terendah ketika suara radio mulai menceritakan kisah Nenek Moses. Anna Mary Robertson Moses meninggalkan rumah pada usia 13 tahun, melahirkan 10 anak, dan bekerja keras untuk menghidupi 5 anaknya yang mampu bertahan hidup. Berjuang untuk hidup di pertanian miskin, dia berhasil menciptakan sedikit keindahan untuk dirinya sendiri dengan merenda di atas kanvas.

Pada usia 78 tahun, jari-jarinya menjadi terlalu kaku untuk bisa memegang jarum. Namun bukannya menyerah terhadap kelemahannya, ia malah pergi ke gudang dan mulai melukis. Pada panel-panel kanvas dia menciptakan pemandangan kehidupan alam pedesaan dengan cermat dan memakai warna-warna yang cemerlang.

Untuk dua tahun pertama, karyanya cuma diberikan begitu saja atau dijual dengan harga amat murah. Tetapi pada usia 79 tahun, dia "ditemukan" oleh dunia seni..dan berikutnya ia mencatat sejarah. Dia telah menghasilkan lebih dari 2000 lukisan dan buku kumpulan karyanya "Twas the Night before Christmas" selesai pada ulang tahunnya yang ke 100.

Ketika aku mendengar radio itu, perasaan hatiku berubah. Jika nenek Moses bisa memulai suatu karier baru dan berhasil pada usia 80 tahun, hidupku masih punya harapan setelah 30 tahun. Sebelum acara itu berakhir, aku mulai bekerja di komputerku, menulis novel yang nyaris kulupakan.

Delapan bulan kemudian novel itu diterbitkan.

Liah Kraft-Kristaine

MASA DEPAN ADALAH MILIK MEREKA YANG PERCAYA PADA KEINDAHAN MIMPI-MIMPI MEREKA.  ~Eleanor Roosevelt

Source      : Chicken Soup for the Woman's Soul
Picture by  : artknowledgenews.com

Tuesday, April 24, 2012

KETABAHAN YANG SIAP PAKAI

Pada musim panas 1991, aku berlibur di Irlandia bersama suamiku. Sebagaimana lazimnya wisatawan Amerika, tentu saja kami mengunjungi Puri Blarney. Dan dengan sendirinya jika kita mengunjungi Puri Blarney, kita mencium Batu Blarney.

Nah, untuk bisa sampai di tempat Batu Blarney, kita terlebih dulu harus mendaki sejumlah anak tangga yang sempit. Sudah dari "sononya" aku takut berada di tempat yang tinggi dan terlebih-lebih lagi di ruangan sempit. Karenanya aku menyuruh suamiku naik dulu sendiri kemudian memberitahukan apakah menurut dia aku mampu melakukannya atau tidak.

Ketika ia sudah kembali, aku bertanya, "Nah, bagaimana pendapatmu? Mampukah aku, menurutmu?" Sebelum suamiku sempat menjawab, dua wanita yang sudah berumur lanjut datang menghampiri dan berkata, "Jika kami saja sanggup, Anda pasti juga mampu!" aku pun melakukannya, dan aku mencium Batu Blarney!

Sekitar satu bulan sekembali dari Irlandia, aku diberitahu bahwa aku mengidap penyakit kanker payudara. Aku memerlukan perawatan dan kemoterapi. Dokter yang menangani berkewajiban memberitahukan segala hal yang bisa terjadi padaku sebagai dampak samping kemoterapi. Ia mengatakan bahwa ada kemungkinan rambutku rontok. Ditambah muntah-muntah, mencret, demam tinggi, kejang rahang, dan sebagainya.

Kemudian ia bertanya, "Anda sudah siap untuk mulai?"

Perasaanku menjadi semakin tidak menentu, sangat gelisah, dan ketakutan, ketika aku dengan ditemani suamiku duduk di ruang tunggu, menanti giliran untuk menjalani perawatan. Aku berpaling ke suamiku dan bertanya,

"Menurutmu, mampukah aku menjalaninya?"

Berhadapan dengan kami, duduk dua wanita lanjut usia yang baru saja selesai menjalani kemoterapi. Suamiku mengenggam tanganku dan berkata, "Ini akan persis sama seperti ketika di Puri Blarney. Jika mereka berdua bisa, kau pasti mampu!" Dan ternyata memang begitu.

TAHUKAH APA YANG BENAR-BENAR HEBAT TENTANG KETABAHAN? KETABAHAN MUNCUL APABILA KITA MEMERLUKANNYA!

By : Maureen Corral

Source :
Chicken Soup for the Woman's Soul

PEKERJAAN TERPENTING

Penumpang-penumpang yang paling terakhir masuk ke pesawat dari Seattle ke Dallas adalah seorang wanita yang disertai tiga orang anak.

"Aduh, jangan sampai tempat duduk mereka di sebelahku," kataku dalam hati. "Begitu banyak pekerjaan yang harus kulakukan."

Tetapi sesaat kemudian seorang anak berumur sebelas tahun dan adik lelakinya berumur sembilan tahun sudah melangkahi kakiku yang terjulur ke depan untuk duduk di kursi-kursi di sebelahku, sementara wanita itu dan anak lelaki satu-satunya lagi yang berumur empat tahun mengambil tempat duduk di belakangku.

Boleh dibilang seketika itu juga kedua anak yang lebih besar mulai bertengkar, sementara anak kecil yang di belakang sebentar-sebentar menendang sandaran kursiku. Sekian menit sekali anak lelaki di sebelahku bertanya pada kakaknya,

"Dimana kita sekarang?"

"Diam!" bentak anak perempuan itu, lalu mulailah lagi gerak-gerik gelisah disertai rengekan.

"Anak-anak sama sekali tidak mengerti tentang pekerjaan penting," pikirku dengan perasaan sebal.

Tahu-tahu ada suara dalam benakku, yang dengan jelas dan singkat mengatakan,"Cintai mereka."

"Anak-anak ini tidak bisa diatur, aku memiliki pekerjaan penting yang harus kukerjakan," pikirku membantah suara tadi.

Hati sanubari menjawab, "Cintailah mereka seakan-akan mereka anakmu sendiri."

Karena sudah berkali-kali mendengar pertanyaan "Dimana kita sekarang?", kuarahkan perhatian mereka pada peta dimajalah perusahaan penerbangan yang terselip dalam kantong dibelakang sandaran setiap kursi. Padahal ada pekerjaan penting yang harus kutangani.

Kujelaskan rute yang ditempuh pesawat, kupenggal-penggal dalam tahap-tahap penerbangan yang masing-masing memakan waktu seperempat jam. Kuperkirakan pula kapan pesawat akan mendarat di Dallas.

Setelah itu mereka pun bercerita tentang perjalanan mereka ke Seattle untuk menjenguk ayah mereka yang dirawat di rumah sakit. Dalam percakapan kami, mereka bertanya tentang penerbangan, navigasi, ilmu pengetahuan, dan pandangan orang dewasa mengenai kehidupan. Waktu berlalu dengan cepat, dan pekerjaanku yang "penting" masih saja belum kuapa-apakan.

Ketika pesawat akhirnya hendak mendarat, aku bertanya tentang keadaan ayah mereka. Sikap kedua anak itu langsung berubah dan yang lelaki berkata singkat, "Sudah meninggal."

Aku mengatakan bahwa aku ikut merasa sedih.

"Ya, aku juga sedih," kata anak lelaki itu. "Tapi adikku yang paling kuprihatinkan. Ia sangat kehilangan."

Tiba-tiba aku menjadi sadar bahwa apa yang kami percakapkan selama itu adalah pekerjaan terpenting dalam hidup ini, yaitu menjalani kehidupan ini dengan baik, mencintai, dan terus berkembang meski mengalami kesedihan mendalam.

Ketika kami berpisah di bandar udara Dallas, aku bersalaman dengan anak lelaki itu yang mengucapkan terima kasih padaku karena menjadi "guru di angkasa" baginya. Dan aku berterima kasih padanya, karena ia pun sempat menjadi "guru angkasa" bagiku.

By : Dian S. Bagley

IYA..PEKERJAAN TERPENTING DALAM HIDUP INI ADALAH MENJALANI KEHIDUPAN INI DENGAN BAIK..MENCINTAI..DAN TERUS BERKEMBANG MESKI MENGALAMI KESEDIHAN MENDALAM.

Source      : Chicken Soup for the Soul
Picture by :  meythree.multiply.com

Sunday, April 22, 2012

WASIAT TERINDAH

Ketika suami saya, Bob secara tiba-tiba meninggal dunia pada tahun 1994, saya menerima ucapan belasungkawa dari berbagai orang yang sudah sejak bertahun-tahun tidak ada kabar beritanya. Mereka menulis surat, mengirimkan karangan bunga, menelepon, dan ada juga yang datang sendiri. Saya sangat sedih, namun merasa terhibur oleh curahan kasih sayang yang datang dari sanak keluarga, teman-teman, bahkan dari kenalan biasa.

Satu pesan di antaranya sangat menyentuh hati saya. Saya menerima surat dari sahabat karib saya selama bersekolah, sejak kelas enam sekolah dasar sampai tamat sekolah menengah. Sejak lulus tahun 1949 kami berpisah, karena ia tinggal di kota asal kami sementara saya sendiri pindah. Namun persahabatan kami termasuk jenis yang dapat dengan cepat terjalin kembali meski sempat tidak pernah berhubungan selama sekitar lima sampai sepuluh tahun.

Suaminya Pete meninggal sekitar 20 tahun sebelumnya pada usia masih muda, meninggalkan sahabat saya dalam kedukaan dan dengan tanggung jawab yang berat : mencari kerja dan menghidupi tiga orang anak yang masih kecil. Ia dan Pete, demikian pula saya dan Bob, sebagai pasangan suami isteri terjalin dalam ikatan "cinta kasih sejati yang takkan pernah dilupakan", yang sangat istimewa.

Dalam suratnya, sahabat saya itu menuturkan sebuah anekdot tentang ibu saya (yang sudah lama meninggal dunia). Ia menulis," Ketika Pete meninggal dunia, ibumu yang baik hati itu memelukku dan mengatakan,
"Trudy, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan..jadi kukatakan saja bahwa aku sayang padamu."

Sahabat saya itu mengakhiri suratnya dengan kutipan kata-kata yang diucapkan oleh ibu saya sekian tahun yang lalu padanya, " Bonnie, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan..jadi kukatakan saja bahwa aku sayang padamu."

Saya merasa seakan-akan mendengar ibu saya berbicara sendiri kepada saya. Benar-benar suatu pesan yang kuat untuk mengungkapkan simpati! Betapa budimannya sahabat saya itu untuk tetap mengenangnya selama sekian tahun dan kemudian menyampaikannya kepada saya.

AKU SAYANG PADAMU. KATA-KATA YANG TEPAT. SUATU HADIAH. SUATU WASIAT.

Bonnie J. Thomas
  
Source       :  Chicken Soup for the Soul
Picture by  :   galerie.designnation.de

Friday, April 20, 2012

MAKNA SEBUAH PELUKAN

Kami menyongsong kedatangan Andrea dan menyambutnya ketika gadis itu turun dari bus carteran bersama para rekan siswa dari negaranya. Mereka datang dari Slovakia dalam rangka program pertukaran siswa internasional.

Andrea dapat berbahasa Inggris, tetapi ia sangat gugup. Aku dapat memahami kecanggungannya. Keluarga kami berlima. Anak-anak sudah begitu terbiasa bergaul dengan siswa dari luar negeri sehingga mereka langsung menghampiri dan ingin memeluknya.

Baru kemudian kami mengetahui bahwa Andrea tidak mengenali kebiasaan peluk-memeluk. Padahal kami sering melakukannya! Sepanjang hari kami sering saling merangkul, sementara Andrea memperhatikan. Aku memperhatikan air mukanya setiap kali ia melihat kami saling memeluk. Ia menyukainya. Ia menginginkannya.

Andrea bercerita tentang kehidupannya di Eropa. Sebenarnya ibunya sangat menyayangi dan hubungan mereka pun saling menyayangi, "dengan cara Eropa", demikian kata Andrea. Terakhir kali dipeluk oleh ibunya ketika ia masih kecil.

Sewaktu tinggal bersama kami sepanjang musim panas 1992, Andrea kemudian menjadi bagian dari keluarga kami. Dengan begitu cepat kami sudah saling menyayangi. Andrea mulai menikmati kebahagiaan saling memeluk. Dan yang paling utama adalah kebesarannya yang timbul bahwa ia perlu berbagi pengalaman emosional ini dengan ibunya.

Akhir bulan Agustus, Andrea kembali ke Slovakia. Ia terbang ke Munich, Jerman, dijemput ibunya di bandar udara kota itu. Ibunya sama sekali tidak menduga apa yang akan dialaminya saat itu. Ia menyambut kedatangan Andrea dengan cara yang luar biasa, berbicara sambil tersenyum sayang, dan membantunya membawa barang-barang bawaan.

Andrea menggandeng ibunya dengan kasih sayang sambil berkata:

"Ibu, aku ingin memelukmu, dan aku ingin Ibu memelukku erat-erat!"

Dan itu mereka lakukan. Mereka sedikit pun tidak beranjak dari tempat semula di bandar udara. Andrea menulis bahwa mereka duduk di situ selama tiga jam selanjutnya. Mereka menangis. Mereka saling merangkul. Mereka bercakap-cakap. Menangis lagi, berpelukan lagi sambil tak henti-hentinya berbicara. Andrea menulis bahwa ia akan membersarkan anak-anaknya nanti dengan sering memeluk. Ia juga menulis bahwa ibunya ingin banyak disertakan dalam rencananya itu.

Mary Jane West-Delgado

KETIKA HIDUP BUATMU TANPA KATA..SEBUAH PELUKAN AKAN MEMBANTUMU TEMUKAN MAKNA. KARENA KADANG PELUKAN MAMPU BERKATA YANG TAK TERUCAP.

Source      : Chicken Soup for The Soul
Picture by :  halsamt.wordpress.com

Tuesday, April 17, 2012

SINAR MENTARI COKELAT YANG MANIS

Di sini di India, bagi anak orang kaya, membeli sebatang cokelat adalah tindakan yang gampang dilakukan, tapi bagi anak miskin, itu anugerah besar. Cokelat merupakan camilan langka. Tak diragukan lagi, anak orang miskin bahkan tidak bisa sekadar menghabiskan lima rupee untuk membeli barang yang amat diinginkan ini. Cokelat di negara ini menjadi hak istimewa orang kaya. Orang miskin tak punya cokelat. Itu belum selesai.

Jalanan di Calcutta penuh dengan pengemis anak-anak. Aku tak memberi mereka uang karena aku tahu sebagian besar uang itu tidak akan menjadi milik mereka, namun kesedihan di mata mereka menyentak perasaanku yang paling dalam. Ali-alih, ketika aku melihat anak kecil mengemis, aku membelikannya sebatang cokelat. Ada satu anak di luar perguruan tinggiku yang bersikap layaknya teman terhadapku dan mengatakan "Hai!" kepadaku setiap kali aku melintas. Namanya, seperti yang kuketahui jauh hari kemudian, Raja.

Tanpa rencana, suatu hari aku membelikannya sebatang Diary Milk. Ketika dia mengambilnya dari tanganku, matanya berbinar. Saat memegang batangan cokelat itu di tangannya, seolah-olah dia mendapatkan emas. Rasa terima kasih menyelubunginya, dan dia menjadi malu dan berlari menjauh, segera setelah mengucapkan "Terima kasih, Didi!" dengan amat bersemangat. (Dalam bahasa India, didi digunakan untuk menunjuk kakak perempuan.)

Sedikit terkejut dengan kegembiraannya yang begitu besar, aku memandangnya sejenak ketika dengan bangga dia memamerkan perolehan terbarunya kepada teman-temannya; sebagian di antara mereka terbelalak, sementara anak-anak yang lebih nakal berusaha merebutnya, tapi jelas-jelas gagal. Setelah euforia awalnya mereda dan anak-anak lain mulai bosan dan berjalan menjauh, dia memanggil mereka kembali. Perlahan dia membuka kertas timah tipis pembungkus untuk menguak cokelat yang berwarna cokelat gelap itu, sementara yang lain melihat, ngiler, dalam keheningan penuh ketakjuban.

Benar-benar pamer, pikirku. Tapi, saat itulah dia melakukan sesuatu yang tak pernah kubayangkan. DIa mematahkan batangan cokelat itu menjadi lima kepingan besar dan membaginya dengan semua temannya, yang sekarang memperlakukannya layaknya setengah dewa. Aku mengira anak kecil itu bakalan ingin menyimpan cokelat itu, camilan langka itu, semua untuk dirinya sendiri.

Berulang kali aku membelikannya batangan cokelat sesudah itu, dan aku benar-benar berpikir dia akan menjadi tamak setelah beberapa waktu, tapi dia selalu membaginya sama rata di antara semua temannya. Suatu ketika aku bahkan berusaha membelikannya satu batangan yang benar-benar kecil, tapi entah bagaimana mereka juga bisa mendapatkan secuil darinya.

Sebelum membelikannya cokelat di salah satu hari-hari itu, aku bertanya kepadanya mengapa dia selalu membagi cokelatnya. Tanpa basa-basi dia memberikan jawaban yang membuatku agak malu. Dia hanya bertanya, "Didi, mereka adalah keluargaku; kami harus berbagi apa saja, besar atau kecil. Aku tak bisa memimpikan sesuatu tanpa membaginya dengan mereka semua. Kenapa kau bertanya? Tidakkah kau melakukan hal yang sama dengan keluarga atau teman-temanmu?" Setelah berkata begitu dia mengambil cokelat dari tanganku, berteriak gembira "Terima kasih!" (setelah berminggu-minggu rasa malunya sirna), dan melompat menyusuri trotoar untuk mencari keluarganya.

Apakah aku sudah bersikap egoistis? Apakah aku sudah menjadi terlalu sibuk dengan diriku sendiri untuk bahkan peduli tentang berbagi kegembiraan, kepemilikan, pencapaian, kesedihan, kegagalan.....kehidupanku? Apakah aku peduli dengan mereka yang paling aku cintai? Apakah mereka bahkan memikirkanku ketika memiliki sesuatu untuk dibagi, atau apakah mereka hanya menyimpannya untuk diri sendiri? Kata-kata Raja terus terngiang di telingaku.

Kadang tindakan terkecil kita membawa sinar mentari dalam kehidupan seseorang, dan sinar mentari itu secara otomatis meluber ke dalam kehidupan kita juga.

Radhika Basu Thakur
Chicken Soup For The Chocolate lover's Soul

KEKUATAN ADALAH KAPASITAS UNTUK MEMATAHKAN SATU BATANGAN COKELAT DENGAN TANGAN KOSONG MENJADI EMPAT KEPING - KEMUDIAN MAKAN HANYA SEKEPING DARINYA.  -Judith Viorst

Source       : monicangeblog.blogspot.com (chicken soup for the soul)
Picture by  : dipity.com

Monday, April 16, 2012

KU-"DENGAR" KASIH SAYANGNYA

Sepanjang ingatanku,semasa pertumbuhanku menjadi dewasa aku tidak pernah mendengar ayahku mengucapkan kata-kata "Aku sayang padamu". Apabila seorang ayah tidak pernah mengucapkan sewaktu anaknya masih kecil, maka dengan pertambahan usia si ayah akan semakin sulit saja untuk mengatakannya.
 

Terus terang saja, aku benar-benar tidak ingat kapan terakhir aku mengucapkan kata-kata itu kepadanya. Karenanya, pada suatu kali aku memutuskan untuk menyingkirkan perasaan gengsi dan melakukan langkah pertama.

Dalam percakapanku dengan ayahku lewat telepon, setelah agak sangsi sejenak, aku mengucapkannya :

"Ayah...aku sayang padamu!"
 

Sejenak tak terdengar apa-apa, lalu ayah menjawab dengan kikuk :

"Iya..sama-samalah!"
 

Sambil tertawa geli kukatakan, "Ayah, aku tahu ayah sayang padaku."

Beberapa minggu setelah itu, ayah mengakhiri percakapan kami lewat telepon dengan kata-kata, 


"Paul, aku sayang padamu." 

Ketika kami sedang berbicara itu aku sedang bekerja. Air mataku menetes ketika akhirnya aku "mendengar" kasih sayang ayah. Sementara kami sama-sama menangis, kami berdua menyadari bahwa saat istimewa ini telah membawa hubungan ayah-anak ke suatu tingkat yang baru.

Tidak lama setelah saat istimewa itu, ayahku menjalani operasi jantung yang nyaris saja merengut nyawanya.
Sejak itu aku sering merenung : Andaikata aku tidak memulai dan ayah meninggal dunia setelah dioperasi, aku takkan pernah bisa "mendengar" kasih sayangnya.


Paul Barton

JANGAN PERNAH BERPISAH TANPA UNGKAPAN KASIH SAYANG UNTUK DIKENANG..MUNGKIN SAJA PERPISAHAN ITU TERNYATA UNTUK SELAMANYA. 
-Jean Paul Richter


Source        :  Chicken Soup for the Soul
Picture by   :   blaz-langz.blogspot.com

Monday, March 26, 2012

GADIS KECIL AYAH

"Maukah ibu memberitahu hal ini kepada ayah?"

Itulah bagian yang paling buruk yang pernah saya alami. Pada usia tujuh belas, saya harus memberitahu ibu bahwa saya hamil sebelum pernikahan. Lebih berat lagi, saya harus memberitahu hal yang sama kepada ayah. Ayah selalu menjadi pribadi yang memberikan keberanian dan kekuatan bagi saya dalam kehidupan ini.

Beliau selalu memandang saya dengan penuh kebanggaan, dan saya telah berusaha agar kehidupan saya selalu membanggakan beliau. Hanya sampai saat ini. Kini semuanya berantakan. Saya tidak akan menjadi gadis kecil ayah lagi. Ia tidak akan pernah memandang saya dengan cara yang sama lagi. Saya menghembuskan nafas berat dan bersandar pada bahu ibu untuk mendapatkan kenyamanan.

"Aku harus membawa engkau ke suatu tempat, sementara aku berbicara dengan ayahmu. Mengerti kenapa?"

"Ya, Bu." Karena ayah tidak akan dapat bangga lagi dan memandang gadis kecilnya, itulah alasannya. Saya pergi malam itu ke gereja dan bertemu dengan Pendeta, yang dengannya saya merasa aman pada waktu itu. Ia menguatkan dan menghibur saya, sementara ibu pulang ke rumah dan menelpon ayah di kantor untuk menyampaikan kabar buruk kehamilan saya.

Nampaknya seperti mimpi. Pada waktu itu saya merasa nyaman bersama Pendeta yang tidak menyalahkan saya. Kami berdoa dan berbicara, dan saya mulai menerima dan mengerti jalan yang harus saya hadapi. Lantas saya melihat kilatan cahaya lampu mobil di jendela gereja.

Ibu telah kembali dari rumah untuk menjemput saya pulang, dan saya tahu ayah ada bersamanya di mobil. Saya begitu takut. Saya berlari ke ruang tengah dan masuk ke kamar mandi, menutup dan menguncinya dari dalam. Pendeta mengejar saya dan menegur saya.

"Michelle, kamu jangan berlaku begini. Kamu harus menemui ayahmu cepat atau lambat. Ia tidak akan pulang kalau tidak bersamamu. Ayolah!"

"Oke, tetapi pak Pendeta menemani saya ya? Saya takut?"

"Tentu saja, Michele. Tentu!" Saya membuka pintu dan pelan-pelan mengikuti Pendeta kembali ke ruang tengah pastori gereja. Ayah dan ibu masih belum masuk ruangan. Saya membayangkan mereka masih duduk di mobil di luar, memberi kesempatan kepada ayah untuk mempersiapkan diri apa yang harus ia katakan atau perbuat. Ibu mengetahui betapa saya ketakutan. Bukan takut diteriaki atau dimarahi ayah. Saya tidak pernah merasa takut kepada ayah. Yang saya takutkan adalah kesedihan di matanya. Saya merasa bersalah karena ketika saya ada dalam kesulitan, saya tidak datang meminta dukungannya. Yang saya tahu saya bukan lagi gadis kecil ayah yang membanggakannya.

Saya mendengar derap langkah kaki di jalan menuju pintu gereja. Bibir saya mulai bergetar, airmata saya mulai menetes di pelupuk mata, dan saya bersembunyi di balik Pendeta. Ibu masuk lebih dulu, dan menoleh kepada saya dengan tersenyum tipis. Mata Ibu terlihat bengkak karena airmatanya, dan saya bersyukur saya tidak melihat ibu menangis di depan saya. Lalu, datanglah ayah. Ia tidak menyalami Pendeta, langsung bergegas kepada saya, merangkul saya, mendekap saya di dadanya sambil berkata, "I love you. Saya mengasihimu, saya mengasihimu. Saya mengasihi bayi di kandunganmu juga."

Ia tidak menangis. Tidak, itu bukan tipe ayah saya. Namun saya merasakan tubuh ayah bergetar. Saya tahu, ayah membutuhkan penguasaan diri yang besar agar dirinya tak menangis, dan saya bangga terhadapnya, dan berterima kasih kepadanya juga. Ketika ia mendorong saya dan memandang saya, nampak di matanya kasih dan kebanggaan itu. Bahkan pada saat sulit sekalipun.

"Saya menyesal, Ayah! Saya mengasihi Ayah."

"Ayah tahu. Mari kita pulang." Dan ke rumah kami pulang. Semua ketakutan saya lenyap. Masih akan ada penderitaan dan pencobaan yang bahkan saya tak dapat bayangkan. Namun saya memiliki keluarga yang kokoh dan penuh kasih yang saya tahu akan selalu ada di sana bagi saya. Lebih dari segalanya, saya masih tetap gadis kecil ayah. Diperlengkapi dengan kesadaran itu, tak ada gunung tinggi yang tak akan dapat saya daki dan tak ada badai yang tidak dapat saya lewati, bersama mereka. Terima kasih, Ayah!

(Kisah Michelle Campbell yang dimuat di Chicken Soup 1999)
 
DI DALAM KASIH TIDAK ADA KETAKUTAN. SEORANG AYAH YANG BAIK AKAN MENYELIMUTI ANAK GADISNYA DENGAN KASIH DAN MENGUSIR SEGALA KETAKUTAN. DALAM KEADAAN APAPUN BIARLAH KITA INGAT, HIS BANNER OVER ME IS LOVE! ITU CUKUP BAGI KITA :)

Source     : jesusinspires.blogspot.com
Picture by : amillavtr.wordpress.com

Friday, February 10, 2012

LEGENDA TENTANG CINTA

Edward Wellman mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya di negerinya yang lama untuk mencari hidup yang lebih baik di Amerika. Ayahnya memberinya uang simpanan keluarga yang disembunyikan di dalam kantong kulit.

"Di sini keadaan sulit," katanya sambil memeluk putranya dan mengucapkan selamat tinggal.

"Kau adalah harapan kami."

Edward naik ke kapal lintas Atlantik yang menawarkan transport gratis bagi pemuda-pemuda yang mau bekerja sebagai penyekop batubara sebagai imbalan ongkos pelayaran selama sebulan. Kalau Edward menemukan emas di Pegunungan Colorado, keluarganya akan menyusul.

Berbulan-bulan Edward mengolah tanahnya tanpa kenal lelah. Urat emas yang tidak besar memberinya penghasilan yang pas-pasan namun teratur. Setiap hari ketika pulang ke pondoknya yang terdiri atas dua kamar, Edward merindukan dan sangat ingin disambut oleh wanita yang dicintainya.

Satu-satunya yang disesalinya ketika menerima tawaran untuk mengadu nasib ke Amerika adalah terpaksa meninggalkan Ingrid sebelum secara resmi punya kesempatan mendekati gadis itu. Sepanjang ingatannya, keluarga mereka sudah lama berteman dan selama itu pula diam-diam dia berharap bisa memperistri Ingrid. Rambut Ingrid yang ikal panjang dan senyumnya yang menawan membuatnya menjadi putri Keluarga Henderson yang paling cantik.

Edward baru sempat duduk di sampingnya dalam acara-acara piknik jemaat gereja dan mengarang alasan-alasan konyol untuk singgah di rumah gadis itu agar bisa betemu dengannya. Setiap malam sebelum tidur di kabinnya, Edward ingin sekali membelai rambut Ingrid yang pirang kemerahan dan memeluk gadis itu.

Akhirnya, dia menyurati ayahnya, meminta bantuannya untuk mewujudkan impiannya.

Kira-kira setahun kemudian, sebuah telegram datang mengabarkan rencana untuk membuat hidup Edward menjadi lengkap. Pak Henderson akan mengirimkan putrinya kepada Edward di Amerika. Putrinya itu suka bekerja keras dan punya intuisi bisnis. Dia akan bekerja sama dengan Edward selama setahun dan membantunya mengembangkan bisnis penambangan emas. Diharapkan, setelah setahun itu keluarganya akan mampu datang ke Amerika untuk menghadiri pernikahan mereka.

Hati Edward sangat bahagia. Dia menghabiskan satu bulan berikutnya untuk mengubah pondoknya menjadi tempat tinggal yang nyaman. Dia membeli ranjang sederhana untuk tempat tidurnya di ruang duduk dan menata bekas tempat tidurnya agar pantas untuk seorang wanita. Gorden dari bekas karung goni yang menutupi kotornya jendela diganti dengan kain bermotif bunga dari bekas karung terigu. Di meja samping tempat tidur dia meletakkan wadah kaleng berisi bunga-bunga kering yang dipetiknya di padang rumput.

Akhirnya, tibalah hari yang sudah dinanti-nantikannya sepanjang hidup. Dengan tangan membawa seikat bunga daisy segar yang baru dipetik, dia pergi ke stasiun kereta api. Asap mengepul dan roda-roda berderit ketika kereta api mendekat lalu berhenti. Edward melihat setiap jendela, mencari senyum dan rambut ikal Ingrid.

Jantungnya berdebar kencang penuh harap, kemudian terentak karena kecewa. Bukan Ingrid, tetapi Marta kakaknya, yang turun dari kereta api. Gadis itu berdiri malu-malu di depannya, matanya menunduk. Edward hanya bisa memandang terpana. Kemudian, dengan tangan gemetar diulurkannya buket bunga itu kepada Marta.

"Selamat datang," katanya lirih, matanya menatap nanar. Senyum tipis menghias wajah Marta yang tidak cantik.

Aku senang ketika Ayah mengatakan kau ingin aku datang ke sini," kata Marta, sambil sekilas memandang mata Edward sebelum cepat-cepat menunduk lagi.

"Aku akan mengurus bawaanmu," kata Edward dengan senyum terpaksa.

Bersama-sama mereka berjalan ke kereta kuda.

Pak Henderson dan ayahnya benar. Marta memang punya intuisi bisnis yang hebat. Sementara Edward bekerja di tambang, dia bekerja di kantor. Di meja sederhana di sudut ruang duduk, dengan cermat Marta mencatat semua kegiatan di tambang. Dalam waktu enam bulan, aset mereka telah berlipat dua.

Masakannya yang lezat dan senyumnya yang tenang menghiasi pondok itu dengan sentuhan ajaib seorang wanita. Tetapi bukan wanita ini yang kuinginkan, keluh Edward dalam hati, setiap malam sebelum tidur kecapekan di ruang duduk. Mengapa mereka mengirim Marta? Akankah dia bisa bertemu lagi dengan Ingrid?

Apakah impian lamanya untuk memperistri Ingrid harus dilupakannya? Setahun lamanya Marta dan Edward bekerja, bermain, dan tertawa bersama, tetapi tak pernah ada ungkapan cinta. Pernah sekali, Marta mencium pipi Edward sebelum masuk ke kamarnya. Pria itu hanya tersenyum canggung. Sejak itu, kelihatannya Marta cukup puas dengan jalan-jalan berdua menjelajahi pegunungan atau dengan mengobrol di beranda setelah makan malam.

Pada suatu sore di musim semi, hujan deras mengguyur punggung bukit, membuat jalan masuk ke tambang mereka longsor. Dengan kesal Edward mengisi karung-karung pasir dan meletakkannya sedemikan rupa untuk membelokkan arus air. Badannya lelah dan basah kuyup, tetapi tampaknya usahanya sia-sia. Tiba-tiba Marta muncul di sampingnya, memegangi karung goni yang terbuka. Edward menyekop dan memasukkan pasir ke dalamnya, kemudian dengan tenaga sekuat lelaki, Marta melemparkan karung itu ke tumpukan lalu membuka karung lainnya. Berjam-jam mereka bekerja dengan kaki terbenam lumpur setinggi lutut, sampai hujan reda. Dengan berpegangan tangan mereka berjalan pulang ke pondok.

Sambil menikmati sup panas, Edward mendesah,"Aku takkan dapat menyelamatkan tambang itu tanpa dirimu. Terima kasih, Marta."

"Sama-sama," gadis itu menjawab sambil tersenyum tenang seperti biasa, lalu tanpa berkata-kata dia masuk ke kamarnya.

Beberapa hari kemudian, sebuah telegram datang mengabarkan bahwa Keluarga Henderson dan Keluarga Wellman akan tiba minggu berikutnya. Meskipun berusaha keras menutup-nutupinya, jantung Edward kembali berdebar-debar seperti dulu karena harapan akan bertemu lagi dengan Ingrid. Dia dan Marta pergi ke stasiun kereta api.

Mereka melihat keluarga mereka turun dari kereta api di ujung peron. Ketika Ingrid muncul, Marta menoleh kepada Edward.

"Sambutlah dia," katanya.

Dengan kaget, Edward berkata tergagap, "Apa maksudmu?"

"Edward, sudah lama aku tahu bahwa aku bukan putri Henderson yang kauinginkan. Aku memperhatikan bagaimana kau bercanda dengan Ingrid dalam acara-acara piknik jemaat gereja." Dia mengangguk ke arah adiknya yang sedang menuruni tangga kereta. "Aku...aku tahu bahwa dia, bukan aku, yang kauinginkan menjadi istrimu."

"Ta..tapi..."


Marta meletakkan jarinya pada bibir Edward. "Ssstt," bisiknya. "Aku mencintaimu, Edward. Aku selalu mencintaimu. Karena itu, yang kuinginkan hanya melihatmu bahagia. Sambutlah adikku."

Edward mengambil tangan Marta dari wajahnya dan menggenggamnya. Ketika Marta menengadah, untuk pertama kalinya Edward melihat betapa cantiknya gadis itu. Dia ingat ketika mereka berjalan-jalan di padang rumput, ingat malam-malam tenang yang mereka nikmati di depan perapian, ingat ketika Marta membantunya mengisi karung-karung pasir. Ketika itulah dia menyadari apa yang sebenarnya selama berbulan-bulan telah diketahuinya.

"Tidak, Marta. Engkau-lah yang kuinginkan." Edward merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya dan mengecupnya dengan cinta yang tiba-tiba membuncah di dalam dadanya.

Keluarga mereka berkerumun mengelilingi mereka dan berseru-seru, "Kami datang untuk menghadiri pernikahan kalian!"

TRUE LOVE STARTS SOMEWHERE :)

Source       : Chicken Soup for the Couple's Soul
Picture by  :  carapedia.com