Kisah Kisah Kita

Showing posts with label Renungan keluarga. Show all posts
Showing posts with label Renungan keluarga. Show all posts

Friday, October 9, 2015

HUTANG KEPADA ANAK-ANAK KITA


Kita selalu berhutang banyak cinta kepada anak-anak. Tidak jarang, kita memarahi mereka saat kita lelah. Kita membentak mereka padahal mereka belum benar-benar paham kesalahan yang mereka lakukan. Kita membuat mereka menangis karena kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan. Tetapi seburuk apapun kita memperlakukan mereka, segalak apapun kita kepada mereka, semarah apapun kita pernah membentak mereka. Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya, menghibur kita dengan tawa kecilnya, menggenggam tangan kita dengan tangan kecilnya. Seolah semuanya baik-baik saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Mereka selalu punya banyak cinta untuk kita, meski seringkali kita tak membalas cinta mereka dengan cukup.

Kita selalu berhutang banyak kebahagiaan untuk anak-anak kita. Kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka, tetapi kenyataannya merekalah yang justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita. Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan mereka atau menghapus air mata dari pipi-pipi kecil mereka, tetapi sebenarnya kitalah yang selalu mereka bahagiakan. Merekalah yang selalu berhasil membuang kesedihan kita, melapangkan kepenatan kita, menghapus air mata kita.
 
Kita selalu berhutang banyak waktu tentang anak-anak kita. Dalam 24 jam, berapa lama waktu yang kita miliki untuk berbicara, mendengarkan, memeluk, mendekap, dan bermain dengan mereka? Dari waktu hidup kita bersama mereka, seberapa keras kita bekerja untuk menghadirkan kebahagiaan sesungguhnya di hari-hari mereka, melukis senyum sejati di wajah mungil mereka?


Tentang anak-anak, sesungguhnya merekalah yang selalu lebih dewasa dan bijaksana daripada kita. Merekalah yang selalu mengajari dan membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Seburuk apapun kita sebagai orangtua, mereka selalu siap kapan saja untuk menjadi anak-anak terbaik yang pernah kita punya.  

Kita selalu berhutang kepada anak-anak kita. Anak-anak yang setiap hari menjadi korban dari betapa buruknya cara kita mengelola emosi. Anak-anak yang terbakar residu ketidakbecusan kita saat mencoba menjadi manusia dewasa. Anak-anak yang menanggung konsekuensi dari nasib buruk yang setiap hari kita buat sendiri. Anak-anak yang barangkali masa depannya terkorbankan gara-gara kita tak bisa merancang masa depan kita sendiri. Tetapi mereka tetap tersenyum, mereka tetap memberi kita banyak cinta, mereka selalu mencoba membuat kita bahagia.
 

Maka dekaplah anak-anakmu, tataplah mata mereka dengan kasih sayang dan penyesalan, katakan kepada mereka, "Maafkan untuk hutang-hutang yang belum terbayarkan. Maafkan jika semua hutang ini telah membuat Tuhan tak berkenan. Maafkan karena hanya pemaafan dan kebahagiaan kalianlah yang bisa membuat hidup ayah dan ibu lebih baik dari sebelumnya. Lebih baik dari sebelumnya."

Fahd Pahdepie
Sydney 2015

Source : kisah-renungan.blogspot.co.id

Monday, December 15, 2014

JANGAN TERBURU-BURU

Seorang ibu yang baru saja pulang dari kantor tiba-tiba memarahi anaknya . Sambil berteriak-teriak setengah histeris, ibu itu menanyakan pekerjaan di rumah yang belum sempat diselesaikan oleh si anak. Setelah lelah karena seharian beraktivitas, karuan saja si anak kemudian membalas teriakan ibunya dengan nada tinggi pula. Selidik punya selidik, ternyata si anak telah menyelesaikan tugasnya, namun adiknya mengacaukan semuanya. Ibu yang tadinya histeris itu menyadari kesalahannya, namun ia sudah sulit untuk minta maaf, karena anaknya sudah terlanjur sakit hati dimarahi ibunya seperti itu.

Ketika kita terburu-buru melakukan sesuatu, seringkali yang kita hasilkan adalah sebuah persoalan baru. Memilih pekerjaan terburu-buru karena tergiur dengan iming-iming fasilitas, memilih teman hidup terburu-buru karena status dan harga diri, justru seringkali malah menjerumuskan kita ke dalam sebuah lubang persoalan baru. Hasil yang didapat, justru melenceng jauh dari yang diharapkan. Parahnya, kita sangat sulit keluar dari lubang itu, karena terlanjur terperosok semakin dalam.

Jangan pernah terburu-buru membuat keputusan yang penting, jika tidak ingin terperosok ke dalam kesulitan lain. Ketahuilah bahwa Tuhan adalah pemegang kedaulatan atas waktu. Ketika kita sabar menantikan jawaban-Nya atas pergumulan kita, hasilnya pasti di luar perkiraan kita, dan pastinya kita malah bisa menyelesaikan persoalan yang ada, bukannya menambah masalah baru.

TERBURU-BURU MEMBUAT KITA TIDAK DAPAT BERPIKIR DENGAN JERNIH. BERSIKAP TENANG DAPAT MEMBUAT ANDA MEMPERTIMBANGKAN SEGALA SESUATUNYA DENGAN HATI-HATI.


Source : Renungan Harian Kita

Tuesday, April 29, 2014

DEAR MOM AND DAD


Seorang anak pernah mengomentari ayahnya seperti ini, "Ayahku memang tidak sempurna, tapi aku juga tidak sempurna. Kalau main basket, tembakannya yang bergaya khas itu jarang sekali membuat bolanya masuk. Tetapi yang penting ia main basket bersamaku. Banyak anak-anak lain yang tidak pernah main basket bersama ayahnya."

Fenomena "keluarga tanpa ayah" menjadi suatu pemandangan umum di keluarga modern, bahkan kadang "tanpa ayah dan ibu", keluarga yang anak-anaknya menghabiskan sebagian besar waktu mereka hanya bersama baby sitter atau pembantu. Padahal riset para ahli telah membuktikan, jika tidak ada pemimpin dalam keluarga, maka anak-anaknya cenderung akan:
• 5 kali lebih mungkin bunuh diri
• 32 kali lebih mungkin minggat dari rumah
• 20 kali lebih mungkin menderita kelainan perilaku (homo, waria, antisosial)
• 14 kali lebih mungkin melakukan tindakan pemerkosaan (aktif lebih dini secara seksual dan yang wanita lebih mungkin terjerat seks bebas)
• 9 kali lebih mungkin putus sekolah dan hidup dalam kemiskinan
• 10 kali lebih mungkin terjerat narkoba atau obat-obatan
• 10 kali lebih mungkin dipenjara (70% anak yang dipenjara adalah anak yang ayahnya absen)
• 9 kali lebih mungkin mengalami gangguan kejiwaan.

Bukan tanpa alasan mengapa Tuhan menciptakan bentuk keluarga dengan ayah dan ibu. Anak-anak membutuhkan kedua orang tuanya untuk bisa berkembang dengan baik.

Akan tetapi sejarah masih terus berulang, fakta bahwa tidak hadirnya dan tidak berfungsinya orang tua dalam keluarga masih terus bergulir di seputar kita. Saya kira kini saatnya para orang tua untuk lebih banyak hadir dan kembali kepada keluarga. Dengarlah suara lirih anak-anak yang berkata, "Papa (atau mama)... pulanglah ke rumah..."

ANAK-ANAK MEMBUTUHKAN KEDUA ORANGTUANYA UNTUK BISA BERKEMBANG DENGAN BAIK. 


Source : Renungan Harian Kita 

Friday, April 13, 2012

APA YANG DIBUTUHKAN PASANGAN ANDA?

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.

Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.

Setiap sore, ibu selalu membungkukkan badan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikit pun.

Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berprestasi dalam pelajaran. Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno.

Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami. Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam-diam di sudut halaman.

Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.

Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.

Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan -lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini.

Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri. Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia.

Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu, dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati. Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia.

Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami saya berkata : "Istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik!"

Dengan mimik tidak senang saya berkata : "Apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum dipel??"

Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah. Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkawinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya.

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya. Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya, Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.

Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku. Cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, yaitu perkawinan yang tidak bahagia.

Saya tersadar telah membuat keputusan (pilihan) yang sama seperti ibu saya. Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.

Saya bertanya pada suamiku : "Apa yang kau butuhkan?"

"Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-apalah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku," ujar suamiku.

"Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu.... ," dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya.

"Semua itu tidak pentinglah," ujar suamiku. "Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku."

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku, Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku. Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat.

Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar kota. Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing.

Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.

Bertanya pada pihak kedua : "Apa yang kau inginkan?" Kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia.

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua. Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur.

KARENA TUHAN TELAH MENCIPTAKAN PERKAWINAN..MAKA SETIAP ORANG PANTAS DAN LAYAK MEMILIKI SEBUAH PERKAWINAN YANG BAHAGIA :)

Source       : renungan-harian-kita.blogspot.com (Isak Rickyanto)
Picture by  : anneahira.com

Sunday, March 25, 2012

DADDY'S DIARY

Ayah dan ibu telah menikah lebih dari 30 tahun, saya sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar.

Di dalam hati saya, perkawinan ayah dan ibu ini selalu menjadi teladan bagi saya, juga selalu berusaha keras agar diri saya bisa menjadi seorang pria yang baik, seorang suami yang baik seperti ayah saya. Namun harapan tinggallah harapan, sementara penerapannya sangatlah sulit.

Tak lama setelah menikah, saya dan istri mulai sering bertengkar hanya akibat hal - hal kecil dalam rumah tangga. Malam minggu pulang ke kampung halaman, saya tidak kuasa menahan diri hingga menuturkan segala keluhan tersebut pada ayah.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ayah mendengarkan segala keluhan saya, dan setelah beliau berdiri dan masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, ayah mengusung keluar belasan buku catatan dan ditumpuknya begitu saja di hadapan saya. Sebagian besar buku tersebut halamannya telah menguning, kelihatannya buku? Buku tersebut telah disimpan selama puluhan tahun.

Ayah saya tidak banyak mengenyam pendidikan, apa bisa beliau menulis buku harian? Dengan penuh rasa ingin tahu saya mengambil salah satu dari buku-buku itu. Tulisannya memang adalah tulisan tangan ayah, agak miring dan sangat aneh sekali, ada yang sangat jelas, ada juga yang semrawut, bahkan ada yang tulisannya sampai menembus beberapa halaman kertas. Saya segera tertarik dengan hal tersebut, mulailah saya baca dengan seksama halaman demi halaman isi buku itu.

Semuanya merupakan catatan hal-hal sepele, "Suhu udara mulai berubah menjadi dingin, ia sudah mulai merajut baju wol untuk saya."

"Anak-anak terlalu berisik, untung ada dia."

Sedikit demi sedikit tercatat, semua itu adalah catatan mengenai berbagai macam kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, mengenai cinta ibu terhadap anak-anak dan terhadap keluarga ini. Dalam sekejap saya sudah membaca habis beberapa buku, arus hangat mengalir di dalam hati saya, mata saya berlinang air mata. Saya mengangkat kepala, dengan penuh rasa haru saya berkata pada ayah "Ayah, saya sangat mengagumi ayah dan ibu."

Ayah menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak perlu kagum, kamu juga bisa."

Ayah berkata lagi, "Menjadi suami istri selama puluhan tahun lamanya, tidak mungkin sama sekali tidak terjadi pertengkaran dan benturan?

Intinya adalah harus bisa belajar untuk saling pengertian dan toleran. Setiap orang memiliki masa emosional, ibumu terkadang kalau sedang kesal, juga suka mencari gara - gara, melampiaskan kemarahannya pada ayah, mengomel. Waktu itu saya bersembunyi di depan rumah, di dalam buku catatan saya tuliskan segala hal yang telah ibumu lakukan demi rumah tangga ini. Sering kali dalam hati saya penuh dengan amarah waktu menulis kertasnya sobek akibat tembus oleh pena. Tapi saya masih saja terus menulis satu demi satu kebaikannya, saya renungkan bolak balik dan akhirnya emosinya juga tidak ada lagi, yang tinggal semuanya adalah kebaikan dari ibumu."

Dengan terpesona saya mendengarkannya. Lalu saya bertanya pada ayah, "Ayah, apakah ibuku pernah melihat catatan-catatan ini?"

Ayah hanya tertawa dan berkata, "Ibumu juga memiliki buku catatan. Dalam buku catatannya itu semua isinya adalah tentang kebaikan diriku. Kadang kala dimalam hari,menjelang tidur, kami saling bertukar buku catatan, dan saling menertawakan.. :) "

Memandang wajah ayah yang dipenuhi senyuman dan setumpuk buku catatan yang berada di atas meja, tiba - tiba saya sadar akan rahasia dari suatu pernikahan..yaitu :

"CINTA ITU SEBENARNYA SANGAT SEDERHANA..INGAT DAN CATAT KEBAIKAN DARI PASANGAN..DAN LUPAKAN SEGALA KESALAHANNYA"

Source : jesusinspires.blogspot.com

Friday, March 23, 2012

PENGORBANAN DALAM KASIH

Sepasang suami istri yang merupakan teman masa kecil. Ketika kecil, mereka mempunyai mimpi untuk suatu hari bisa menjelajahi dunia dan membangun sebuah rumah indah di atas tebing dekat air terjun. Setelah dewasa mereka menikah dan membangun sebuah rumah yang indah hasil kerja mereka berdua. Mereka saling mencintai dan menyayangi.

Meskipun sang suami hanya seorang penjual balon, mereka tetap saling mencintai. Mereka peduli satu sama lain. Bahkan mereka menabung bersama-sama untuk mencapai mimpi-mimpi yang mereka impikan dari kecil. Tapi seringkali uang tabungan itu dipakai untuk kebutuhan-kebutuhan mendesak.

Impian mereka seakan-akan pupus. Meski begitu, mereka tetap saling mencintai. Bahkan ketika dokter memvonis sang istri tidak akan bisa punya anak, sang suami mencoba menghiburnya. Meski tanpa kehadiran tangis anak-anak di dalam rumah mereka, pasangan itu tetap setia dan mengasihi satu sama lain. Mereka mendukung satu sama lain, menunjukkan cinta kepada pasangannya dalam kehidupan sehari-hari sampai usia mereka sudah tua.

Akhirnya sang istri sakit keras dan meninggal dunia duluan. Tinggallah sang kakek sendiri dengan impian untuk mewujudkan cita-cita masa kecil ia dan istrinya. Dengan rasa cinta pada istrinya, ia bertekad akan mewujudkan mimpi-mimpi istrinya suatu hari kelak.

Itulah gambaran kasih sejati dari seorang suami dan istri yang digambarkan secara bisu di awal film "UP". Meskipun tanpa teks, kita bisa tahu betapa besar cinta mereka berdua. Cinta sang suami kepada istrinya dan sang istri kepada suaminya. Bahkan sampai hingga mereka tua dan mati, cinta mereka tidak berkurang sedikitpun. Dan cinta seperti ini juga sudah jarang kita temui dalam kehidupan jaman sekarang ini.

Pada dasarnya sebuah keluarga bahagia adalah sebuah keluarga di mana setiap anggota keluarganya tahu posisi masing-masing dan berperan menurut kewajiban masing-masing. Mereka tidak saling melangkahi, tidak melenceng dari jalur yang semestinya. Tentunya semua itu dilandasi dengan penuh cinta kasih dan pengertian. Tidak ada sebuah keluarga harmonis tanpa cinta. Sebaliknya, banyak rumah tangga menjadi retak hanya karena sang istri tidak memahami sang suami ataupun sang suami terlalu cuek dengan istrinya. Intinya, belajarlah mengasihi.

Kasih tanpa pengorbanan adalah seperti perkataan tanpa perbuatan. Di film "UP", sang suami berusaha mati-matian untuk membawa rumah mereka ke atas tebing yang dimaksud, hanya untuk memenuhi harapan impian almarhum istrinya. Bahkan ketika sang suami harus berhadapan dengan musuh dan berbagai halangan.

MENCINTAI TIDAKLAH MUDAH..BUTUH PENGORBANAN UNTUK SIAPA YANG KITA CINTAI.

Source       :  jesusinspires.blogspot.com
Picture by  :  chicilialinda.wordpress.com

Friday, March 9, 2012

KADANG AKU RINDU PERTENGKARAN ITU

Begitulah penuturan polos dan jujur seorang ibu yang sudah mengarungi hidup berkeluarga dengan suaminya sekitar 13 tahun. Ia menguraikan saat-saat indah dan moment yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Ia juga tidak malu mengungkapkan saat-saat buruk, bahkan sangat memprihatinkan yang ia alami dengan suaminya yang membuat bahtera itu hampir kandas. Namun, di saat harapan itu masih menggema dan keinginan itu masih ada, semua hantaman ombak dan hempasan badai itu berlalu dan berganti dengan indah pada waktunya.

Satu ungkapan manis yang ia untaikan yakni, meminta maaf dan memaafkan. Ini selalu mengalir setiap kali mereka bertengkar dan bersoal jawab bahkan saat emosi membara. Rupanya sebelum menikah mereka telah membuat kesepakatan dan komitmen, untuk selalu  mengenang “masih indah dan penuh memori”..setiap kali mereka bertengkar. Ini menjadi kekuatan dahsyat bagi mereka untuk melihat yang baik, paling baik dan terbaik yakni meminta maaf dan memaafkan. Ini sudah berlangsung bertahun-tahun.

Kini meminta maaf dan memaafkan seperti sudah menjadi kebutuhan untuk mereka berdua. Sekarang, saat penuh perdamaian dan penyatuan dua pihak yang sakit hati, menjadi bagian dari diri dan hidup mereka. Mereka merasa kalau tidak minta maaf dan memaafkan dalam waktu tertentu, seperti merasa ada yang kurang dan belum lengkap, apalagi akhir dari moment itu selalu diakhiri dengan pelukan manis, indah damai dan teduh . Maka sang ibu mengatakan, “Aku rindu pertengkaran itu.”  Aku ingin meminta maaf dan suami memaafkan, atau sebaliknya. Aku rindu pelukan maaf  itu dan dekapan pengampunan itu.

Sahabat..saya tidak memaksa anda untuk seirama dengan ibu ini, rindu akan pertengkaran. Yang mau saya hantarkan ialah, bahwa pernikahan bukan berarti semuanya otomatis. Lewat pernikahan bukan berarti kebahagiaan itu otomatis menjadi milikmu. Perjuangan tetap harus dilanjutkan. Pemurnian kasih dan pembaharuan janji nikah masih harus diintensifkan. Pernikahan tidak akan menghapus perbedaan, tetapi justru menerima perbedaan itu adalah salah satu aspek keindahan dari pernikahan.

Maka ingatlah, ketika anda mengatakan Ya , itu berarti untuk seumur hidup, dalam suka dan duka. Kesatuan itu kadang goyah karena perbedaan prinsip. Kadang cinta itu diolengkan ombak dan dihempas badai karena salah paham, salah pengertian dan bahkan karena pihak ketiga. Maka, kesiapan dan keinginan untuk melihat yang baik, paling baik dan yang terbaik, yakni masa depan yang indah, dan membawa bahtera itu sampai ketujuan, sesuai dengan janji nikah, harus ditanamkan dalam hati.

Karena memang meminta maaf, memaafkan dan memperbaiki diri serta komitmen perlu dan bahkan sangat mutlak dalam hidup berkeluarga. Yakinlah ketika anda mau meminta maaf dan juga bersedia memaafkan, bahtera itu akan makin kuat. Dan akhirnya juga anda akan mengatakan, “Aku rindu pertengkaran itu.”  Ini bukan berarti kita menghendaki pertengkaran, tetapi lewat pertengkaran itu ada maaf yang mengalir dan akhirnya bahtera itu makin kuat, kokoh dan tegar. Semoga.

IYA..MEMINTA MAAF..MEMAAFKAN DAN MEMPERBAIKI DIRI SERTA KOMITMEN PERLU DAN BAHKAN SANGAT MUTLAK DALAM HIDUP BERKELUARGA :)

Source : Romo Yosafat Ivo OFM Cap (sesawi.net)

Friday, February 24, 2012

SALAHKU ATAU SALAHMU

Sebuah keluarga miskin kemalingan sepeda. Semua anggota keluarga merasa sedih karena bagi mereka sepeda itu amat berarti.

Sang anak: “Semua ini salah ku, sepulang dari sekolah, ku parkir di pekarangan tapi tidak kukunci rodanya..”

Bapak: “Bukan salahmu nak, salah papa yang mau menyuruh mu beli obat, membuatmu nunggu kelamaan..”

Mama: “Bukan, itu salahku yang kelamaan mencari resep dr, lupa gak tahu keselip dimana..”

Kakek: “Bukan salah kalian, salah kakek yang habis nyapu lupa nutup pintu pagar”

Nenek: “Nggak, salah nenek yang lupa nyalain lampu sehingga pekarangan gelap…”

Walaupun mereka sedih namun kehilangan sepeda tidak menjadi musibah bagi keluarga miskin itu,
sebab mereka tidak membuat musibah besar dengan saling menyalahkan, saling menghujat, malah sebaliknya saling menyalahkan diri sendiri, merasa paling bertanggung jawab dan saling memaafkan. Luar biasa!

Namun sebuah kasus kehilangan bisa berubah menjadi musibah yang menghancurkan keluarga bila anggota rumah saling menyalahkan, saling menghujat, mencari kambing hitam, dan
saling lempar tanggung jawab.

SEBUAH MUSIBAH MENJADI RINGAN KARENA DITANGGUNG BERSAMA DENGAN SEMANGAT KASIH SAYANG YANG KUAT. DEMIKIANLAH INDAHNYA SEBUAH KELUARGA :) 

Source      :  A Little Truth of Life (kaskus.us/showthread.php)
Picture by  :  wallpaperswide.com

Wednesday, February 22, 2012

HATI YANG BERSYUKUR

 Seorang istri bercerita pada suaminya sambil menahan isak tangis, “Sungguh sial. Kalung emas pemberianmu tadi dirampok saat belanja di pasar.”

Bukannya menenangkan istrinya, si suami malah marah, “Salah sendiri. Ngapain ke pasar memakai kalung? Kamu pikir itu kalung murahan? Kamu pikir uang mudah dicari?”

Sang istripun gak mau kalah, “Sudah jelas bukan salahku. Perampok berhati kejam itulah yang bersalah. Dari dulu kamu selalu menyalahkanku saja.”

“Kalau bukan salahmu, masak salahku? Apa aku yang bersalah karena menghadiahkan kalung emas kepadamu? Dasar istri gak tau diuntung.”

Mertua yang mendengar pertengkaran semakin sengit akhirnya keluar dari dari dapur dan berkata :

“Sudahlah. Untuk apa ribut? Bagaimana pun kalian bertengkar, kalungnya juga gak akan kembali. Coba pikir. Kalian sudah rugi dirampok, sekarang malahan tambah rugi karena bertengkar dan sakit hati. Bukankah bodoh namanya? Ambillah hikmahnya dan belajarlah bersyukur dari kejadian ini.”

“Bersyukur? Masa' sudah dirampok, masih harus bersyukur? Ma, seharusnya orang bersyukur karena mendapatkan, bukannya kehilangan,” bantah anaknya.

Melihat raut wajah mereka, Ibu itu pun melanjutkan :

“Bersyukur karena bukan kamu yang merampok. Itu tandanya kamu bukan perampok. Bersyukur hanya kalungmu yang dirampok, bukan seluruh hartamu. Bersyukur bukan nyawamu yang dirampok. Bersyukur bukan mama yang dirampok, karena jantung mama pasti tidak kuat. Bersyukur karena kamu diberikan pengalaman untuk lebih berhati-hati. Bersyukur karena kamu dirampok. Itu tandanya kamu kaya sehingga bisa memberi kepada perampok itu. Dan bersyukurlah, mungkin kalian sudah membantu seseorang kepepet yang mungkin sangat membutuhkan. Sudahlah, untuk apa bertengkar untuk hal yang sudah berlalu?”

KUNCI KEBAHAGIAAN TERLETAK PADA HATI YANG BERSYUKUR :)

Source        : A Little Truth of Life (kaskus.us/showthread.php)
Picture by   : bekicotmuda.blogspot.com

Monday, January 9, 2012

DI BELAKANG PRIA HEBAT ADA WANITA HEBAT

Thomas Wheeler, CEO Massahusetts Mutual life Insurance Company, dengan isterinya sedang melintasi jalan raya antar Negara bagian, dan Wheeler melihat petunjuk bahwa bensin mobilnya nyaris habis. Wheeler dengan segera keluar dari jalur bebas hambatan dan menemukan stasiun pompa bensin  yang sudah tua dan hanya memiliki satu mesin pengisi bensin.

Setelah meminta satu-satunya petugas yang ada disitu untuk mengisi bensin penuh dan mengecek oli, Wheeler berjalan-jalan mengitari pompa bensin untuk melemaskan kakinya. Ketika kembali ke mobil ia melihat petugas itu sedang mengobrol akrab dengan isterinya. Obrolan mereka pun langsung berhenti ketika ia membayar bensinya. Ketika hendak masuk ke dalam mobil, Wheeler melihat petugas itu melambaikan tangan sabil berkata “Asyik sekali mengobrol denganmu!”

Setelah memasuki jalan raya, Wheeler bertanya kepada isterinya apakah ia mengenal lelaki itu, isterinya langsung mengiyakan bahwa mereka pernah satu sekolah di SMA dan pernah pacaran kira-kira setahun.  Astaga! Ujar Wheeler, “Untung kamu menikah dengan saya, kalau tidak kau akan jadi isteri petugas  pompa bensin dan bukan isteri direktur utama.

Sayangku!  jawab isterinya, “Kalau aku menikah dengannya, dia yang akan menjadi direktur utama, dan kau...kau akan menjadi  petugas pompa bensin!

PENTING SEKALI UNTUK MENYADARI SIAPA YANG PALING MEMPENGARUHI DAN PALING MEMBERI SUMBANGSIH DALAM HIDUP KITA DAN MENGHARGAI BAHWA KESUKSESAN TIDAK PERNAH MERUPAKAN HASIL DAN USAHA PRIBADI!

Source : inspirasijiwa.com

Thursday, January 5, 2012

PACO..PULANGLAH!

Ada satu cerita pendek yang ditulis oleh Ernest Hemingway yang bercerita tentang satu keluarga yang tinggal di kota kecil di Spanyol. Suatu hari diceritakan terjadi suatu pertengkaran hebat antara ayah dengan anaknya yang masih remaja dalam keluarga itu. Entah karena kemarahan atau kata-kata keras yang keluar dari mulut sang ayah, keesokan harinya sang ayah menemukan ranjang anaknya kosong dan anaknya telah kabur dari rumah.

Dengan diliputi rasa sedih dan gelisah sang ayah terus mencari anaknya, dan akhirnya diketahui bahwa anak itu telah pergi ke kota Madrid. Sang ayah menyadari akan bahaya dan dampak dari pergaulan buruk dan tindak kriminal di kota besar seperti Madrid, maka ia bergegas menuju kota Madrid. Namun ia juga kebingungan mencari dimana keberadaan anaknya, dia tidak dapat menemukan anaknya di kota yang sangat besar seperti itu.

Kemudian ia mempunyai ide untuk memasukkan pencarian anaknya ke surat kabar ibu kota, dan kemudian ia menuliskan di koran “El Liberal,” dengan tulisan :

“Paco.. Pulanglah! Temui papa di hotel Montana selasa siang, semua sudah dimaafkan."

Pada selasa siang seperti dituliskan di surat kabar “El Liberal” sang ayah pergi menuju hotel Montana, dan betapa kagetnya sang ayah ketika tiba disana, ia melihat ada 800 anak yang berkumpul untuk mencari ayah mereka.

Istilah “Paco” adalah sebutan atau nama panggilan untuk seorang anak laki-laki di Spanyol, jadi wajar saja banyak anak yang datang kesana. Namun jumlah 800 anak sangatlah banyak, dan memberi petunjuk bahwa banyak sekali anak-anak yang kehausan kasih dari ayah mereka.

Seringkali konflik dan perbedaan pendapat antar orangtua dan anak terjadi dalam rumah tangga, dan anak-anak mudah sekali tersinggung oleh sikap dan kata-kata orangtua mereka. Mudah sekali bagi mereka untuk mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan rumah atau mengambil sikap acuh tak acuh dan tak mau berbicara lagi dengan orangtua mereka.

Peristiwa di atas memberi suatu pelajaran bahwa banyak sekali anak-anak yang terlantar di luar sana dan sangat membutuhkan kasih. Mereka mengharapkan uluran tangan dan kasih sayang serta pengampunan atas kesalahan yang mungkin mereka pernah lakukan.

Dengan sedikit perhatian, perasaan dikasihi, dirindukan dan dengan jaminan pengampunan, mereka akan segera kembali kepada orangtuanya. Kebanyakan anak-anak remaja sulit sekali untuk merendahkan diri mereka lalu datang meminta maaf kepada orangtuanya.

Saya yakin bahwa 800 “Paco” berharap bertemu dengan ayah mereka sambil membuka kedua tangan mereka menunggu ia berlari untuk kemudian dipeluk ayahnya.

Mereka membutuhkan suatu rasa aman dan suatu penerimaan dan jaminan bahwa mereka diampuni. Mereka ingin mendengar kata-kata dari orangtua mereka:

“SEMUA SUDAH DIMAAFKAN..KAMU DIMAAFKAN..PULANGLAH KE KELUARGAMU..KAMI MENGASIHIMU!"

Source : inspirasijiwa.com

Wednesday, January 4, 2012

NILAI SEBUAH KADO

Ketika saya berumur 7 tahun, saya mendengar mama menelpon temannya dan sepertinya ia ditanya sesuatu. Mama tersipu mengiyakan bahwa besok adalah hari ulang tahunnya.

Setelah mendengar pembicaraan itu, saya tiba-tiba teringat dua hal.

Pertama adalah saya sama sekali tidak tahu bahwa mama juga mempunyai ulang tahun. Kedua adalah didalam ingatan saya mama sama sekali tidak pernah menerima kado ulang tahun.

Setelah mengetahui ulang tahun mama, ada hal yang perlu saya lakukan. Saya memecahkan tabungan babi saya dan mengeluarkan semua uang yang ada didalamnya. Kemudian saya pergi ke sebuah toko dekat rumah kami, membeli sebuah pita rambut yang berwarna-warni lalu membungkusnya dengan kertas kado.

Rambut mama sangat indah, tetapi dia selalu menyanggulnya lalu dengan sebuah kerudung hitam menutupinya. Saya rasa rambut mama yang indah sepantasnya harus memakai pita yang warna-warni ini, mama pasti akan suka kado yang saya berikan ini.

Keesokan harinya, saya datang ke hadapan mama, memberikan kepadanya kado yang dibungkus dengan kertas kado yang cantik ini serta berkata, “Mama, selamat ulang tahun!”

Mama yang sedang membereskan peralatan makan menghentikan pekerjaannya, tidak mengucapkan sepatah katapun. Lalu perlahan-lahan dia membuka kertas kado, tiba-tiba saya melihat didalam mata mama ada air mata. Entah kenapa, ketika mama melihat pita rambut ini mama tiba-tiba menangis.

“Mama, maaf, saya telah melakukan kesalahan apa?” saya mengira saya melakukan kesalahan sehingga membuat mama menangis, saya menjadi gelisah.

“Sayangku, mama sangat gembira!” kata mama.

Saya memandang ke matanya, bola mata mama penuh airmata tetapi wajahnya sedang tersenyum.

"Engkau tahu, kenapa mama menangis? Karena, ini adalah hadiah pertama seumur hidup yang pernah mama terima," kata Mama dengan bangga.

Mama lalu mencium pipi saya, sambil menggerakkan badannya mama berkata kepada kakak saya, “lihat, lihat, ini hadiah ulang tahun yang diberikan oleh Richard.”

Berikutnya dia mengatakan lagi kepada papa saya, “Lihat, lihat ini hadiah ulang tahun yang diberikan oleh Richard.”

Setelah selesai berkata dia menyisir rambutnya dan memasang pita yang saya hadiahkan.

Papa lalu berkata, “Richard, sewaktu papa kecil, papa sama sekali tidak terpikir memberi kado kepada orang tua, biasanya hanya orang tua yang memberikan kado ulang tahun untuk anak kecil. Mamamu masa kecilnya sangat miskin, papanya sama sekali tidak pernah memberikan kado ulang tahun. Tetapi hari ini, coba engkau lihat engkau membuat mamamu sangat gembira. Hal ini menyadarkan saya bahwa kado ulang tahun adalah hal yang sangat penting. Yang saya akan katakan adalah anakku, engkau telah memulai sesuatu hal yang baik.”

Perbuatan saya sebagai awal yang baik, mulai saat itu, setiap tahun ketika mama ulang tahun dia akan mendapat kado ulang tahun dariku, kakak dan papa. Tentu saya, ketika kami semakin dewasa, sudah dapat mencari uang, kado yang kami berikan semakin lama semakin mahal. Ketika kami mengadakan pesta ulang tahun mama yang ke-70, saya bergabung dengan kakak memberikan kalung berlian dan permata kepada mama, yang langsung dipakainya dihadapan para tamu sanak famili.

Setelah semua tamu sudah pulang, saya tanpa sengaja mendengar percakapan papa dan mama yang berada dikamar. Papa berkata, “Anak-anak sudah bersusah payah, saya rasa ini adalah hadiah paling berharga yang engkau terima selama bertahun-tahun ini.”

“Sayangku” mama dengan lembut menjawab, “Kado ini memang sangat berharga. Tetapi, bukan kado yang paling bagus. “

Papa bertanya lagi: “Lalu, kado yang paling bagus yang engkau terima adalah kado apa?”

Mama berkata, “Kado pada ulang tahun saya yang ke-30 sebuah pita rambut, yang dibelikan oleh Richard.”

Ketika mendengar sampai disana, airmata hangat saya mengalir.

NILAI BAGUS SEBUAH KADO ATAU HADIAH BUKAN DILIHAT DARI HARGANYA..NAMUN TERSIMPAN MAKNA YANG MENDALAM BAGI YANG MENERIMANYA.

Source : erabaru (hui/ch)

Thursday, December 8, 2011

UNGKAPAN CINTA TERAKHIR

Suami Carol tewas dalam kecelakaan mobil tahun lalu. Jim, yang baru berumur lima puluh dua tahun, sedang mengemudikan mobil ke rumah, dari kantornya. Yang menabraknya adalah seorang remaja yang mabuk berat. Jim tewas seketika. Remaja itu masuk ruang gawat darurat, namun tidak sampai dua jam di sana.

Ironisnya lagi, hari itu hari ulang tahun Carol yang kelima puluh, dan Jim sudah membeli dua tiket pesawat ke Hawaii.

Ia ingin memberi kejutan untuk istrinya. Tapi ia justru tewas gara-gara seorang pengemudi mabuk.

“Bagaimana kamu bisa mengatasi itu?” tanyaku pada Carol, setahun kemudian.

Mata Carol basah oleh air mata.

Kupikir aku sudah salah bicara, tapi dengan lembut ia meraih tanganku dan berkata, “Tidak apa-apa. Aku ingin menceritakan padamu. Ketika aku dan Jim menikah, aku berjanji bahwa setiap pagi, sebelum dia berangkat, aku mesti mengatakan bahwa aku mencintainya. Dia juga membuat janji yang sama. Akhirnya hal itu menjadi semacam gurauan di antara kami.”

“Ketika anak-anak mulai lahir, sulit untuk menepati janji itu. Aku ingat aku suka lari ke mobilnya sambil berkata, ‘Aku mencintaimu’, dengan gigi terkatup rapat kalau aku sedang marah. Kadang aku mengemudi ke kantornya untuk menaruh catatan kecil di mobilnya. Hal itu menjadi tantangan yang lucu. Banyak kenangan kami tentang kebiasaan mengucapkan cinta ini setiap hari, sepanjang kehidupan perkawinan kami,” lanjutnya.

“Pada pagi Jim meninggal, ia menaruh kartu ulang tahun di dapur, lalu pergi diam-diam ke mobilnya. Kudengar mesin mobilnya dinyalakan. Jangan coba-coba kabur, ya, pikirku. Aku lari dan menggedor jendela mobilnya, sampai ia membukanya. ‘Hari ini, pada ulang tahunku yang kelima puluh, Bapak James E. Garrett, aku, Carol Garrett, ingin menyatakan bahwa aku mencintaimu.’ Karena itulah aku bisa tabah menghadapi peristiwa itu. Karena aku tahu bahwa kata-kata terakhir yang kuucapkan pada Jim adalah ‘Aku mencintaimu,’” ungkapnya sambil tersenyum simpul.

Iya..Pakailah lidah bibir kita untuk mengucapkan kata-kata yang manis, yang sedap untuk didengar telinga orang lain, terkhususnya lagi kepada orang-orang yang kita kasihi. Perkatakanlah hal-hal yang positif pada saat kita bertemu dengan mereka karena dengan begitu kita sedang memberkati hidup mereka dan meninggalkan kesan baik yang nantinya akan mereka tularkan kepada orang lain yang mereka temui di dalam keseharian mereka.

“HENDAKLAH KATA-KATAMU SENANTIASA PENUH KASIH” (Kolose 4:6) 

Source : inspirationalstories.com/bm (jawaban.com)

Tuesday, December 6, 2011

MEREDAKAN KEMARAHAN

Mungkin tidak banyak dari Anda yang mengenal pasangan suami istri asal Amerika Serikat ini, tetapi jika Anda mengetahui apa yang telah mereka lakukan di dalam kehidupan mereka pasti akan membuat mulut Anda terbuka lebar. Percy Arrowsmith dan Florence sempat masuk ke dalam buku rekor Guinness tahun 2005 sebagai suami istri tertua di dunia karena keduanya telah menikah selama 80 tahun.

Saat sebuah media lokal menanyakan mengenai rahasia keawetan rumah tangganya, pasangan kakek nenek ini menjawab bahwa mereka tidak akan pernah tidur sebelum konflik antarkeduanya selesai. Menurut mereka, membawa kemarahan di waktu tidur tidaklah mengenakkan. Mereka juga mengungkapkan, setiap bertengkar mereka selalu berusaha mengampuni sebelum larut malam agar hari itu bisa ditutup dengan ciuman dan genggaman tangan.

Kemarahan dapat datang tiba-tiba : ketika kita dicurangi, dituduh bersalah, atau saat melihat ketidakadilan. Tetapi kemarahan tidak berguna. Jika disimpan, ia bagai sampah yang membusuki hati. Biarkanlah Tuhan yang bertindak dan memunculkan keadilan di saat kita alami ketidakadilan.

Apakah anda sedang marah atau seringkali marah?  Datangnya marah tak bisa dicegah, tetapi ia bisa diredakan. Ceritakan kekesalan anda kepada Tuhan, nantikan Dia bertindak, lalu padamkan amarah Anda sebelum mentari terbenam. Jangan biarkan kemarahan mengotorkan hati, mematahkan semangat, dan mengganggu waktu tidur Anda!

Iya.. kemarahan itu bagaikan kanker, ia harus segera dibabat sebelum merambat.

“APABILA KAMU MENJADI MARAH..JANGANLAH KAMU BERBUAT DOSA. JANGANLAH MATAHARI TERBENAM..SEBELUM PADAM AMARAHMU." Efesus 4:26

Source : renungan-harian-kita.blogspot.com

Monday, November 21, 2011

CIUMAN TERAKHIR DARI AYAH

Rapat Direksi baru saja berakhir. Bob mulai bangkit berdiri dan menyenggol meja sehingga kopi tertumpah keatas catatan-catatannya.

Waduhhh..memalukan sekali aku ini, di usia tua kok tambah ngaco.....

Semua orang ramai tergelak tertawa, lalu sebentar kemudian, kami semua mulai menceritakan Saat-saat yang paling menyakitkan dimasa lalu dulu.

Gilirannya kini sampai pada Frank yang duduk terdiam mendengarkan kisah lain-lainnya.

Ayolah Frank, sekarang giliranmu. Cerita dong, apa saat yang paling tak enak bagimu dulu. Frank tertawa, mulailah ia berkisah masa kecilnya.

Aku besar di San Pedro. Ayahku seorang nelayan, dan ia cinta amat pada lautan. Ia punya kapalnya sendiri, meski berat sekali mencari mata pencaharian di laut. Ia kerja keras sekali dan akan tetap tinggal di laut sampai ia menangkap cukup ikan untuk memberi makan keluarga. Bukan cuma cukup buat keluarga kami sendiri, tapi juga untuk ayah dan ibunya dan saudara-saudara lainnya yang masih di rumah.

Ia menatap kami dan berkata, Ahhh, seandainya kalian sempat bertemu ayahku. Ia sosoknya besar, orangnya kuat dari menarik jala dan memerangi lautan demi mencari ikan. Asal kau dekat saja padanya, wuih, bau dia sudah mirip kayak lautan. Ia gemar memakai mantel cuaca-buruk tuanya yang terbuat dari kanvas dan pakaian kerja dengan kain penutup dadanya. Topi penahan hujannya sering ia tarik turun menutupi alisnya. Tak perduli berapapun ibuku mencucinya, tetap akan tercium bau lautan dan amisnya ikan.

Suara Frank mulai merendah sedikit.

Kalau cuaca buruk, ia akan antar aku ke sekolah. Ia punya mobil truk tua yang dipakainya dalam usaha perikanan ini. Truk itu bahkan lebih tua umurnya daripada ayahku. Bunyinya meraung dan berdentangan sepanjang perjalanan. Sejak beberapa blok jauhnya kau sudah bisa mendengarnya.

Saat ayah bawa truk menuju sekolah, aku merasa menciut ke dalam tempat duduk, berharap semoga bisa menghilang. Hampir separuh perjalanan, ayah sering mengerem mendadak dan lalu truk tua ini akan menyemburkan suatu kepulan awan asap. Ia akan selalu berhenti di depan sekali, dan kelihatannya setiap orang akan berdiri mengelilingi dan menonton. Lalu ayah akan menyandarkan diri ke depan, dan memberiku sebuah ciuman besar pada pipiku dan memujiku sebagai anak yang baik.

Aku merasa agak malu, begitu risih. Maklumlah, aku sebagai anak umur dua-belas, dan ayahku menyandarkan diri kedepan dan menciumi aku selamat tinggal!

Ia berhenti sejenak lalu meneruskan, Aku ingat hari ketika kuputuskan aku sebenarnya terlalu tua untuk suatu kecupan selamat tinggal/ Ciuman terakhir. Waktu kami sampai kesekolah dan berhenti, seperti biasanya ayah sudah tersenyum lebar. Ia mulai memiringkan badannya kearahku, tetapi aku mengangkat tangan dan berkata, Jangan, ayah. Itu pertama kali aku berkata begitu padanya, dan wajah ayah tampaknya begitu terheran.

Aku bilang, "Ayah, aku sudah terlalu tua untuk ciuman selamat tinggal."

Ayahku memandangiku untuk saat yang lama sekali, dan matanya mulai basah.

Belum pernah kulihat dia menangis sebelumnya. Ia memutar kepalanya, pandangannya menerawang menembus kaca depan. Kau benar, katanya.

Kau sudah jadi pemuda besar seorang pria. Aku tak akan menciumimu lagi.

Wajah Frank berubah jadi aneh, dan air mata mulai memenuhi kedua matanya, ketika ia melanjutkan kisahnya. Tidak lama setelah itu, ayah pergi melaut dan tidak pernah kembali lagi. Itu terjadi pada suatu hari, ketika sebagian besar armada kapal nelayan merapat dipelabuhan, tapi kapal ayah tidak.Ia punya keluarga besar yang harus diberi makan.

Kapalnya ditemukan terapung dengan jala yang separuh terangkat dan separuhnya lagi masih ada dilaut.Pastilah ayah tertimpa badai dan ia mencoba menyelamatkan jala dan semua pengapung-pengapungnya.

Aku mengawasi Frank dan melihat air mata mengalir menuruni pipinya.

Frank menyambung lagi, Kawan-kawan, kalian tak bisa bayangkan apa yang akan kukorbankan sekedar untuk mendapatkan lagi sebuah ciuman pada pipiku.untuk merasakan wajah tuanya yang kasar untuk mencium bau air laut dan samudra padanya..untuk merasakan tangan dan lengannya merangkul leherku.

Ahh, sekiranya saja aku jadi pria dewasa saat itu. Kalau aku seorang pria dewasa, aku pastilah tidak akan pernah memberi tahu ayahku bahwa aku terlalu tua tuk sebuah ciuman selamat tinggal.

SEMOGA KITA TIDAK MENJADI TERLALU TUA UNTUK MENUNJUKKAN CINTA KASIH KITA.

Source : forum.vivanews.com

Friday, November 11, 2011

KITA JUGA AKAN MENJADI TUA

Seorang ayah tua yang buta duduk berdampingan dengan putranya yang sedang membaca surat kabar, di bawah pohon rindang, menikmati kebahagiaan keluarga dengan bermandikan kehangatan sinar mentari sore, sungguh sebuah pemandangan yang indah.

Sang ayah mendengar ada kicauan burung, beruntun telah bertanya 4 kali kepada sang putra, “Suara apa itu?”

Sang putra kelihatan tidak sabaran menjawab, “Itu burung gereja..!!” Untuk ke-4 kalinya, ia sudah tak tertahankan dan marah-marah.

Ayahnya tak menjawab apa-apa hanya berjalan masuk ke rumah. Tak lama kemudian ia berjalan keluar menghampiri putranya, sambil menyerahkan buku harian yg ditulisnya waktu masih muda.Ia meminta anaknya membacakannya :

“Beberapa hari yang lalu, putra kecilku berjalan-jalan di kebun bersamaku, dia beruntun bertanya 21 kali ‘itu apa’, saya menjawabnya 21 kali ‘burung gereja’, setiap kali kupeluk anak kecil yang masih polos itu, dengan penuh kasih sayang memberi jawaban kepadanya...”

Sang putra membaca sampai di situ tiba-tiba merasa sangat menyesal, tak tertahankan dipeluknya erat-erat sang ayah sambil berkata, “Maafkan aku ayah! Maafkan aku ayah!”

Bila kita dapat membuat diri sendiri waspada, banyak memikirkan orang lain, memiliki saling pengertian, perhatian dan maaf, memperhatikan situasi pada saat kita berbicara dan nada bicara kita, selalu ingat agar bertindak perlahan-lahan (lemah lembut ) dan tidak terburu-buru menyalahkan..dapat diyakini bahwa setiap langkah di esok hari akan menjadi lebih baik.

IYA..BERSABARLAH KEPADA ORANG TUA KITA..KARENA KITA JUGA AKAN MENJADI TUA :)

Source : The Epoch Times

Wednesday, November 9, 2011

TIDAK ADA YANG SEMPURNA

Kisah seorang istri dari pasangan muda yang baru hidup bersama 1 tahun. Suatu malam, ketika sang suami sudah tertidur lelap disampingnya, sang istri masih terjaga.

Ditatapnya wajah suaminya, dan sang istri hanya bisa menggerutu dalam hati, melihat sosok si suami yang sebenarnya jauh dari idaman. Apalagi ketika sang suami mulai mendengkur cukup keras. Akhirnya dia menutup wajah dengan bantal dan mencoba tidur dengan segala kegalauan hati.

Namun belum lama terlelap dengan nyenyak, sang istri harus terbangun, karena kaki sang suami menyenggol kakinya. Memang seringkali sang suami banyak gerak tidurnya, dan ini yang kesekiankalinya terjadi kejadian yang sama.

Sang istri pun kaget, dan tanpa sadar untuk pertama kalinya agak membentak pada sang suami. Sang suami pun terbangun dan langsung meminta maaf.

Dengan sabarnya membujuk Sang istri untuk tenang. Setelah beberapa saat, akhirnya sang istri mulai mereda emosinya, kemudian dia bertanya untuk sebuah pertanyaan yang akhir-akhir ini mengganjal dalam fikirnya, “MENGAPA KAU MENIKAHIKU, MAS?”

Sang suamipun menghela nafas, tersenyum dan menjawab,

“Sebetulnya, memang kamu bukan wanita tipe idamanku, sayang. Tapi dari sekian waktu yang telah kita lewati bersama dulu, aku telah memilih untuk menjadikanmu pasangan hidup. Yang akan selalu kuperhatikan, kusayangi , dan kucintai untuk selamanya. Aku sadar, kalau aku selalu mencari sosok idaman, mungkin akan kudapatkan, tapi mungkin juga aku hanya akan selalu mencari dan mencarinya hingga Tuhan memanggilku, karena bisa jadi aku takkan pernah punya kesempatan bertemu dengan sosok idamanku itu atau malah dia akan menghindar untuk mencari idamannya juga. Jadi, kapan waktuku untuk membina keluarga?? Untuk menyayangi dan disayangi seseorang?”

Terhenyak sang istri mendengarnya, suatu penjelasan yang sederhana dan jauh dari egois. Sang istri tiba-tiba merasa sangat bersyukur telah “diberi kesempatan” untuk berkeluarga dan rasa cinta pada sang suami yang sempat ia pertanyakan sendiri, tiba-tiba tumbuh begitu dahsyat disertai sebuah kekaguman yang luar biasa. hingga air mata haru pun tak terasa menetes.

Mulai saat itu, tak pernah lagi sang istri mengingat-ingat sosok idamannya, sosok itu telah dia kubur dalam-dalam, dan dia mulai dapat menerima suaminya dengan segala kekurangan yang ada dan rasa syukur pun menjadi pengingat senyumnya di setiap waktu.

“PASANGAN HIDUP KITA ADALAH YANG TERBAIK. TAK PERLU MENGHABISKAN WAKTU DAN ENERGI UNTUK SELALU MEMIKIRKAN KEKURANGANNYA. KARENA TIDAK AKAN PERNAH KAU DAPATKAN PASANGAN SEMPURNA SESUAI DENGAN KEINGINANMU. BILA INGIN SUATU CINTA LEBIH INDAH..BAHAGIA DAN ABADI. BERIKAN HATIMU UNTUK MENGISI YANG KURANG DAN MENGURANGI YANG BERLEBIHAN ATAS APA YANG ADA PADA DIRI KALIAN BERDUA.."

Source : Rumah Renungan

Saturday, November 5, 2011

JENDELA

Sepasang orang muda yang baru menikah menempati rumah di sebuah komplek perumahan.

Suatu pagi, sewaktu sarapan, si istri melalui jendela kaca. Ia melihat tetangganya sedang menjemur kain.

"Cuciannya kelihatan kurang bersih ya", kata sang istri.

"Sepertinya dia tidak tahu cara mencuci pakaian dengan benar. Mungkin dia perlu sabun cuci yang lebih bagus."

Suaminya menoleh, tetapi hanya diam dan tidak memberi komentar apapun.

Sejak hari itu setiap tetangganya menjemur pakaian, selalu saja sang istri memberikan komentar yang sama tentang kurang bersihnya si tetangga mencuci pakaiannya.

Seminggu berlalu, sang istri heran melihat pakaian-pakaian yang dijemur tetangganya terlihat cemerlang dan bersih, dan dia berseru kepada suaminya, “Lihat, sepertinya dia telah belajar bagaimana mencuci dengan benar. Siapa ya kira2 yang sudah mengajarinya?”

Sang suami berkata, "Saya bangun pagi-pagi sekali hari ini dan membersihkan jendela kaca kita."

DAN BEGITULAH KEHIDUPAN...APA YANG KITA LIHAT PADA SAAT MENILAI ORANG LAIN TERGANTUNG KEPADA KEJERNIHAN PIKIRAN(JENDELA) LEWAT MANA KITA MEMANDANGNYA  :) 

Source : Rumah Renungan

Friday, November 4, 2011

CERITA CINTA

Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami bertengkar karena hal-hal kecil. Karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor. Karena meja sudut di ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja.

Hari ini, 27 Agustus adalah ulang tahun Ellen. Kami bertengkar pagi ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan. Malam sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.

Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan bertemu dengan Ellen membuatku semakin kesal!

Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di rumah.

Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. "Ia sungguh cantik" kataku dalam hati, "Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap saja cantik". Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya..

Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.

14 Februari 1996. Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku. Hmm… aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya.

6 September 2001, Tak sengaja kulihat Vincent makan malam dengan wanita lain sambil tertawa mesra.. Tuhan, aku mohon agar Vincent tidak pindah ke lain hati. Jantungku serasa mau berhenti...

23 Oktober 2001, Aku menemukan surat ucapan terima kasih untuk Vincent, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang wanita dengan nama Melly. Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku untuk apa yang Kau kehendaki agar aku ketahui…

Jantungku benar-benar mau berhenti. Melly, wanita yang sempat dekat denganku disaat usia hubunganku dengan Ellen telah mencapai 5 tahun. Melly, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan hubunganku dengan Ellen karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan untuk tidak bertemu dengan Melly lagi setelah dekat dengannya selama 4 bulan, dan memutuskan untuk tetap setia kepada Ellen. Aku sungguh tak menduga kalau Ellen mengetahui hubunganku dengan Melly.

4 Januari 2002, Aku dihampiri wanita bernama Melly, Ia menghinaku dan mengatakan Vincent telah selingkuh dengannya. Tuhan, beri aku kekuatan yang berasal daripadaMu.

Bagaimana mungkin Ellen sekuat itu, ia tak pernah mengatakan apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah menghianatinya. Aku tahu Melly, dia pasti telah membuat hati Ellen sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya. Nafasku sesak, tak mampu kubayangkan apa yang Ellen rasakan saat itu.

14 Februari 2002, Vincent melamarku di hari jadi kami yang ke-6. Tuhan apa yang harus kulakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang harus kuambil.

14 Februari 2003, Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi Nyonya Alexander Vincent Winoto. Terima kasih Tuhan!

18 Juli 2005, Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku harap aku tak kemanisan lagi membuatkan teh untuknya. Tuhan, bantu aku agar lebih berhati-hati membuatkan teh untuk suamiku.

7 April 2006, Vincent marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama. Seharian aku berada mall mencari jam idaman Vincent, aku ingin membelikan jam itu di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian di hati Vincent agar ia tidak marah lagi padaku, aku tak akan tidur di sore hari lagi kalau Vincent belum pulang walaupun aku lelah.

Aku mulai menangis, Ellen mencoba membahagiakanku tapi aku malah memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah jam kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia membelikannya dengan susah payah.

15 November 2007, Vincent butuh meja untuk menaruh kopi di ruang keluarga, dia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu aku menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja, hadiah Natal untuk Vincent.

Aku tak dapat lagi menahan tangisanku, Ellen tak pernah mengatakan meja itu adalah hadiah Natal untukku. Ya, ia memang membelinya di malam Natal dan menaruhnya hari itu juga di ruang keluarga. Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Ellen sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat. Aku berlari keluar kamar, kukecup kening Ellen dan ia terbangun… "Maafkan aku Ellen, Aku mencintaimu, Selamat ulang tahun…"

KEKUATAN..KETAHANAN DAN KESETIAAN IMAN KITA DAPAT DIBUKTIKAN PADA SAAT MENGHADAPI MASALAH ATAU PERGUMULAN HIDUP. MINTALAH PERTOLONGAN KEPADA TUHAN..MAKA KITA AKAN DIKUATKAN :)

Source : Rumah Renungan/BKM - Buletin Komunitas Mudika Edisi Oktober 2008

Saturday, October 1, 2011

LIMA MENIT LAGI, AYAH

Di taman bermain pada satu hari, duduk seorang wanita di samping pria di bangku taman di dekat tempat bermain anak-anak.

“Itu anak laki-laki saya di sebelah sana,” kata wanita tersebut sambil menunjuk seorang anak kecil dengan sweater merah yang sedang meluncur ke bawah seluncuran.

“Dia kelihatan anak yang baik” pria tersebut berkata. “Itu anak perempuan saya yang berpakaian putih dan sedang mengendarai sepeda.

”Lalu, setelah melihat jam tangannya, dia memanggil anak perempuannya itu. “Bagaimana kalau kita pergi sekarang, Mellisa?

”Mellisa memohon, “Lima menit lagi ya, Ayah. Ya? Cuma lima menit lagi kok.

”Pria tersebut mengangguk dan Mellisa melanjutkan mengendarai sepedanya dengan senang hati. Menit-menit berlalu dan sang ayah berdiri dan memanggil lagi putrinya tersebut. “Saatnya untuk pergi sekarang?

”Sekali lagi Mellisa memohon, “Lima menit lagi, Ayah. Cuma lima menit lagi…

”Pria itu tersenyum dan berkata, “OK”

“Wow, Anda tentunya seorang ayah yang sabar,” kata wanita yang di sampingnya.

Pria itu tersenyum menanggapi dan berkata, “Kakak laki-lakinya Tommy, terbunuh karena seorang pemabuk yang menyetir tahun lalu ketika dia sedang bersepeda di dekat sini. Aku tidak pernah menghabiskan banyak waktu dengan Tommy dan sekarang aku bersedia memberikan apapun agar bisa menghabiskan waktu lima menit saja dengannya. Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan Mellisa. Mellisa pikir dia punya lima menit lebih banyak untuk bersepeda. Kenyataannya, aku mendapatkan lima menit lebih banyak untuk menontonnya bermain.

”Hidup adalah tentang membuat prioritas, apa yang menjadi prioritas Anda? Sudahkah Anda menghabiskan lima menit lebih banyak kepada keluarga Anda?

BERI WAKTU LIMA MENIT DAN LIMA MENIT LAGI KEPADA ORANG YANG ANDA KASIHI SAAT INI DAN SETIAP WAKTU YANG ANDA PUNYA.
 

Source : jawaban.com