Kisah Kisah Kita

Showing posts with label Kisah kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Kisah kehidupan. Show all posts

Tuesday, October 10, 2017

MENULIS SURAT KE SURGA



Di sebuah kota kecil di Inggris, ada seorang pegawai kantor pos yang bernama Fleter. Dia adalah seorang pengantar surat yang handal, semua surat yang alamatnya kurang jelas atau tulisannya yang kabur begitu berada di tangannya, tidak ada sepucuk surat pun yang tidak tepat sasaran. Surat yang seharusnya berstatus mati (harus dikirim kembali ke pengirim) pun dapat menjadi surat hidup.

Setiap hari Fleter selalu pulang ke rumah dengan kegembiraan dan bertutur pada istrinya tentang penemuan barunya. Sehabis makan malam dia selalu menggandeng anak lelaki dan perempuannya ke halaman depan rumah untuk mendongeng. Begitu cerianya dia bagaikan seorang detektif yang ulung.

Akan tetapi pada suatu hari yang naas, anak lelakinya jatuh sakit, ia dilarikan ke rumah sakit untuk diselamatkan, namun tidak berhasil dan akhirnya meninggal dunia.

Sejak kejadian itu jiwa Fleter juga ikut mati, setiap hari dia pagi-pagi bangun dari tidur, bagaikan orang yang mimpi tidur berjalan pergi ke kantor, dia bekerja sambil membisu, sepulang dari kantor setibanya di rumah ia juga makan dengan bungkam seribu bahasa, dan ia selalu berada di atas ranjang saat hari masih sore. Hanya istrinya yang mengetahui bahwa setiap malam dilewati Fleter dengan hanya memandangi langit-langit, segala hiburan dan nasehat dari sanak keluarga tidak berguna sama sekali.

Hari Natal sudah dekat, suasana kegembiraan di sekitarnya masih tidak bisa mengurangi kepedihan dari keluarga ini. Anak perempuan Fleter yang bernama Maria bersama adiknya sungguh mendambakan tibanya hari besar ini, akan tetapi sekarang ia sudah tidak lagi mendambakannya, dia juga tidak ingin melewati hari besar itu lagi karena dia tahu di hari besar itu ayahnya akan lebih merindukan adiknya, dan akan lebih sedih.

Hari ini Fleter sedang di depan meja kerjanya memilah-milah surat, dia memungut sepucuk surat yang beramplop warna biru tua. Tertulis di situ dengan beberapa huruf besar : “Kirim ke Surga — Kepada Nenek”.

Saat itu dia berpikir, ini pastilah bukan sembarang orang yang mampu mengirim surat ini, meskipun Detektif Polo dari Belgia didatangkan kesini pun pasti akan kehabisan akal. Fleter menggeleng-gelengkan kepala sambil berpikir hendak mengesampingkan surat itu. Kemudian ia berpikir, tidak masalah jika dibuka untuk dilihat, mungkin ia bisa membantu. Lalu ia buka surat itu dan tulisan di dalamnya :

Nenek yang tercinta,

Adik telah meninggal dunia. Aku bersama ayah dan ibu sangat sedih. Ibu bilang, orang baik jika meninggal akan masuk surga, adik sekarang sedang bersama dengan Nenek di surga, apakah dia ada mainan? Kuda-kuda kayu adikku tidak berani aku tunggangi lagi, aku juga tidak bermain mainan balok kayu lagi, aku khawatir kalau sampai mainan-mainan itu terlihat oleh ayah, ayah akan bersedih hati.

Ayah sekarang ini, tidak pernah berbicara lagi. Aku senang mendengar dongeng ayah, tapi ayah tidak pernah mau bercerita lagi. Ada suatu waktu ibu menasehati ayah untuk tidak terlalu bersedih, ayah bilang, sekarang ini hanya Tuhan-lah yang mampu menolong diri-nya.

Nek, dimana Tuhan berada? Aku harus menemuiNya, aku ingin memohon kepadaNya untuk menolong ayahku keluar dari kepedihan ini, agar ayah berbahagia lagi, agar ayah mau berbicara dan bercerita lagi.

Cucumu, Maria.

Hari itu, pulang dari kantor, lampu jalanan sudah menyala. Fleter dengan langkah cepat pulang ke rumah, dia sudah tidak lagi memperhatikan bayangan dirinya berjalan, yang sebentar di depan, lalu menjadi di belakang, karena dia sudah berjalan dengan kepala tegak menatap ke depan. Dia menginjakkan kaki di atas tangga teras di depan pintu rumahnya, dan masuk ke rumah.

Dia tertawa seperti dulu terhadap istri dan anak perempuannya yang menyambut kedatangannya, pelan-pelan tersenyum, dan suasana kehangatan yang telah lama tidak mereka jumpai itu pun muncul kembali.

JANGAN TERLALU LAMA BERSEDIH KARENA KESEDIHAN TIDAK AKAN MENGUBAH APA-APA. JADIKAN SAAT-SAAT SULIT ANDA SEBAGAI PELUANG UNTUK MENJADIKAN ANDA SEBAGAI ORANG YANG KUAT!

IBU GURU TERBAIK




Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Enam belas tahun yang lalu, ada seorang ibu guru bernama Theresia berdiri di depan murid-murid kelas lima, sambil mengucapkan suatu kebohongan kepada murid-muridnya, dia mengatakan bahwa dia akan mencintai setiap anak didiknya tanpa pilih kasih!

Tetapi hal tersebut hanyalah ucapan belaka, karena di baris yang paling depan duduk seorang siswa bernama Teddy Sidharta. Seorang siswa yang dekil dan tidak rapi serta tidak perhatian di saat pelajaran.

Sesungguhnya ibu guru Theresia sangat senang jika bisa menggunakan pena merah besarnya untuk membubuhkan coretan silang besar di atas kertas ujian Teddy. Kemudian di sebelah atas dari kertas ujian itu ia tulis dengan kalimat ‘TIDAK LULUS’.

Namun..suatu hari, ketika ibu guru Theresia sedang membaca dan memeriksa buku catatan dan saran-saran setiap murid. Dia merasa sangat takjub terhadap komentar-komentar yang telah diberikan oleh para wali kelas Teddy sebelumnya.

Komentar dari guru wali kelas satu: “Teddy adalah anak yang pandai, raut wajahnya selalu membawa senyuman, pekerjaan rumahnya sangat rapi, sangat berbudi bahasa, dia membuat orang-orang yang berada di sekitarnya menjadi senang!”

Komentar yang ditulis oleh guru wali kelas dua berbunyi: “Teddy adalah siswa yang terbaik. Teman-teman sekelasnya sangat menyukai dirinya. Tetapi ibu Teddy terjangkit penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Kehidupan yang harus dia jalani di rumah dapat dipastikan sangatlah sulit.”

Guru wali kelas tiga berkomentar: “Kematian ibunya telah memberikan pukulan yang sangat berat bagi Teddy. Dia berupaya keras menunjukkannya, akan tetapi ayahnya tidak terlalu memperhatikannya. Jika tidak mengambil suatu tindakan, maka kehidupan dalam keluarga akan segera mempengaruhinya.”

Guru wali kelas empat menulis: “Teddy mulai mengalami kemunduran. Dia tidak berminat sekolah. Dia tidak memiliki teman lagi. Sering kali tidur di dalam kelas.”

Sampai di sini, ibu guru Theresia, wali kelas Teddy, baru mengerti duduk permasalahannya. Dia merasa sangat malu sekali. Yang lebih membuat ibu guru Theresia merasa sedih adalah, pada saat perayaan hari Natal, dia telah menerima bingkisan hadiah natal dari para muridnya yang dibungkus dan diikat dengan pita yang sangat indah, kecuali bingkisan hadiah natal dari Teddy yang terbungkus kertas coklat biasa yang dibeli dari toko kelontong dan diikat dengan tali rafia.

Ibu guru Theresia menahan kesedihan dalam hatinya, membuka hadiah bingkisan Teddy di depan teman-teman seluruh kelas. Bungkusan itu ternyata berisi seutas gelang tangan dengan hiasan berlian palsu, dan di atas gelang tangan itu masih terdapat beberapa batu berlian yang tanggal. Selain itu masih ada sebotol minyak wangi yang hanya tinggal seperempat botol saja.

Ada sebagian murid mulai mengejek bingkisan hadiah dari Teddy. Tetapi ibu guru Theresia tidak hanya memuji keindahan gelang tangan itu, dia juga mengenakan gelang tersebut di tangannya, serta menyemprotkan sedikit minyak wangi di atas pergelangan tangannya.

Hari itu setelah usai sekolah, Teddy tidak segera pulang, dia tinggal paling akhir dan berkata kepada ibu guru Theresia, “Ibu guru, hari ini Anda harum persis seperti ibu saya!”

Menunggu setelah Teddy pergi, ibu guru Theresia menangis hampir satu jam lamanya. Sejak saat itu, ibu guru Theresia tidak lagi ‘mengajar’. Dia tidak mengajar pelajaran membaca, tidak mengajar pelajaran menulis, juga tidak mengajar pelajaran berhitung, akan tetapi dia mulai mengajarkan pelajaran cara-cara mendidik anak.

Ibu guru Theresia mulai memperhatikan Teddy secara khusus. Sepertinya Teddy telah bangkit kembali dari keterpurukan. Ibu guru Theresia semakin menyemangati Teddy, reaksinya semakin cepat. Sampai pada akhir tahun ajaran, Teddy sudah menjadi salah satu anak yang paling pandai di dalam kelas. Walaupun ibu guru Theresia berkata dia akan menyayangi setiap anak asuh dengan sama rata, namun Teddy adalah murid yang paling dia sayangi.

Satu tahun kemudian, ibu guru Theresia menemukan secarik kertas di pinggir pintu, tulisan dari Teddy. Kertas itu mengatakan, ibu guru Theresia adalah ibu guru terbaik yang pernah dia temui selama hidupnya!

Enam tahun kemudian, ibu guru Theresia menerima lagi secarik kertas tulisan dari Teddy. Dia mengatakan bahwa dia sudah lulus SMA, nilai rapornya rangking tiga dari seluruh kelas. Dan ibu guru Theresia masih tetap adalah ibu guru terbaik yang pernah dia jumpai selama hidupnya!

Setelah lewat empat tahun, ibu guru Theresia menerima lagi surat dari Teddy, dia mengatakan bahwa kehidupan di dalam kampus sangat sulit, tetapi dia masih tetap mempertahankan. Dan tidak lama lagi dia akan lulus dengan mendapatkan gelar sarjana terbaik dari universitasnya, dan ibu guru Theresia masih tetap guru yang terbaik yang pernah dia jumpai selama hidupnya, juga merupakan ibu guru yang paling dia sayangi.

Lewat empat tahun kemudian, datang sepucuk surat lagi. Kali ini Teddy memberitahukan bahwa setelah lulus dari universitas, ia akan melanjutkan sekolah untuk mengambil gelar yang lebih tinggi. Dalam suratnya tak lupa dia menuliskan ibu guru Theresia masih tetap adalah ibu guru yang terbaik dan paling dia sayangi selama hidupnya. Pada bubuhan tanda tangan pada akhir surat ini terdapat tulisan yang lebih panjang yaitu : Doktor dokter Teddy Sidharta.

Sampai di sini kisahnya masih belum habis. Coba Anda lihat, pada musim semi tahun ini, datang lagi sepucuk surat. Teddy mengatakan dia telah menjumpai wanita pendamping hidupnya, dia akan menikah. Dia menjelaskan bahwa ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu, oleh karena itu dia berharap ibu guru Theresia mau menghadiri upacara pernikahannya, serta bersedia duduk di tempat yang disediakan bagi ibu dari mempelai pria.

Ibu guru Theresia mengabulkan harapan Teddy. Akan tetapi tahukah Anda? Di dalam upacara pernikahan itu, di luar dugaan Teddy, sang ibu guru Theresia mengenakan gelang tangan yang berhiaskan berlian palsu dan menyemprotkan minyak wangi yang diberikan Teddy pada saat perayaan Natal enam belas tahun yang lalu. Dalam ingatan Teddy, minyak wangi tersebut adalah yang dipakai ibunya pada saat perayaan Natal terakhir bersamanya.

Di saat mereka saling berpelukan, Doktor dokter Teddy Sidharta membisikan dengan lirih di pinggir telinga ibu guru Theresia, ”Ibu Theresia, terima kasih Anda telah mempercayai saya. Terima kasih Anda telah membuat saya merasakan pentingnya diri sendiri, membuat saya yakin memiliki kemampuan untuk berubah!”

Dengan berlinangan air mata ibu guru Theresia juga berkata lirih, “Teddy, dirimu keliru! Adalah dirimu sendiri yang telah membimbing ibu, membuat ibu yakin memiliki kemampuan untuk berubah. Karena pada saat ibu menjumpai dirimu, ibu baru mengerti bagaimana harus mengajar!”

KEBAIKAN..PERHATIAN DAN KASIH SAYANG AKAN SELALU DIINGAT..DAN AKAN MENJADI KENANGAN YANG TAK TERLUPAKAN SELAMANYA

Sumber : erabaru.net

Thursday, October 16, 2014

NASEHAT PALING BERHARGA DARI MENDIANG CHARLIE CHAPLIN KEPADA PUTRINYA

Charlie Chaplin (16 April 1889 – 25 Desember 1977)  adalah seorang aktor komedi Inggris multi-talent yang sangat terkenal dalam sejarah Hollywood di era film hitam putih.


Selain berakting Chaplin juga memiliki kemampuan menyutradara, menulis naskah, sekaligus mengisi ilustrasi musik di film-film produksinya sendiri. Masa kecilnya yang dekat dengan kemiskinan dan kemelaratan tidak lantas menjadikannya patah semangat.

Chaplin kecil pernah tinggal di rumah penampungan orang miskin, bekerja untuk imbalan makan dan tempat berteduh di kawasan Lambeth, London. Bersama saudara perempuannya Sydney Chaplin, Chaplin berjuang bahu-membahu agar bisa bertahan hidup.


Di usianya yang sangat dini Chaplin sudah mulai berakting dari panggung ke panggung dalam pertunjukan komedi Music Hall.

Sampai kemudian Chaplin bergabung dengan kelompok komedi slapstik Fun Factory di bawah asuhan Fred Karno, yang membawanya mengenal seorang produser film bernama Mack Sennett yang terkesan dengan akting Chaplin.

Sennett lalu mengontrak Chaplin untuk bermain dalam film-film yang diproduksi studio Keystone Film. Boleh dikatakan inilah awal karir Chaplin di dunia perfilman sekaligus mengenal teknik pembuatan film.


Ringkasan surat wasiat Charlie Chaplin kepada putrinya Geraldine Chaplin :

Geraldine putriku, aku jauh darimu, namun sekejap pun wajahmu tidak pernah jauh dari benakku. Tapi kau dimana? Di Paris di atas panggung teater megah... aku tahu ini bahwa dalam keheningan malam, aku mendengar langkahmu. Aku mendengar peranmu di teater itu, kau tampil sebagai putri penguasa yang ditawan oleh bangsa Tartar.

Geraldine, jadilah kau pemeran bintang namun jika kau mendengar pujian para pemirsa dan kau mencium harum memabukkan bunga-bunga yang dikirim untukmu, waspadailah.

Duduklah dan bacalah surat ini... aku adalah Ayahmu. Kini adalah giliranmu untuk tampil dan menggapai puncak kebanggaan. Kini adalah giliranmu untuk melayang ke angkasa bersama riuh suara tepuk tangan para pemirsa.

Terbanglah ke angkasa namun sekali-kali pijakkan kakimu di bumi dan saksikanlah kehidupan masyarakat. Kehidupan yang mereka tampilkan dengan perut kosong kelaparan di saat kedua kaki mereka bergemetar karena kemiskinan. Dulu aku juga salah satu dari mereka.

Geraldine putriku, kau tidak mengenalku dengan baik. Pada malam-malam saat jauh darimu aku menceritakan banyak kisah kepadamu namun aku tidak pernah mengungkapkan penderitaan dan kesedihanku.

Ini juga kisah yang menarik. Cerita tentang seorang badut lapar yang menyanyi dan menerima sedekah di tempat terburuk di London.

Ini adalah ceritaku. Aku telah merasakan kelaparan. Aku merasakan pedihnya kemiskinan. Yang lebih parah lagi, aku telah merasakan penderitaan dan kehinaan badut gelandangan itu yang menyimpan gelombang lautan kebanggaan dalam hatinya.

Aku juga merasakan bahwa uang recehan sedekah pejalan kaki itu sama sekali tidak meruntuhkan harga dirinya. Meski demikian aku tetap hidup.

Geraldine putriku, dunia yang kau hidup di dalamnya adalah dunia seni dan musik. Tengah malam saat kau keluar dari gedung teater itu, lupakanlah para pemuja kaya itu.

Tapi kepada sopir taksi yang mengantarmu pulang ke rumah, tanyakanlah keadaan istrinya. Jika dia tidak punya uang untuk membeli pakaian untuk anaknya, sisipkanlah uang di sakunya secara sembunyi-sembunyi.

Geraldine putriku, sesekali naiklah bus dan kereta bawah tanah. Perhatikanlah masyarakat. Kenalilah para janda dan anak-anak yatim dan paling tidak untuk satu hari saja katakan: "Aku juga bagian dari mereka".

Pada hakikatnya kau benar-benar seperti mereka. Seni sebelum memberikan dua sayap kepada manusia untuk bisa terbang, ia akan mematahkan kedua kakinya terlebih dahulu.

Ketika kau merasa sudah berada di atas angin, saat itu juga tinggalkanlah teater dan pergilah ke pinggiran Paris dengan taksimu.

Aku mengenal dengan baik wilayah itu. Di situ kau akan menyaksikan para seniman sepertimu. Mereka berakting lebih indah dan lebih menghayati daripada kamu.

Bedanya di situ tidak akan kau temukan gemerlap lampu seperti di teatermu. Ketahuilah bahwa selalu ada orang yang berakting lebih baik darimu.

Geraldine putriku, aku mengirimkan cek ini untukmu, belanjakanlah sesuka hatimu. Namun ketika kau ingin membelanjakan dua franc, berpikirlah bahwa franc ketiga bukan milikmu.

Itu adalah milik seorang miskin yang memerlukannya. Jika kau menghendakinya, kau dapat menemukan orang miskin itu dengan sangat mudah. Jika aku banyak berbicara kepadamu tentang uang, itu karena aku mengetahui kekuatan ‘anak setan' ini dalam menipu.

Geraldine putriku, masih ada banyak hal yang akan aku ceritakan kepadamu, namun aku akan menceritakannya di kesempatan lain.

Dan aku akhiri suratku ini dengan,

"Jadilah manusia, suci dan satu hati, karena lapar, menerima sedekah, dan mati dalam kemiskinan, seribu kali lebih mudah dari pada kehinaan dan tidak memiliki perasaan".

Surat wasiat seorang Ayah kepada putrinya ini sungguh berharga, tidak berupa harta benda tetapi sebuah pesan penuh makna yang lebih berharga dari harta manapun di dunia ini.

SEBUAH PESAN TERAKHIR DARI SANG AYAH YANG MENGINGATKAN PUTRINYA UNTUK SENANTIASA BERBAGI DAN RENDAH HATI, KARENA TIDAK SEMUA ORANG MEMILIKI NASIB SEBERUNTUNG ANAKNYA.


Source : apakabardunia.com

Wednesday, October 15, 2014

KISAH JIM CARREY

Jim Carrey dilahirkan di keluarga yang ‘kurang beruntung’. Ayahnya seorang pemain saksofon. Ayahnya memiliki cita-cita untuk menjadi artis bersama band yang ia rintis bersama teman-temannya.

Sayangnya, ayah Jim Carrey harus menghapus cita-citanya karena dia menghadapi keadaan ekonomi yang buruk, sehingga dia menjadi seorang akuntan.

Ibu dari Jim Carrey adalah wanita yang menarik dan penuh kasih. Tapi sungguh malang ia kemudian menderita penyakit hipokondria (depresi jiwa yang terjadi karena imajinasi semata).

Setiap hari Jim melakukan gerakan-gerakan yang lucu untuk menghibur ibunya dan membuatnya tertawa. Namun Jim tidak melakukannya di sekolah karena dia terkenal sebagai seorang pemalu.

Suatu hari Jim merenung, ia berpikir bahwa apa yang dia lakukan untuk ibunya bisa dijadikan alat untuk menarik perhatian teman-temannya di sekolah. Benar saja saat istirahat sekolah Jim mulai mempraktekkan apa yang biasa dilakukan di depan ibunya dan teman-temannya terhibur.

Karena kebiasaannya melucu dan membuat kelasnya tertawa, gurunya sampai memberikan jatah istirahat 15 menit lebih awal untuknya asalkan ia mau menjaga ketenangan kelas saat pelajaran berlangsung.

Ayah Jim tiba-tiba diberhentikan dari pekerjaannya sebagai akuntan dan membuat kondisi ekonomi keluarga Jim semakin berat. Mereka mau tidak mau menjual barang-barang yang mereka miliki. Rumah tinggal pun ikut dijual. Jim harus berhenti sekolah di usia yang baru 16 tahun.

Jim sekeluarga berangkat ke Toronto. Di sana, ayah Jim bekerja serabutan. Mereka tinggal di dalam mobil Van yang mereka miliki. Akhirnya Jim mendapat kesempatan untuk bekerja di salah satu klub komedi.

Jim bukannya mendapat pujian, ia mendapat cemoohan. Namun Jim belajar ilmu baru dari kejadian tersebut. Jim belajar bahwa orang-orang di sana menyukai gaya Jim yang menirukan orang lain seperti pejabat, artis, dll. Jim menggunakan ilmu yang ia pelajari untuk terus berkeliling dari satu klub ke klub lainnya.

Jim sadar akan bakat dan potensi yang ia miliki, lalu ia pindah ke Los Angeles. Ia mulai mencari klub disana dan menawarkan diri untuk bekerja disana sebagai komedian. Ia mulai bekerja dan mendapat penghasilan sebesar $1000/bulan yang ia gunakan untuk membayar penginapan tempat dimana ia tinggal.

Satu kali Rodney Dagerfield menyaksikan aksi Jim. Jim ditawari untuk penampilan rutin dengan bayaran yang lebih tinggi. Hidupnya pun mulai berubah. Sampai pada satu hari Jim mulai merenung kembali tentang apa yang ia jalani selama ini. Ia sadar betul bahwa aksi andalannya hanya menirukan gaya orang lain. Dia tidak menjadi dirinya sendiri.

Ia mulai melakukan komedi dengan gayanya sendiri. Lalu Rodney berkata pada Jim, “Mereka menganggapmu aneh Jim”. Kontrak kerjanya diputus dan Jim mulai mencari pekerjaan kembali. Ia berkeliling kota untuk menemukan pekerjaan. Akhirnya Jim mendapatkan peran kecil disebuah komedi berjudul “The Duct Factory” pada usia 22 tahun.

Sampai Jim usia 25 tahun tidak ada perubahan apapun dalam hidupnya. Saat Jim berusia 26 tahun Jim diberi peran oleh Damon Wayans di sebuah sketsa komedi yang berjudul “Living Color”. Melihat penampilannya disana Jim ditawari untuk mengisi peran di sebuah film baru yaitu Ace Ventura. Jim menolak karena tidak sesuai dengan keinginannya untuk menampilkan ciri khas komedi Jim.

Selang beberapa tahun, Jim menerima tawaran menjadi Ace Ventura. Ia bebas memodifikasi naskah film untuk disesuaikan dengan karakternya. Empat bulan waktu yang dihabiskan oleh Jim untuk memodifikasi naskah film. Jim menerima bayaran sebesar $12 juta dan produser film sudah pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Jim.

Setelah diproduksi Ace Ventura menjadi film HITS. Uang yang dihasilkan lebih dari $70 juta (sangat tinggi untuk ukuran film komedi saat itu), Itulah awalnya, di usia 34 tahun, Jim Carrey mulai menjadi salah satu ‘bintang’ seperti yang ia cita-citakan sebelumnya.
 

JANGAN TAKUT UNTUK BERMIMPI BESAR, SEMUANYA ITU BERAWAL DARI HAL KECIL YANG TERUS DIKEMBANGKAN MENJADI BESAR DAN MENJADI SANGAT BESAR.

Friday, September 26, 2014

FILOSOFI HEDGEHOG

Hari itu, adalah musim salju yang paling ekstrim di Canada. Banyak binatang yang mati akibat rasa dingin yang teramat sangat. 

Di suatu daerah, tinggal sekelompok Hedgehog (sejenis landak). Mereka memutuskan untuk tinggal secara berkelompok di dalam sebuah gua, agar tetap hangat. Mereka mendekatkan diri satu sama lain. Namun ketika mulai berdekatan, duri-duri mereka melukai teman-teman terdekat mereka.


Setelah beberapa saat, mereka pun memutuskan untuk menjaga jarak satu sama lainnya. Akibatnya, mereka mulai merasakan dingin yang membeku, dan akhirnya terancam mati. Jadi mereka harus memutuskan: menerima duri-duri temannya, atau mati!


Secara bijaksana, mereka memutuskan untuk kembali bersatu. Mereka pun belajar untuk hidup dengan luka-luka kecil akibat jarak yang sangat dekat dengan sahabat-sahabatnya supaya dapat merasakan kehangatan. Cara inilah yang membuat mereka akhirnya selamat dan bisa bertahan hidup.

HUBUNGAN TERBAIK DALAM HIDUP INI BUKANLAH HUBUNGAN ORANG-ORANG SEMPURNA. TETAPI KETIKA SEMUA INDIVIDU BELAJAR HIDUP DENGAN KETIDAKSEMPURNAAN ORANG LAIN, SERTA MAMPU SALING MEMBERI KEHANGATAN, MAKA HIDUP KITA AKAN MENJADI LEBIH BERMAKNA DAN MAMPU BERTAHAN DALAM SITUASI SESULIT APAPUN.

Monday, May 5, 2014

ODOL DARI SURGA

Kisah nyata dari seseorang yang dalam episode hidupnya sempat ia lewati dalam penjara. Bermula dari hal yang sepele. Lelaki itu kehabisan odol dipenjara. 

Malam itu adalah malam terakhir bagi odol diatas sikat giginya. Tidak ada sedikitpun odol yang tersisa untuk esok hari. Dan ini jelas-jelas sangat menyebalkan. Istri yang telat berkunjung, anak-anak yang melupakannya dan diabaikan oleh para sahabat, muncul menjadi kambing hitam yang sangat menjengkelkan. 

Sekonyong-konyong lelaki itu merasa sendirian, bahkan lebih dari itu : tidak berharga! Tertutup bayangan hitam yang kian membesar dan menelan dirinya itu, tiba-tiba saja pikiran nakal dan iseng muncul. Bagaimana jika ia meminta odol pada Tuhan?


Berdoa untuk sebuah kesembuhan sudah berkali-kali kita dengar mendapatkan jawaban dari-Nya. Meminta dibukakan jalan keluar dari setumpuk permasalahanpun bukan suatu yang asing bagi kita. Begitu pula dengan doa-doa kepada orang tua yang telah berpulang, terdengar sangat gagah untuk diucapkan. Tetapi meminta odol kepada Sang Pencipta jutaan bintang gemintang dan ribuan galaksi, tentunya harus dipikirkan berulang-ulang kali sebelum diutarakan. Sesuatu yang sepele dan mungkin tidak pada tempatnya. Tetapi apa daya, tidak punya odol untuk esok hari –entah sampai berapa hari- menjengkelkan hatinya amat sangat. Amat tidak penting bagi orang lain, tetapi sangat penting bagi dirinya.


Maka dengan tekad bulat dan hati yang dikuat-kuatkan dari rasa malu, lelaki itu memutuskan untuk mengucapkan doa yang ia sendiri anggap gila itu. Ia berdiri ragu-ragu di pojok ruangan sel penjara, dalam temaram cahaya, sehingga tidak akan ada orang yang mengamati apa yang ia lakukan. Kemudian dengan cepat, bibirnya berbisik : "Tuhan, Kau mengetahuinya aku sangat membutuhkan benda itu". Doa selesai. Wajah lelaki itu tampak memerah. Terlalu malu bibirnya mengucapkan kata amin. Dan peristiwa itu berlalu demikian cepat, hingga lebih mirip dengan seseorang yang berludah di tempat tersembunyi. Tetapi walaupun demikian ia tidak dapat begitu saja melupakan insiden tersebut. Sore hari diucapkan, permintaan itu menggelisahkannya hingga malam menjelang tidur. Akhirnya, lelaki itu – walau dengan bersusah payah - mampu melupakan doa sekaligus odolnya itu.


Tepat tengah malam, ia terjaga oleh sebuah keributan besar di kamar selnya.


"Saya tidak bersalah Pak!!!", teriak seorang lelaki gemuk dengan buntalan tas besar dipundak, dipaksa petugas masuk ke kamarnya," Demi TUHAN Pak !!! Saya tidak salah !!! Tolong Pak…Saya jangan dimasukin ke sini Paaaaaaaaak. .!!!"


Sejenak ruangan penjara itu gaduh oleh teriakan ketakutan dari "tamu baru" itu.


"Diam!!", bentak sang petugas,"Semua orang yang masuk keruangan penjara selalu meneriakkan hal yang sama!! Jangan harap kami bisa tertipu!!!!"


"Tapi Pak…Sssa.."


Brrrraaaaang !!!!


Pintu kamar itu pun dikunci dengan kasar. Petugas itu meninggalkan lelaki gemuk dan buntalan besarnya itu yang masih menangis ketakutan. Karena iba, lelaki penghuni penjara itupun menghampiri teman barunya. Menghibur sebisanya dan menenangkan hati lelaki gemuk itu. Akhirnya tangisan mereda, dan karena lelah dan rasa kantuk mereka berdua pun kembali tertidur pulas.



Pagi harinya, lelaki penghuni penjara itu terbangun karena kaget. Kali ini karena bunyi tiang besi yang sengaja dibunyikan oleh petugas. Ia terbangun dan menemukan dirinyanya berada sendirian dalam sel penjara. Lho mana Si Gemuk, pikirnya. Apa tadi malam aku bemimpi ? Ah masa iya, mimpi itu begitu nyata ?? Aku yakin ia disini tadi malam. "Dia bilang itu buat kamu !!", kata petugas sambil menunjuk ke buntalan tas dipojok ruangan. Lelaki itu segera menoleh dan segera menemukan benda yang dimaksudkan oleh petugas. Serta merta ia tahu bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.


"Sekarang dia dimana Pak ?", tanyanya heran.


"Ooh..dia sudah kami bebaskan, dini hari tadi…biasa salah tangkap !", jawab petugas itu enteng, "saking senangnya orang itu bilang tas dan segala isinya itu buat kamu".


Petugas pun ngeloyor pergi.


Lelaki itu masih ternganga beberapa saat, lalu segera berlari kepojok ruangan sekedar ingin memeriksa tas yang ditinggalkan Si Gemuk untuknya.


Tiba-tiba saja lututnya terasa lemas. Tak sanggup ia berdiri. "Ya..TUHAAANNN !!!!", laki-laki itu mengerang. Ia tersungkur dipojok ruangan, dengan tangan gemetar dan wajah basah oleh air mata. Lelaki itu bersujud disana, dalam kegelapan sambil menangis tersedu-sedu. Disampingnya tergeletak tas yang tampak terbuka dan beberapa isinya berhamburan keluar. Dan tampaklah lima kotak odol, sebuah sikat gigi baru, dua buah sabun mandi, tiga botol sampo, dan beberapa helai pakaian sehari-hari.


Kisah tersebut sungguh-sunguh kisah nyata. Sungguh-sungguh pernah terjadi. Dan aku mendengarnya langsung dari orang yang mengalami hal itu. Semoga semua ini dapat menjadi tambahan bekal ketika kita meneruskan berjalan menempuh kehidupan kita masing-masing.

SAAT KITA MERASA JALAN DIHADAPAN KITA SEOLAH TERPUTUS. SEMENTARA HARAPAN SEAKAN MENGUAP DIGANTI DERU KETAKUTAN, KEBIMBANGAN DAN PUTUS ASA..DENGAN DOA-DOA YANG TULUS AKAN SANGAT MEMBANTU PERJALANAN HIDUP KITA.

Source : jawaban.com (Made Teddy Artiana, S.Kom)

Thursday, May 31, 2012

SHARE AND BE HAPPY

Alkisah, ada seorang anak kelas 5 SD bernama Adi. Setiap hari, Adi tiba di sekolah pagi-pagi sekali. Biasanya saat ia datang, belum ada satu pun teman sekelasnya yang datang.

Suatu hari, saat istirahat, Adi terkejut melihat bekal yang dibawanya dari rumah berkurang separuh . “Siapakah gerangan yang mengambil bekalku?” batinnya dalam hati sambil mengitarkan pandangan curiga ke seputar kelas.

Sepulang dari sekolah, diceritakan kasus bekal yang hilang kepada ibunya. “Ibu tidak lupa menyiapkan bekal untukku sebanyak dua potong kan?” tanya Adi penasaran.

“Iya, Ibu ingat sekali menyiapkan bekalmu dua potong, bukan sepotong,” jawab ibu Adi meyakinkan.

Seminggu kemudian, saat kembali ke kelas, tanpa sengaja, Adi terkejut melihat penjaga sekolah mengendap-endap memasuki kelas yang masih kosong. Dia membuka tas Adi dan mengambil sepotong bekalnya. Kemudian bergegas pergi dengan muka tampak tertekan dan murung.

Sepulang dari sekolah, Adi menceritakan kejadian itu kepada ibunya.

“Ibu, ternyata pencurinya si penjaga sekolah. Apa yang harus Adi lakukan, Bu? Kalau Adi laporkan ke wali kelas atau kepala sekolah, dia pasti diberi sanksi, bahkan mungkin dikeluarkan dari sekolah. Kasihan kan, Bu. Walaupun orangnya baik, tapi yang diperbuat kan salah”.

Dengan tersenyum sayang, ibunya menjawab,

“Saran ibu, jangan dilaporkan dulu ke sekolah. Ibu kenal baik keluarga penjaga sekolahmu itu. Dia bukan penjahat. Pasti karena terpaksa dia mengambil setengah bekalmu. Dan masih berbaik hati meninggalkan setengahnya untuk Adi agar Adi tidak kelaparan. Begini saja, besok akan Ibu siapkan bekal lebih banyak, dua kali dari biasanya. Adi berikan sebungkus kepada penjaga sekolah. Cukup berikan saja, tidak perlu menegur atau berkata apapun kepadanya. Kita lihat apa reaksinya, setuju?”

Keesokan harinya, Adi menemui penjaga sekolah dan menyerahkan sebungkus bekal. Penjaga sekolah terkejut sesaat, wajahnya pucat dan takjub. Dengan tangan gemetar, diterimanya bingkisan itu. Tampak matanya berkaca-kaca.

Sambil terbata-bata dia berkata,

“Terima kasih, terima kasih Nak. Bapak minta maaf telah mengambil setengah jatah bekal Nak Adi. Bapak sungguh menyesal dan dihantui perasaan bersalah. Bapak lakukan karena terpaksa. Anak bapak sakit, sedangkan uang kami tidak cukup untuk membeli makanan karena istri bapak memerlukan biaya untuk melahirkan. Mohon maafkan Bapak, Nak. Bapak berjanji tidak akan mengulanginya. Dan terima kasih karena tidak melaporkan kepada pihak sekolah sehingga Bapak masih bisa bekerja. Sampaikan permintaan maaf dan terima kasih kami pada ibumu. Sungguh beliau seorang ibu yang baik dan bijak”.

Sambil mengangguk senang, Adi meninggalkan penjaga sekolahnya.

Teman-teman yang luar biasa, kesalahan, walau dengan alasan apapun, tidak akan menjadi benar. Mau menyadari, mengakui kesalahan, dan meminta maaf adalah sebuah kebesaran jiwa. Dan berjanji untuk tidak mengulangi adalah kebijaksanaan tertinggi.

Sebaliknya, bisa memaafkan orang yang bersalah kepada kita bahkan rela memberi bantuan dan menyadarkannya, bukan hanya damai di hati tetapi sekaligus menunjukkan kita, manusia, sebagai makhluk yang ber-Tuhan.

MAKA JELAS SEKALI, JIKA BISA BERBAGI, KITA AKAN BAHAGIA.  SHARE AND BE HAPPY :)

Source :  alwaysclickme.blogspot.com (Andrie Wongso)

Wednesday, May 30, 2012

PERTEMUAN KAKAK-ADIK SETELAH 40 TAHUN

Betapa bahagianya Ken Whitty. Pria 65 tahun itu bersua lagi dengan adiknya, Yvonne, setelah terpisah sangat lama, 40 tahun lebih.

Yang tak disangka-sangka, ternyata selama ini mereka bertetangga, bahkan sering bertatap muka. Tak ada yang menyadari, ternyata mereka bertalian darah.

Seperti dilansir Daily Mail, menurut Whitty, kedua orang tuanya meninggal ketika dia dan adiknya masih remaja.

Mereka lalu tinggal terpisah karena ditampung dua keluarga berbeda. Tapi, saat itu mereka masih bisa berhubungan karena saling mengetahui tempat tinggal satu sama lain.

Namun, pada 1970, ketika Whitty berkunjung ke rumah tempat adiknya ditampung, yang dia temukan hanya reruntuhan.

Keluarga adiknya telah pindah entah ke mana. Sejak itu mereka benar-benar terpisah dan baru reuni kembali 40 tahun kemudian. Ketika masing-masing telah berkeluarga dan mempunyai anak.

Ketika masih terpisah, berkali-kali Whitty mencari keberadaan adiknya, namun tak pernah berhasil. ''Saya kira segera bertemu, tapi waktu terus merambat, keinginan itu tak pernah terjadi,'' katanya.

Nah, ketika Natal lalu, dia merasa harus berbuat sesuatu. ''Ini hari Natal. Saya sekarang berusia 65, saya harus menemukannya tahun ini," katanya dalam hati.

Lalu, dia memasang iklan di harian lokal. Berharap adiknya membaca atau setidaknya ada orang yang tahu di mana keberadaannya. Selang beberapa waktu, teleponnya berbunyi.

''Hallo, Ini Yvonne,'' bunyi suara dari seberang.

Whitty kaget. Dia serasa tak percaya, lalu dia menanyakan di mana si pemilik suara itu tinggal.

''Reddish'' jawabnya.

Ditanya lagi, ''Tepatnya di mana.''

Suara di seberang itu menjawab, ''North Reddish''.

Dia tambah kaget, sebab itu juga tempat tinggalnya.

''Ternyata kami tinggal hanya berjarak 300 yard (275 meter). Saya pun langsung pergi menemuinya. Sangat menakjubkan," katanya senang.

SUNGGUH AJAIB..SALING BERTETANGGA DAN TIDAK SALING MENGENAL, TERNYATA KAKAK-ADIK!  IYA..TUHAN MEMANG BAIK..DAN SEGALA SESUATU AKAN INDAH PADA WAKTUNYA :)

Source      : forum.kompas.com
Picture by : noveloke.com

Sunday, May 27, 2012

DERMAWAN RAHASIA

Sebagai seorang supir selama beberapa tahun di sekitar awal tahun 1910-an, ayahku menyaksikan majikannya yang kaya raya secara diam-diam memberikan uang kepada banyak orang, dan sadar bahwa mereka tidak akan pernah mampu mengembalikan uang itu.

Ada satu cerita yang menonjol dalam kenanganku di antara banyak cerita yang disampaikan ayahku kepadaku. Pada suatu hari, ayahku mengantar majikannya ke sebuah kota lain untuk menghadiri sebuah pertemuan bisnis. Sebelum masuk ke kota itu, mereka berhenti untuk makan sandwich sebagai ganti santap siang.

Ketika mereka sedang makan, beberapa orang anak lewat, masing-masing menggelindingkan sebuah roda yang terbuat dari kaleng. Salah seorang di antara anak-anak itu pincang. Setelah memperhatikan lebih dekat, majikan ayahku tahu bahwa anak itu menderita club foot. Ia keluar dari mobil dan menghentikan anak itu.

"Apakah kakimu membuatmu susah?" tanya orang itu kepada si anak.

"Ya, lariku memang terhambat karenanya," sahut anak itu.

"Dan aku harus memotong sepatuku supaya agak enak dipakai. Tapi aku sudah ketinggalan. Buat apa tanya-tanya? "

"Mm, aku mungkin ingin membantu membetulkan kakimu. Apakah kamu mau?"

"Tentu saja," jawab anak itu. Anak itu senang tetapi agak bingung menjawab pertanyaan itu.

Pengusaha sukses itu mencatat nama si anak lalu kembali ke mobil. Sementara itu, anak itu kembali menggelindingkan rodanya menyusul teman-temannya.

Setelah majikan ayahku kembali ke mobil, ia berkata,

"Woody, anak yang pincang itu... namanya Jimmy. Umurnya delapan tahun. Cari tahu di mana ia tinggal lalu catat nama dan alamat orang tuanya. "

Ia menyerahkan kepada ayahku secarik kertas bertuliskan nama anak tadi.

"Datangi orang tua anak itu siang ini juga dan lakukan yang terbaik untuk mendapatkan izin dari orang tuanya agar aku dapat mengusahakan operasinya. Urusan administrasinya biar besok saja. Katakan, aku yang menanggung seluruh biayanya."

Mereka meneruskan makan sandwich, kemudian ayahku mengantar majikannya ke pertemuan bisnis.

Tidak sulit menemukan alamat rumah Jimmy dari sebuah toko obat di dekat situ. Kebanyakan orang kenal dengan anak pincang itu.

Rumah kecil tempat Jimmy dan keluarganya tinggal sudah harus di cat ulang dan diperbaiki di sana sini. Ketika memandang ke sekeliling, ayahku melihat baju compang-camping dan bertambal-tambal dijemur di seutas tali di samping rumah. Sebuah ban bekas digantungkan pada seutas tambang pula pada sebuah pohon oak, tampaknya untuk ayunan.

Seorang wanita usia tiga puluh limaan menjawab ketukan pintu dan membuka pintu yang engselnya sudah berkarat. Ia tampak kelelahan, dan tampangnya menunjukkan bahwa hidupnya terlalu keras.

"Selamat siang," ucap ayahku memberi salam.

"Apakah Anda ibu Jimmy?"

Wanita itu agak mengerutkan dahinya sebelum menyahut.

"Ya. Apakah ia bermasalah?" Matanya menyapu ke arah seragam ayahku yang bagus dan disetrika rapi.

"Tidak, Bu. Saya mewakili seorang yang sangat kaya raya yang ingin mengusahakan kaki anak Anda dioperasi agar dapat bermain seperti teman-temannya. "
   
"Apa-apaan ini, Bung? Tak ada yang gratis dalam hidup ini."

"Ini bukan main-main. Apabila saya diperbolehkan menerangkannya kepada Anda dan suami Anda, jika ia ada saya kira semuanya akan jelas. Saya tahu ini mengejutkan. Saya tidak menyalahkan bila Anda merasa curiga."

Ia menatap ayahku sekali lagi, dan masih dengan ragu-ragu, ia mempersilahkannya masuk.

"Henry," serunya ke arah dapur, "Ke mari dan bicaralah dengan orang ini. Katanya ia ingin menolong membetulkan kaki Jimmy."

Selama hampir satu jam, ayahku menguraikan rencananya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.

"Apabila Anda mengizinkan Jimmy menjalani operasi," katanya,

"Saya akan mengirimkan surat-suratnya untuk Anda tandatangani. Sekali lagi, kami yang akan menanggung seluruh biayanya."

Masih belum bebas dari rasa terkejut, orang tua Jimmy saling memandang di antara mereka. Tampaknya mereka masih belum yakin.

"Ini kartu nama saya. Saya akan menyertakan sebuah surat kalau nanti saya mengirimkan dokumen-dokumen perizinan. Semua yang telah kita bicarakan akan saya tuliskan dalam surat itu. Andai kata masih ada pertanyaan, telepon atau tulis surat ke alamat ini."

Tampaknya sedikit banyak ini memberi mereka kepastian. Ayahku pergi. Tugasnya telah ia laksanakan.

Belakangan, majikan ayahku menghubungi walikota, meminta agar seseorang dikirim ke rumah Jimmy untuk meyakinkan keluarga itu bahwa tawaran tersebut tidak melanggar hukum. Tentu saja, nama sang dermawan tidak disebutkan.

Tidak lama kemudian, dengan surat-surat perizinan yang telah ditandatangani, ayahku membawa Jimmy ke sebuah rumah sakit mewah di negara bagian lain untuk yang pertama dari lima operasi pada kakinya.

Operasi-operasi itu sukses. Jimmy menjadi anak paling disukai oleh para perawat di bangsal ortopedi rumah sakit itu. Air mata dan peluk cium seperti tak ada habisnya ketika ia akhirnya harus meninggalkan rumah sakit itu.

Mereka memberikannya sebuah kenang-kenangan, sebagai tanda syukur dan peduli mereka... sepasang sepatu baru, yang dibuat khusus untuk kaki "baru"nya.

Jimmy dan ayahku menjadi sangat akrab karena sekian kali mengantarnya pulang dan pergi ke rumah sakit. Pada kebersamaan mereka yang terakhir, mereka bernyanyi-nyanyi, dan berbincang tentang apa yang akan diperbuat oleh Jimmy dengan kaki yang sudah normal dan sama-sama terdiam ketika mereka sudah sampai ke rumah Jimmy.

Sebuah senyum membanjiri wajah Jimmy ketika mereka tiba di rumah dan ia melangkah turun dari mobil. Orangtua dan dua saudara laki-lakinya berdiri berjajar di beranda rumah yang sudah tua itu.
   
"Diam di sana, " seru Jimmy kepada mereka. Mereka memandang dengan takjub ketika Jimmy berjalan ke arah mereka. Kakinya sudah tidak pincang lagi.

Peluk, cium dan senyum seakan tak ada habisnya untuk menyambut anak yang kakinya telah "dibetulkan" itu. Orang tuanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum ketika memandangnya. Mereka masih tidak bisa percaya ada orang yang belum pernah mereka kenal mengeluarkan uang begitu banyak untuk membetulkan kaki seorang anak laki-laki yang juga tidak dikenalnya.

Dermawan yang kaya raya itu melepas kacamata dan mengusap air matanya ketika ia mendengar cerita tentang anak yang pulang ke rumah itu.
   
"Kerjakan satu hal lagi, " katanya, "Menjelang Natal, hubungi sebuah toko sepatu yang baik. Buat mereka mengirimkan undangan kepada setiap anggota keluarga Jimmy untuk datang ke toko mereka dan memilih sepatu yang mereka inginkan. Aku akan membayar semuanya. Dan beritahu mereka bahwa aku melakukan ini hanya sekali. Aku tidak ingin mereka menjadi tergantung kepadaku."

Jimmy menjadi seorang pengusaha sukses sampai ia meninggal beberapa tahun yang lalu.

Sepengetahuanku, Jimmy tidak pernah tahu siapa yang membiayai operasi kakinya.

Dermawannya Mr. HENRY FORD, selalu mengatakan lebih menyenangkan berbuat sesuatu untuk orang yang tidak tahu siapa yang telah melakukannya.

By : Woody McKay Jr

"ADA KEBAHAGIAAN YANG KITA RASAKAN DARI MENOLONG ORANG LAIN"  ~Paul Newman

Source       : funzonecollector.blogspot.com
Picture by  :  robertfagan.com

Friday, May 25, 2012

ANUGERAH CINTA

Setelah dua tahun mengalami kegagalan kehamilan dan hasil diagnosis yang meragukan bahwa bisa hamil dengan normal, saya dan suami memutuskan untuk mengadopsi seorang bayi.

Karena dikelilingi oleh keluarga yang punya banyak anak, kami menyadari bahwa tidak ada masalah bagaimana kami bisa mendapatkan anak di dunia ini - apakah melahirkan sendiri atau adopsi. Kami hanya tahu bahwa hidup kami tidak akan lengkap tanpa kelahiran seorang anak, dimana kami bisa berbagi kasih.

Setelah keputusan dibuat, kami menghubungi beberapa agen adopsi untuk mendapat bantuan. Akan tetapi setelah sekian lama tidak ada hasil yang memuaskan. Kami yakin dalam hati bahwa satu-satunya cara adopsi yang bisa kami lakukan adalah melalui adopsi secara independen.

Kami kemudian membayar pengacara khusus untuk adopsi, dan mengikuti sarannya untuk memasang iklan di semua koran negara bagian. Kami memasang jalur telpon tersendiri dengan mesin penjawab. Awalnya kami tidak mendapat hasil memuaskan, tetapi setelah beberapa minggu secara tetap memasang iklan di koran, kami mulai menerima banyak telpon.

Pengacara kami memberikan daftar pertanyaan yang bisa kami ajukan dengan sopan. Daftar pertanyaan itu sangat bermanfaat saat saya menjawab telpon yang mulai masuk - yang membuat saya acapkali gugup sampai lupa mengingat nama sendiri. Setelah beberapa bulan menjawab beragam panggilan telpon, akhirnya saya berbicara dengan Julia.

Julia hamil empat bulan, tidak menikah, muda dan miskin. Dia mengundang kami ke rumahnya di kota sebelah, dan kami senang menerima undangan itu. Ketika saya berjalan di beranda rumahnya yang reyot, saya menarik nafas panjang dan berpikir bahwa seluruh masa depan saya akan bergantung pada pertemuan ini.

Ketika Julia membuka pintu saya dibuat tercengang olehnya. Rambutnya yang panjang dan pirang sebagian menutupi wajah, mata biru berkilau penuh rasa ingin tahu, dan saya bisa melihat perutnya yang sedikit besar.

Kami bertemu ibu dan neneknya. Wanita dari tiga generasi itu terus menerus menanyai tentang keyakinan dan prinsip hidup kami. Saya berdoa dalam hati supaya kami bisa memperoleh kepercayaan mereka.

Setelah tiga jam yang melelahkan berlalu, kami berpelukan di depan pintu sebelum kami berpisah. Sepanjang perjalanan pulang saya sangat senang dan tak hentinya berbicara.

"Apakah kamu melihat hidungnya yang kecil?" saya bertanya ke suami.

Suami saya tertawa mendengar pertanyaan itu, karena memang hidung kami agak lebih besar, bahkan tulang hidung kami terlihat sangat menonjol.

Setelah beberapa bulan, dengan dibantu oleh pengacara kami, kami membantu membiayai biaya pemeriksaan dan perawatan kehamilan Julia. Kami membayar semua biaya pemeriksaan dokter dan membelikan baju-baju hamil untuk Julia.

Setiap malam saya secara rutin berbicara panjang lebar dengan Julia untuk menanyakan keadaannya dan bayinya serta menanyakan semua hal yang dibutuhkan supaya segera bisa kami persiapkan.

Semakin hari saya merasakan bahwa Julia lebih dari saudara sendiri, dan ada ikatan yang sangat kuat diantara kami berdua. Hal itulah yang membuat saya sangat syok dan tidak bisa percaya, ketika pada usia kehamilan yang ke delapan bulan Julia memutuskan untuk merawat bayinya sendiri dan menolak diadopsi.

Memang dari awal pengacara kami sudah menyampaikan kemungkinan itu bisa terjadi, dan secara hukum kami tidak berhak menuntut - tetapi bagaimanapun juga penolakan untuk adopsi itu membuat saya sangat terguncang, setelah selama tiga empat mengikuti perkembangan kehamilan Julia dengan doa dan pengharapan yang besar.

Saya bahkan merasakan mulas di dalam kandungan saya, seolah-olah saya kehilangan bayi yang sudah saya kandung sendiri selama delapan bulan.

Saya terbaring lemah selama tiga hari, tidak bisa bangun dan terus-menerus dalam air mata kesedihan. Saya tidak mampu berbicara pada siapa pun kecuali keluhan yang dalam pada suami. Saya sangat berduka, melebihi semua pengharapan yang sudah saya bangun selama ini.

Suami saya dengan sabar berusaha memulihkan semangat saya, dan atas dorongan pengacara saya, kami mulai kembali memasang iklan di koran. Beberapa bulan berlalu dan nampaknya harapan untuk berhasil sangat kecil.

Dua minggu setelah Natal saat pengacara kami menelpon, apakah kami bisa menemuinya di kantor karena ada seorang wanita datang. Dua minggu sebelumnya dia baru saja melahirkan. Nama wanita itu Aurea, dari Philipina, tidak menikah, datang dengan ditemani keluarga temannya.

Dia ingin pulang kembali ke Philipina, tetapi dia tidak bisa membawa bayinya ikut. Bayinya akan ditolak negaranya karena dia tidak menikah, dan lebih dari itu dia merasa tidak sanggup merawat bayinya di sana.

Sebelumnya dia sudah pernah memenuhi panggilan iklan adopsi di koran. Tetapi pasangan yang dihadapi adalah keluarga Yahudi ortodoks yang tidak bisa menerima bayi orang Philipina.

Selanjutnya dia berkonsultasi dengan pengacara saya, dan disampaikan bahwa menurut hukum saya bisa menerima bayi Aurea.

Selama dua jam, saya dan suami berbincang-bincang secara mendalam dengan Aurea yang manis dan bayi laki-lakinya yang lucu.

Saat bayi itu saya gendong dan melihat mata saya, dia tersenyum polos dan itu sangat menyentuh hati saya. Ada suatu ikatan hati yang langsung terpaut dan saya jatuh hati padanya. Saya menciumnya dan kedua tangan kecilnya memeluk wajah saya.

Kami tinggal di kantor pengacara satu jam lagi, karena saya tidak bisa buru-buru meninggalkan buah hati saya itu. Aurea akhirnya menyetujui untuk menyerahkan bayinya saya adopsi. Dia hanya membutuhkan waktu beberapa hari untuk mengucapkan selamat tinggal padanya.

Hari-hari penantian berikutnya saya berada dalam mimpi buruk, karena dibayang-bayangi oleh kegagalan yang menyakitkan dengan Julia.

Hal yang lain adalah kami bergumul dengan hati dan perasaan bahwa saya akan membesarkan seorang anak dari bangsa lain - dan itu sama sekali di luar pemikiran kami sebelumnya.

Kami tidak ada masalah dengan kemampuan untuk merawat dan mencintainya, tapi kami tidak terlalu bodoh untuk berpendapat bahwa membesarkan seorang anak dari bangsa lain itu hal yang mudah. Tetapi saya dan suami memiliki sebuah keyakinan yang sama yaitu, "Cinta akan mengalahkan segalanya."

Dalam minggu yang sama, kami mendapat kabar dari pengacara kami bahwa Aurea berubah pikiran. Ini bukan karena kami berbeda bangsa, tetapi dia merasa berat untuk bisa berpisah dengan bayi laki-lakinya.

Kami tidak bisa menyalahkan Aurea, dan berdasarkan pengalaman kami sebelumnya, kami tidak lagi merasa marah atau sakit hati. Kami sekarang sudah bisa memahami semua kondisi itu.

Tetapi di akhir minggu kami menerima berita yang lain lagi. Aurea menghubungi pengacara kami, supaya kami segera menemuinya di apartemennya. Hari itu salju turun lebat dengan udara yang membekukan tulang, bahkan ramalan cuaca mengatakan badai salju akan datang. Tetapi hari itu tidak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi kami.

Saat kami bertiga tiba, Aurea sudah mendadani bayi laki-lakinya dengan baju yang terbaik. Dia memberikan sebuah tas plastik pada suami saya, berisi perlengkapan bayi yang digunakan selama tiga minggu itu.

Aurea menyerahkan bayi itu ke dalam tangan saya, memeluk dan berbisik dengan suara tersendat ke telinga saya,

"Tolong rawat dia baik-baik."

"Jangan kuatir," saya balas berbisik.

Aurea berlari ke dapur dan menumpahkan segala kesedihan hatinya dengan menangis tersedu-sedu di sana. Pengacara kami memberi tanda supaya kami meninggalkan apartemen itu, dan dia berkata akan mengurus segalanya.

Saya bergegas ke mobil karena tidak tahan dengan suasana kepedihan di apartemen itu. Sepanjang perjalanan saya melihat air mata suami saya mengalir membasahi pipinya, dan kami tidak berkata sepatah kata pun.

Ada perasaan campur aduk yang tidak bisa dilukiskan, perasaan sukacita karena akhirnya pengharapan kami terkabulkan dan duka yang dalam melihat seorang ibu muda yang harus berpisah dengan anak yang telah dikandungnya selama sembilan bulan.

Saat sampai di rumah hati kami diliputi oleh kasih melihat bayi laki-laki mungil tersenyum manis di pelukan. Mengobati rasa sedih dari penderitaan Aurea, kami tidak pernah mengganti nama awal anak kami yang sudah diberikan oleh ibunya. Kami merasa bahwa itu adalah hadiah terbaik yang bisa kami berikan padanya maupun untuk Aurea.

Dia sekarang berusia dua belas tahun. Pengorbanan dan kasih Aurea selalu ada dalam hati dan jiwa kami setiap hari.

Phyllis DeMarco

DALAM PENGORBANAN ADA RENCANA TUHAN YANG AMAT BESAR!

Source     : indowebster.web.id (nawainruk)
Picture by : lover0fnightmares.deviantart.com

PENUMPANG YANG KEHUJANAN

Malam itu, pukul setengah dua belas malam. Seorang wanita negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan yang sangat deras, yang hampir seperti badai. Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini sangat ingin menumpang mobil.

Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat. Namun tidak satupun dari mereka yang mau berhenti.

Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yang terjadi pada saat itu.

Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda itu, menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda.

7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televisi set besar berwarna (1960-an!) khusus dikirim kerumahnya.Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah:

"Terima kasih nak, karena membantuku di jalan tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang sekarat... hingga wafatnya". Tuhan memberkati anda,karena membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu"

Tertanda Ny.Nat King Cole.

(Catatan : Nat King Cole, adalah penyanyi negro tenar tahun 60-an di USA)

APAPUN BANTUAN YANG ANDA BERIKAN DAN ANDA IKHLAS MEMBERINYA, MAKA AKAN MENJADI BERKAH.

Source      : smartbaby.blogdetik.com
Picture by  : frompingkan.blogspot.com

Wednesday, May 23, 2012

KUMPULKAN KAPAS KAPAS YANG TERSEBAR

Ada seorang pedagang yang sangat kaya raya dan berpengaruh di kalangan masyarakat dikotanya, dalam setiap kegiatannya berdagang mengharuskan dia sering banyak pergi keluar kota.

Suatu saat, karena pergaulan yang salah, dia mulai terjerumus dengan berjudi.

Pada awalnya ia mulai dengan taruhan kecil-kecilan, tetapi karena tidak dapat menahan nafsu untuk menang dan mengembalikan kekalahannya, si pedagang semakin gelap mata, dan akhirnya uang hasil jerih payahnya selama ini banyak terkuras di meja judi.

Istri dan anak-anaknya terlantar hingga akhirnya mereka jatuh miskin.

Orang luar tidak ada yang tahu tentang kebiasaannya berjudi, maka untuk menutupi hal tersebut, dia mulai menyebar fitnah, bahwa kebangkrutannya karena orang kepercayaan, sahabatnya, mengkhianati dia dan menggelapkan banyak uangnya.

Kabar itu semakin hari semakin menyebar, sehingga sahabat yang setia itu, jatuh sakit. Mereka sekeluarga sangat menderita, disorot dengan pandangan curiga oleh masyarakat disekitarnya dan dikucilkan dari pergaulan.

Si pedagang tidak pernah mengira, dampak perbuatannya demikian buruk. Dia bergegas datang menengok sekaligus memohon maaf kepada si sahabat

“Sobat. Aku mengaku salah! Tidak seharusnya aku menimpakan perbuatan burukku dengan menyebar fitnah kepadamu. Sungguh, aku menyesal dan minta maaf. Apakah ada yang bisa aku kerjakan untuk menebus kesalahan yang telah kuperbuat?”

Dengan kondisi yang semakin lemah, si sahabat berkata, “Ada dua permintaanku. Pertama, tolong ambillah bantal dan bawalah ke atap rumah. Sesampainya di sana, ambillah kapas dari dalam bantal dan sebarkan keluar sedikit demi sedikit “.

Walaupun tidak mengerti apa arti permintaan yang aneh itu, demi menebus dosa, segera dilaksanakan permintaan tersebut. Setelah kapas habis di sebar, dia kembali menemui laki-laki yang sekarat itu.

“Permintaanmu telah aku lakukan, apa permintaanmu yang kedua?”

“Sekarang, kumpulkan kapas-kapas yang telah kau sebarkan tadi”, kata si sahabat dengan suara yang semakin lemah.

Si pedagang terdiam sejenak dan menjawab dengan sedih, “Maaf sobat, aku tidak sanggup mengabulkan permintaanmu ini. Kapas-kapas telah menyebar kemana-mana, tidak mungkin bisa dikumpulkan lagi”.

“Begitu juga dengan berita bohong yang telah kau sebarkan, berita itu takkan berakhir hanya dengan permintaan maaf dan penyesalanmu saja” kata si sakit

“Aku tahu. Engkau sungguh sahabat sejatiku. Walaupun aku telah berbuat salah yang begitu besar tetapi engkau tetap mau memberi pelajaran yang sangat berharga bagi diriku. Aku bersumpah, akan berusaha semampuku untuk memperbaiki kerusakan yang telah kuperbuat, sekali lagi maafkan aku dan terima kasih sobat”. Dengan suara terbata-bata dan berlinang air mata, dipeluklah sahabatnya.

Seperti kata pepatah mengatakan, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Kebohongan tidak berakhir dengan penyesalan dan permintaan maaf. Seringkali sulit bagi kita untuk menerima kesalahan yang telah kita perbuat. Bila mungkin, orang lainlah yang menanggung akibat kesalahan kita. Kalau memang itu yang akan terjadi , lalu untuk apa melakukan fitnah yang hanya membuat orang lain menderita. 

BIJAKSANALAH DALAM BERTUTUR KATA DAN TENTUNYA AKAN JAUH LEBIH BIJAK BISA MELAKUKAN SESUATU YANG MEMBUAT ORANG LAIN BAHAGIA.

Source       : indowebster.web.id (lauzart)
Picture by  : abisabila.com

Tuesday, May 22, 2012

EMPAT EKOR ANJING

Dahulu kala ada seorang tua bernama Chu Ping. Dia adalah orang yang baik hati, terutama terhadap hewan. Suatu hari dia pergi mengunjungi keluarganya.

Ketika dia sampai di sana, keluarganya sedang menyeret keluar empat ekor anak anjing.

“Apa yang akan kau lakukan terhadap mereka?” Chu Ping bertanya.

“Saya akan membuang mereka. Anjing kami melahirkan empat ekor anak anjing, dan kamu tahu orang-orang berkata empat ekor anak anjing dalam sekali persalinan adalah sial, jadi saya akan menyingkirkan mereka sekarang.”

“Apakah kamu mau memberikan mereka kepada saya?”

“Kalau itu maumu. Silakan.”

Chu Ping menjadi pemilik yang bangga dari empat ekor anak anjing yang lincah. Dia merawat mereka dengan baik dan dia suka bermain dengan mereka, tidak lama kemudian, mereka telah tumbuh menjadi empat ekor anjing yang kuat dan sehat.

Suatu sore ketika Chu sedang duduk di rumah, dia mendengar suara bisikan di rumput di luar. Suara tersebut makin mendekat, dan semakin keras suaranya.

Pertama-tama terdengar seperti bisikan, lalu semilir angin, kemudian terdengar seperti angin kencang yang bertiup melewati lembah.

Chu keluar untuk menyelidiki, dan di sana, beberapa langkah dari pintunya, dia melihat seekor ular python besar Tubuhnya seukuran roda. Dia melihat sekeliling dengan ganas dengan matanya yang besar dan mempesona, dan lidahnya yang merah menyala menjulur keluar, mengeliat.

Lalu dia melihat Chu seperti panah meluncur dari busur, dia menyergap lurus ke arahnya. Chu tidak dapat bergerak. Dia terlalu takut bahkan untuk mengiba.

Kemudian, sewaktu dia seperti akan binasa, keempat anjingnya datang terbang ke arah ular tersebut. Mereka meloncat menuju ular tersebut, seperti tidak takut pada monster yang mengerikan ini, menggonggong dan menyalak sambil menyerang dari empat sisi.

Keributan itu mengundang para tetangga. Tidak ada yang berani mendekati python tersebut, tetapi mereka semua bersorak untuk keempat anjing yang berani tersebut dari kejauhan.

Dengan amat cepat, dua ekor anjing telah menggigit leher ular itu. Mereka terlalu dekat dengan kepala ular sehingga dia tidak bisa menggigit mereka. Darahnya memancar ke udara, dan sesaat kemudian, python besar itu mati.

Anjing anjing itu memeriksa mayatnya sebentar, mengendusnya dengan hati hati. Lalu mereka dengan sikap merendahkan mengorek tanah ke atas mayat tersebut, dan datang ke arah Chu dengan lidah terjulur ke luar, sambil menggoyang goyangkan ekor.

Semua tetangga bertepuk tangan ketika Chu Ping berjongkok untuk menepuk anjing anjingnya. Mereka menjilat lengan dan
wajahnya.

“Siapa yang berkata empat ekor sekali lahir tidak beruntung?” Chu Ping bertanya kepada anjing anjingnya.

“Tidak terpikir olehku ketika menyelamatkan kalian, suatu hari kalian akan menyelamatkan nyawaku ”

IYA..PERBUATAN BAIK TIDAK AKAN PERNAH SIA-SIA :)

Source      : sarikata.com
Picture by  : wallcoo.net

KISAH KAKAK DAN ADIK

Pada jaman dinasti Tang, ada sebuah keluarga yg terkenal karena kerukunannya. Keluarga tersebut bermarga Zhang. Tuan Zhang selalu mengajarkan kpd kedua anaknya utk saling mengasihi dan saling mendahulukan.

Tuan Zhang tentunya telah banyak menemukan kendala yang dapat mengurangi keakraban di antara kakak-beradik, khususnya jika yg satu lebih terkenal dari yg lain. Namun demikian Tuan Zhang tidak pernah putus asa dlm mendidik kakak beradik untuk saling mengalah dan saling menganggap yang lain lebih penting dari dirinya. Itulah yg ingin ditanamkan kepada anak-anaknya.

Tuan Zhang merasa jika kasih di antara kakak-adik cukup kuat, maka kelak tidak akan ada masalah saling memperebutkan kasih sayang orangtua dan akhirnya saling membenci karena warisan.

Sang kakak bernama Zhang Yueshi dan si adik bernama Zhang Chujin. Sedari kecil keduanya sudah menampakkan perilaku saling mengalah dan saling mendahulukan.

Ketika bermain, ke sekolah, atau melakukan apa saja, mereka hampir selalu saling mengalah dan mengasihi. Para tetangga mereka pun sudah melihat hasil didikan Tuan Zhang di dalam diri kedua kakak-beradik tersebut.

Kenyataan ini membuat berita tentang kasih di antara kakak-beradik itu pun tersebar ke beberapa desa. Tak sedikit orangtua yang mengambil contoh kasih persaudaraan Zhang Yueshi dan Zhang Chujin untuk diajarkan kepada anak-anak mereka.

Pada suatu waktu, ketika mereka telah beranjak dewasa, pihak kerajaan mengadakan ujian ilmu pengetahuan. Yg lulus ujian akan menjadi pegawai kerajaan.

Menjadi pegawai kerajaan adalah dambaan hampir seluruh rakyat saat itu. Kakak-beradik tersebut berhasil menyelesaikan ujian dengan sangat baik dan keduanya memiliki nilai tertinggi di antara peserta yang lain.

Sayangnya, peraturan kerajaan saat itu adalah bahwa kakak dan adik tidak boleh diterima sekaligus. Jadi pihak kerajaan, dalam hal ini kepala bagian penerimaan, harus memilih salah satu di antara kedua kakak-beradik tersebut untuk menjadi pegawai istana.

Kepala penerimaan pegawai istana pun bingung memilih karena keduanya sama-sama mempunyai nilai yang tinggi dan cakap dalam ujian keterampilan. Namun karena harus memilih, akhirnya kepala bagian penerimaan pegawai istana memilih sang adik, Zhang Chujin.

Keesokan harinya, sang adik menemui kepala bagian penerimaan pegawai istana dan berkata,

"Tuan yang terhormat, umur kakak saya lebih tua dari saya. Sesungguhnya pengetahuan dan keterampilannya pun lebih banyak daripada saya. Dalam banyak hal, kakak saya jauh melampaui saya. Karena itu mohon Tuan membatalkan keputusan, dan tahun ini memilih kakak saya terlebih dahulu utk menjadi pegawai istana. Saya masih muda dan masih punya banyak kesempatan untuk menjadi pegawai istana. Sekali lagi, mohon Tuan sudi mempertimbangkan hal ini."

Kepala bagian penerimaan pegawai istana hanya bisa terdiam, tanpa mengucapkan janji apapun kepada Zhang Chujin.

Tidak lama setelah Zhang Chujin pulang, sang kakak jg tiba di istana dan menemui kepala bagian penerimaan pegawai istana.

"Tuan, saya mau mengucapkan selamat atas keputusan memilih adik saya. Sesungguhnya saya tahu bahwa dalam banyak hal, adik saya lebih cakap dari saya. Karena itu saya mohon, apa pun yg terjadi, dan siapa pun yg menggugat, jangan pernah mengubah keputusan Tuan yg sudah tepat tersebut."

Setelah menyampaikan isi hatinya, Zhang Yueshi pun pamit pulang.

Sementara itu kepala bagian penerimaan pegawai istana terkagum-
kagum dengan kasih yg ditunjukkan oleh Zhang Yueshi dan Zhang Chujin. Ia berpikir, seandainya setiap keluarga mengajarkan sikap saling mengasihi di antara kakak-beradik, pastilah keluarga menjadi kuat dan bahagia. Jika setiap keluarga kuat, maka negara pun akan kuat.

Kepala bagian penerimaan pegawai istana pun pergi menghadap Raja untuk mendiskusikan hal ini. Ia pun punya usul kpd Raja,

"Jika kita memilih keduanya sekaligus, maka kita berharap teladan yang mereka tunjukkan akan berpengaruh baik bagi setiap keluarga di negeri kita."

Setelah mempertimbangkan dengan matang, Raja pun setuju dan memutuskan utk menerima Zhang Yueshi dan Zhang Chujin, kedua kakak-beradik itu, sekaligus.

HENDAKLAH DENGAN RENDAH HATI MENGANGGAP ORANG LAIN LEBIH UTAMA DARI DIRI SENDIRI. JIKA SIKAP INI DITERAPKAN DALAM HIDUP BERMASYARAKAT, MAKA HIDUP AKAN TERASA LEBIH INDAH. MULAILAH DARI DIRI SENDIRI DAN MULAILAH UNTUK MENGAJARKAN KEPADA ANAK-ANAK KITA!

Source       : indowebster.web.id (kiefs)
Picture by  : dodiedisastro.blogdetik.com

Sunday, May 13, 2012

WAH ADA NENEK 77 TAHUN DAPAT JODOH DI FACEBOOK

Facebook berhasil mengantarkan kebahagiaan pada seorang nenek. Wanita berusia 77 tahun ini berhasil mendapat jodoh lewat jejaring sosial itu. Bagaimana kisahnya?

Barbara Moore, 77 tahun, dan Laurence Brocklesby, 82 tahun, bukanlah usia rata-rata pengguna yang sering memanfaatkan layanan jejaring sosial.

Moore memanfaatkan komputer setelah suaminya meninggal empat tahun yang lalu. Anak dan cucunya menggunakan Facebook, namun mantan suster ini tidak terlalu tertarik untuk bergabung dengan anak muda. Ia memanfaatkan media itu untuk mencari teman kerjanya dahulu. Saat itulah, ia bertemu dengan Brocklesby yang sudah bercerai sejak 16 tahun lalu.

Awalnya, Moore hanya bertanya soal tips berkebun kepada Brocklesby. Namun, pasangan ini merasa cocok dan berbincang via media online setiap hari.

"Kami berbicara soal apapun seperti hobi, kebiasaan minum teh dan segala sesuatu yang kami lakukan setiap hari. Ini menakjubkan untuk tahu betapa banyak kesamaan di antara kami dan kami begitu terbuka di internet. Saya merasa bisa menceritakan apapun kepadanya tanpa perlu khawatir," kata Moore.

Setelah berkenalan tiga bulan di Facebook, keduanya memutuskan untuk saling bertemu di dunia nyata. Sebelumnya, mereka telah saling bertukar foto sehingga tahu raut muka satu sama lain.

"Kami telah berbicara apapun di internet dan saling menelepon di malam hari," kata Brocklesby, yang mantan tentara.
 

Source : gusti777.blogdetik.com

Thursday, May 10, 2012

SURAT TERAKHIR UNTUK SIAO FENG

Siao Feng adalah seorang gadis kecil berumur lima tahun. Ia tinggal bersama mamanya yang sudah cukup tua. Mereka hanya tinggal berdua. Papanya sudah bercerai dengan mamanya, karena masalah yang tidak ia mengerti.

Pada suatu hari, saat Siao Feng sedang bermain-main, ia melihat mamanya membawa tas dan bersiap untuk pergi. Siao Feng menyusul mamanya dan berkata ingin ikut. Tapi mamanya hanya menangis sambil berkata,

“Siao Feng, mama akan pergi ke Amerika untuk suatu pekerjaan, mama tidak bisa menunda lagi. Kamu tidak boleh ikut. Kamu akan tinggal bersama kakek dan nenek. Baik-baik ya. Jaga dirimu. Jangan nakal. Mama akan sering menyuratimu.” Siao Feng menangis dan berteriak agar mamanya jangan pergi.

Tapi percuma, mamanya tidak mau mendengarkannya.

Beberapa bulan kemudian, mama Siao Feng mengirimi Siao Feng surat. Hari ini hari Siao Feng masuk sekolah pertamanya di SD. “Siao Feng, bagaimana kabarmu? Baik-baik sajakah? Saat ini kamu pasti sudah duduk di bangku SD, kamu pasti sudah mendapat teman yang banyak, sepatu baru, tas baru. Siao Feng, maafkan mama, mama tidak datang melihatmu masuk sekolah, mama sangat sibuk di Amerika. Tidak ada waktu untuk pulang melihatmu.”

Sampai beberapa tahun kemudian, Siao Feng masih dikirimi surat oleh mamanya. Bukannya merasa bahagia, Siao Feng malah merasa benci dan sangat marah kepada mamanya. Mamanya sempat menulis surat tapi tidak sempat datang untuk menemuinya.

Pada saat ia SMP, mamanya juga mengirimkan surat padanya. “Siao Feng, sekarang kamu sudah smp kan? Mama kangen kamu. Kamu pasti tambah cantik, Siao Feng jaga kesehatanmu. Sekarang musim dingin, pakai baju hangat kalau mau keluar ya. Supaya kamu tidak sakit nanti.”

Setiap kali menerima surat dari mamanya, Siao Feng selalu merasa sedih. Ia teringat bagaimana kasih sayang mamanya dulu, dan sekarang tidak bisa ia dapatkan, meskipun mamanya sudah mengirimkan surat padanya. Ia merasa marah dan kesal. Ia heran kenapa ada seorang ibu yang tega pada anaknya seperti ini, kalau seperti ini, seharusnya mama mati saja. Ia tidak butuh mama seperti ini.

“Siao Feng, sekarang kamu pasti sudah SMA, apa kamu sudah punya pacar? Mama kangen sama kamu.”

Belasan tahun, Siao Feng menunggu dan menunggu mamanya pulang, tapi yang datang hanya surat, dan surat.

Siang hari ini, Siao Feng menunggu surat dari mamanya di depan pagar rumahnya. Siao Feng menunggu pak pos untuk mengantarkan surat dari mamanya yang dikirimkan dari Amerika untuknya yang mengucapkan selamat ulang tahun Siao Feng yang ke-17.

Sudah tiga jam Siao Feng menunggu surat dari mamanya, Siao Feng merasa kesal karena surat itu belum datang-datang juga. Sambil menangis Siao Feng memaki mamanya, “Dasar mama! Mendingan mama mati aja deh... uhh.. nyebelin....”

Siao Feng merasa mamanya sudah tidak sayang lagi kepadanya. Kalau mamanya masih sayang kepadanya, setidaknya mama pulang dari Amerika dan datang untuk melihat Siao Feng, tapi dari Siao Feng berumur 5 tahun sampai ia berumur 17 tahun mama tidak pernah kembali dari Amerika.

Setelah 5 jam Siao Feng menunggu, kakek dan nenek Siao Feng datang membawa surat untuk Siao Feng. Siao Feng melihat kalau mereka berdua terlihat sedih. Siao Feng yang sangat menantikan surat dari mamanya langsung mengambil surat yang dibawa kakek dan neneknya.

Siao Feng meilhat kalau warna kertas surat itu sudah kuning dan usang seperti sudah disimpan lama. Siao Feng yang awalnya sangat senang menerima surat dari mamanya tiba-tiba langsung menangis terisak-isak tak percaya. Siao Feng sangat kaget ketika membaca surat dari mamanya yang mengatakan.

“Siao Feng, maafkan mama, mama sudah berbohong kepadamu dari dulu. Mama rasa sudah saatnya kamu mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Siao Feng, mama betul-betul minta maaf karena mama tidak dapat menemani kamu pada saat ulang tahunmu yang ke-17. Mama ucapkan selamat ulang tahun Siao Feng.

Siao Feng, mama minta maaf karena mama mengatakan bahwa mama bekerja di Amerika, sebenarnya mama sudah tidak ada. Mama terkena kanker paru-paru yang ganas. Siao Feng, sebenarnya dari dulu mama ingin memberitahukannya padamu tentang masalah ini, tapi mama tidak ingin membuatmu sedih. Mama membuat surat ini saat kamu masih berumur 5 tahun, karena pada saat itu, dokter mengatakan umur mama tinggal beberapa hari lagi. Waktu itu, kamu masih kecil dan nakal, kamu menghamburkan surat yang sudah mama buat dengan sisa kekuatan mama. Kamu tidak tahu surat itulah yang akan dikirimkan padamu suatu saat nanti.

Siao Feng, maafkan mama, mama tidak dapat di samping kamu ketika kamu berada dalam kesulitan. Kamu tidak bisa memanggil “mama, mama”. Jika kamu sakit, kamu tidak bisa mengatakan “mama, aku sakit”. Mama tidak bisa menjadi tempat kamu cerita dan meminta petunjuk dari mama. Jika kamu kesepian, tidak ada yang menemani kamu. Tidak ada yang memberi kamu belaian kasih sayang. Maafkan mama. Dulu mama menitipkan surat ini pada pamanmu, mama meminta pamanmu untuk mengirim surat ini kepadamu, karena pada saat itu, mama sudah tidak ada lagi di dunia ini....

Siao Feng, mama masih ingat ketika mama mengatakan bahwa mama akan ke Amerika untuk bekerja, mama melihat kamu menangis-nangis dan mau ikut dengan mama, tapi kakek dan nenek memelukmu. Ingin rasanya mama memelukmu, tapi ini hanya akan membuat kamu berat melepas mama. Siao Feng, ini surat terakhir dari mama untukmu, mama sudah hampir tidak kuat lagi menulis surat ini. Mama minta maaf Siao Feng, mama hanya berdoa semoga kamu berbahagia selalu dan selamanya.”

Setelah membaca surat dari mamanya, Siao Feng hanya bisa menangis, mengingat ia selalu memaki mamanya agar mamanya cepat meninggal. Ternyata memang itulah yang terjadi.

SUNGGUH TAK BISA DIHITUNG KASIH SAYANG SEORANG IBU UNTUK BUAH HATINYA.

Source      : indowebster.web.id
Picture by : teratailyar.blogspot.com

Wednesday, May 9, 2012

SECANGKIR KELEMAHLEMBUTAN

Saya bisa merasakan kulit di pipi terbakar karena terpaan angin beku di bulan Januari saat membersihkan lapisan es di wiper kaca mobil. Tangan saya juga ikut membeku saat es mencair di telapak sarung tangan.

Kaca depan saya usap sehingga bagian dalam mobil bisa terlihat. Segera saya masuk ke mobil, mengambil termos dan menuang secangkir kopi. Saya hangatkan telapak tangan dengan tiupan nafas yang beraroma kopi.  Hari ini terasa begitu berat untuk dilalui.

"Ayo, bisa jalan ya.." kata saya sambil menyentuh dashboard dengan menambahkan sebuah doa pendek sebelum memutar kunci kontak.

Rupanya mobil saya mulai protes lebih dari biasanya; mesin tua mobil ini mengeluarkan suara yang gemuruh seperti ringkikan kuda, jauh bila dibandingkan dengan suara alat transportasi moderen. Suaranya seperti perasaan saya saat itu. Jelas sekali bahwa mobil ini perlu secangkir perhatian yang penuh kasih. Saya harap bisa memperlakukanmu dengan lebih baik, kata saya dalam hati.

Saya mengocok pedal gas, dan memutar kunci kontak lagi. Sekali lagi mesin tidak mau hidup. Yang ketiga kali, saya menenangkan diri dan mulai berharap. Kemudian kunci kontak saya putar lagi. Mesin perlahan mulai menyala, dan saya menginjak pedal gas kuat-kuat – cukup untuk membuat mesin tua meraung-raung, tapi tidak sampai hancur. Akhir-akhir ini mobil saya menjadi semakin susah untuk dihidupkan.

Hubungan yang sulit dengan mobil tua ini bukan hal yang baru untuk saya. Saya tumbuh di pegunungan Apalachia (Amerika Selatan); sebuah daerah yang bersalju yang membuat kehidupan menjadi berat dan orang harus bekerja dengan keras untuk dapat bertahan hidup.

Saat berumur tujuh tahun, ayah membuat saya menjadi seorang yatim piatu dengan membunuh ibu dalam keadaan mabuk dan kemudian menembak dirinya sendiri. Saya tumbuh sebagai penduduk asli pegunungan Appalachia, yang memiliki kultur yang keras; tapi saya berusaha menyesuaikan diri dan harus bisa bertahan hidup. Tahun ini, bagaimanapun juga, adalah tahun yang memiliki kenangan indah buat saya.

Suami saya Roger, yang telah bersama saya selama dua puluh lima tahun, sedang berjuang di tempat tidur rumah sakit yang dingin. Saya ingin bisa selalu berada disampingnya untuk menghibur dan memberinya semangat karena rasa sakit yang hebat akibat penyakit Leukimia. Tetapi penyakitnya tidak membuat dunia saya lenyap. Saya masih punya anak usia SMU yang harus diberi makan di rumah. Tagihan listrik yang harus dibayar, cicilan rumah dan gas yang harus diisi ditangkinya, sementara setiap hari saya sendiri harus bolak-balik menempuh perjalanan ratusan kilometer jauhnya dari rumah ke rumah sakit.

Saya mulai merasakan seperti saat saya masih kecil. Semua tergantung pada diri saya sendiri, karena saya adalah yatim piatu. Dari tempat kerja saya harus segera ke rumah sakit menunggu Roger yang semakin parah. Setelah Roger tidur saya bergegas pulang, tidur sebentar, bangun jam 4 pagi, mencuci baju dan membuatkan sarapan untuk anak laki-laki saya, dan menyiapkan makan malam roti sandwich di kulkas jika dia pulang dari sekolah. Tapi roti makan siang saya sendiri kadang-kadang terjatuh dari tangan karena keletihan yang luar biasa. Saat ini saya membutuhkan secangkir kelembutan hati untuk menyegarkan jiwa saya.

Saya membasuh muka di toillet untuk menyegarkan wajah sebelum kembali bekerja. Saya tidak pernah memakai riasan wajah, karena sama sekali tidak punya waktu untuk itu.

"Brenda.."

Saya melihat teman kerja saya, Darlene. Dengan kulit coklatnya, dia menatap saya dengan lembut dan ada kasih di dalamnya.  Dia melihat sebentar ke sekelilingnya, kemudian menarik tangan saya dan meletakkan sejumlah uang di dalamnya. Saya memandangnya dengan keheranan. Saat mencoba membuka mulut, tetapi dia menahannya.

"Jangan ceritakan ke siapa pun tentang uang ini." Katanya. "Pergilah, dan perbaiki mobilmu. Jika masih kurang tolong beri tahu saya." Dia berbalik dan pergi.

Keheranan saya berubah menjadi kekaguman. Saya hanya tahu sedikit mengenai Darlene. Seperti yang terjadi di generasi seusia saya, beberapa teman yang saya punya semuanya adalah orang kulit putih. Darlene dan saya berasal dari dunia yang berbeda.

Saya tumbuh di daerah pegunungan bersalju Appalachia dimana orang Amerika dari Afrika tidak ada. Kami berada dalam lingkungan yang penuh prasangka dan kebencian. SMU saya masih mempunyai maskot yang bernama Pemberontak..dan diarak dibawah bendera Konfederasi (Konfederasi adalah pendukung perbudakan).

Walaupun saya tidak memiliki sifat yang berprasangka dan rasis, saya selalu waspada dan membatasi pergaulan hanya dengan orang kulit putih saja. Kulit Darlene yang coklat sangat berbeda dengan kulit pucat saya; begitu juga dengan cara bicara dengan aksen Selatan saya. Akan tetapi, diluar itu semua, tampaknya saya tidak hanya membutuhkan dukungan finansial, tetapi lebih dari itu saya membutuhkan sebuah sentuhan kasih..dimana Darlene sudah melangkah melintasi batas-batas yang tak terlihat, dan dia menjadi sahabat baik saya.

Persahabatan kami tumbuh dengan kuat; dan saya mengakui bahwa Darlene adalah seorang wanita yang sangat kuat. Dukungannya sangat kokoh, terutama saat Roger meninggal. Dia menawarkan secangkir kasih dalam kelembutan saat saya jatuh, dimana dia selalu ada untuk berbagi tawa dan air mata.

Saat keadaan saya mulai stabil, Darlene tidak pernah menawarkan bantuan uang lagi. Dia bahkan tidak pernah meminta saya untuk mengembalikannya. Saya mulai merasakan keberadaan Darlene dalam seluruh hidup saya. Seperti embun di pagi hari, perbedaan budaya diantara kami mulai menguap.

Darlene adalah guru saya; mengajari tentang kasih yang tulus. Darlene telah melangkah melewati jurang prasangka rasial dan ketidakpahaman; yang berikutnya mengajarkan bahwa saya juga punya tanggung jawab terhadap umat manusia untuk menyediakan secangkir kelemahlembutan dan kasih kepada yang membutuhkannya. Dan oleh karena Darlene; cangkir kelemahlembutan dan kasih saya mulai beredar ke orang lain.

Brenda Caperton

KASIH DAPAT MENYEBABKAN SESEORANG TERUS BERTAHAN, SEKALIPUN DALAM KESUKARAN.

Source      :  indowebster.web.id
Picture by  :  info-cepat.blogspot.com

Sunday, May 6, 2012

GADIS DENGAN SETANGKAI BUNGA MAWAR

John Blanford berdiri tegak di atas bangku di Stasiun Kereta Api sambil melihat ke arah jarum jam, pukul 6 kurang 6 menit. John sedang menunggu seorang gadis yang dekat di hatinya, tetapi dia tidak mengenal wajahnya. Seorang gadis dengan setangkai mawar.

Lebih dari setahun yang lalu, John membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan. Rasa ingin tahunya terpancing saat ia melihat coretan tangan yang halus di buku tersebut. Pemilik terdahulu buku tersebut adalah seorang gadis bernama Hollis Molleoin.

Hollis tinggal di New York dan John di Florida. John mencoba menghubungi sang gadis dan mengajaknya untuk saling bersurat. Beberapa hari kemudian, John dikirim ke medan perang, Perang Dunia II. Mereka terus saling menyurati selama hampir 1 tahun. Setiap surat seperti layaknya bibit yang jatuh di lantai yang subur dalam hati masing-masing dan menumbuhkan jalinan cinta di antara mereka.

John berkali-kali meminta agar Hollis mengiriminya sebuah foto. Akan tetapi sang gadis selalu menolak.

“Kalau perasaan cintamu tulus, John. Bagaimanapun paras saya tidak akan mengubah perasaan itu. Kalau saya cantik, selama hidup saya akan bertanya tanya apakah mungkin perasaanmu itu hanya dikarenakan kecantikan saya saja. Kalau saya biasa-biasa atau cenderung jelek, saya takut kamu akan terus menulis hanya karena kamu merasa kesepian dan tidak ada orang lain lagi tempat kamu mengadu. Jadi, sebaiknya kamu tidak usah mengetahui paras saya. Sekembalinya kamu ke New York, kita akan bertemu muka. Pada saat itu, kita akan bebas menentukan apa yang akan kita lakukan.” kata sang gadis.

Mereka berdua membuat janji untuk bertemu di Stasiun Pusat di New York pada pukul 6 sore setelah perang usai.

“Kamu akan mengenali saya, John. Karena saya akan menyematkan setangkai bunga mawar merah pada kerah baju. ” Kata Hollils.

Pukul 6 kurang 1 menit, sang perwira muda semakin gelisah. Tiba-tiba, jantungnya serasa hampir copot, dilihatnya seorang gadis yang sangat cantik berbaju hijau lewat di depannya, tubuhnya langsing, rambutnya pirang bergelombang, matanya biru seperti langit, luar biasa cantiknya.

Sang perwira mulai menyusul sang gadis, dia bahkan tidak menghiraukan kenyataan bahwa sang gadis tidak mengenakan bunga seperti yang telah disepakati. Hanya tinggal 1 langkah lagi ketika John melihat seorang wanita berusia 40 tahun mengenakan sekuntum mawar merah di kerahnya. “O… itu Hollis!!!”

Rambutnya sudah mulai beruban dan agak gemuk. Gadis berbaju hijau hampir menghilang. Perasaan sang perwira mulai terasa terbagi dua, ia ingin berlari mengejar sang gadis cantik. Di sisi lain, ia tidak ingin menghkhianati Hollis yang lembut dan telah menemaninya selama masa perang.

Tanpa berpikir panjang, John berjalan menghampiri wanita yang berusia setengah baya itu dan menyapanya. “Nama saya John Blanford, Anda tentu saja Nona Hollis. Bahagia sekali bisa bertemu dengan Anda. Maukah Anda makan malam bersama saya?”

Sang wanita tersenyum ramah dan berkata, “Anak muda, saya tidak tahu apa arti semua ini. Tetapi seorang gadis berbaju hijau yang baru saja lewat memaksa saya untuk mengenakan bunga mawar ini dan dia mengatakan kalau Anda mengajak saya makan, maka saya diminta untuk memberitahu Anda bahwa dia menunggu Anda di restoran di ujung jalan ini. Katanya semua ini hanya untuk menguji Anda.”

Kita tidak bisa benar-benar yakin akan suatu hal, sebelum hal itu diuji. Seperti halnya ketika kita harus melewati ujian agar bisa dnyatakan menguasai suatu ilmu. Obat akan diuji sebelum diakui dan dipergunakan.

Demikian juga dengan perasaan cinta.

SUATU RELASI MENCAPAI KESEJATIANNYA SETELAH MENGALAMI BERBAGAI UJIAN. TERMASUK UJIAN KESETIAAN. APAKAH KITA CUKUP SETIA DENGAN PILIHAN KITA ATAU DENGAN MUDAH BERPALING KEPADA ORANG LAIN?


Source : renungan-harian.com