Saya bisa merasakan kulit di pipi terbakar karena terpaan angin beku di bulan Januari saat membersihkan lapisan es di wiper kaca mobil. Tangan saya juga ikut membeku saat es mencair di telapak sarung tangan.
Kaca depan saya usap sehingga bagian dalam mobil bisa terlihat. Segera saya masuk ke mobil, mengambil termos dan menuang secangkir kopi. Saya hangatkan telapak tangan dengan tiupan nafas yang beraroma kopi. Hari ini terasa begitu berat untuk dilalui.
"Ayo, bisa jalan ya.." kata saya sambil menyentuh dashboard dengan menambahkan sebuah doa pendek sebelum memutar kunci kontak.
Rupanya mobil saya mulai protes lebih dari biasanya; mesin tua mobil ini mengeluarkan suara yang gemuruh seperti ringkikan kuda, jauh bila dibandingkan dengan suara alat transportasi moderen. Suaranya seperti perasaan saya saat itu. Jelas sekali bahwa mobil ini perlu secangkir perhatian yang penuh kasih. Saya harap bisa memperlakukanmu dengan lebih baik, kata saya dalam hati.
Saya mengocok pedal gas, dan memutar kunci kontak lagi. Sekali lagi mesin tidak mau hidup. Yang ketiga kali, saya menenangkan diri dan mulai berharap. Kemudian kunci kontak saya putar lagi. Mesin perlahan mulai menyala, dan saya menginjak pedal gas kuat-kuat – cukup untuk membuat mesin tua meraung-raung, tapi tidak sampai hancur. Akhir-akhir ini mobil saya menjadi semakin susah untuk dihidupkan.
Hubungan yang sulit dengan mobil tua ini bukan hal yang baru untuk saya. Saya tumbuh di pegunungan Apalachia (Amerika Selatan); sebuah daerah yang bersalju yang membuat kehidupan menjadi berat dan orang harus bekerja dengan keras untuk dapat bertahan hidup.
Saat berumur tujuh tahun, ayah membuat saya menjadi seorang yatim piatu dengan membunuh ibu dalam keadaan mabuk dan kemudian menembak dirinya sendiri. Saya tumbuh sebagai penduduk asli pegunungan Appalachia, yang memiliki kultur yang keras; tapi saya berusaha menyesuaikan diri dan harus bisa bertahan hidup. Tahun ini, bagaimanapun juga, adalah tahun yang memiliki kenangan indah buat saya.
Suami saya Roger, yang telah bersama saya selama dua puluh lima tahun, sedang berjuang di tempat tidur rumah sakit yang dingin. Saya ingin bisa selalu berada disampingnya untuk menghibur dan memberinya semangat karena rasa sakit yang hebat akibat penyakit Leukimia. Tetapi penyakitnya tidak membuat dunia saya lenyap. Saya masih punya anak usia SMU yang harus diberi makan di rumah. Tagihan listrik yang harus dibayar, cicilan rumah dan gas yang harus diisi ditangkinya, sementara setiap hari saya sendiri harus bolak-balik menempuh perjalanan ratusan kilometer jauhnya dari rumah ke rumah sakit.
Saya mulai merasakan seperti saat saya masih kecil. Semua tergantung pada diri saya sendiri, karena saya adalah yatim piatu. Dari tempat kerja saya harus segera ke rumah sakit menunggu Roger yang semakin parah. Setelah Roger tidur saya bergegas pulang, tidur sebentar, bangun jam 4 pagi, mencuci baju dan membuatkan sarapan untuk anak laki-laki saya, dan menyiapkan makan malam roti sandwich di kulkas jika dia pulang dari sekolah. Tapi roti makan siang saya sendiri kadang-kadang terjatuh dari tangan karena keletihan yang luar biasa. Saat ini saya membutuhkan secangkir kelembutan hati untuk menyegarkan jiwa saya.
Saya membasuh muka di toillet untuk menyegarkan wajah sebelum kembali bekerja. Saya tidak pernah memakai riasan wajah, karena sama sekali tidak punya waktu untuk itu.
"Brenda.."
Saya melihat teman kerja saya, Darlene. Dengan kulit coklatnya, dia menatap saya dengan lembut dan ada kasih di dalamnya. Dia melihat sebentar ke sekelilingnya, kemudian menarik tangan saya dan meletakkan sejumlah uang di dalamnya. Saya memandangnya dengan keheranan. Saat mencoba membuka mulut, tetapi dia menahannya.
"Jangan ceritakan ke siapa pun tentang uang ini." Katanya. "Pergilah, dan perbaiki mobilmu. Jika masih kurang tolong beri tahu saya." Dia berbalik dan pergi.
Keheranan saya berubah menjadi kekaguman. Saya hanya tahu sedikit mengenai Darlene. Seperti yang terjadi di generasi seusia saya, beberapa teman yang saya punya semuanya adalah orang kulit putih. Darlene dan saya berasal dari dunia yang berbeda.
Saya tumbuh di daerah pegunungan bersalju Appalachia dimana orang Amerika dari Afrika tidak ada. Kami berada dalam lingkungan yang penuh prasangka dan kebencian. SMU saya masih mempunyai maskot yang bernama Pemberontak..dan diarak dibawah bendera Konfederasi (Konfederasi adalah pendukung perbudakan).
Walaupun saya tidak memiliki sifat yang berprasangka dan rasis, saya selalu waspada dan membatasi pergaulan hanya dengan orang kulit putih saja. Kulit Darlene yang coklat sangat berbeda dengan kulit pucat saya; begitu juga dengan cara bicara dengan aksen Selatan saya. Akan tetapi, diluar itu semua, tampaknya saya tidak hanya membutuhkan dukungan finansial, tetapi lebih dari itu saya membutuhkan sebuah sentuhan kasih..dimana Darlene sudah melangkah melintasi batas-batas yang tak terlihat, dan dia menjadi sahabat baik saya.
Persahabatan kami tumbuh dengan kuat; dan saya mengakui bahwa Darlene adalah seorang wanita yang sangat kuat. Dukungannya sangat kokoh, terutama saat Roger meninggal. Dia menawarkan secangkir kasih dalam kelembutan saat saya jatuh, dimana dia selalu ada untuk berbagi tawa dan air mata.
Saat keadaan saya mulai stabil, Darlene tidak pernah menawarkan bantuan uang lagi. Dia bahkan tidak pernah meminta saya untuk mengembalikannya. Saya mulai merasakan keberadaan Darlene dalam seluruh hidup saya. Seperti embun di pagi hari, perbedaan budaya diantara kami mulai menguap.
Darlene adalah guru saya; mengajari tentang kasih yang tulus. Darlene telah melangkah melewati jurang prasangka rasial dan ketidakpahaman; yang berikutnya mengajarkan bahwa saya juga punya tanggung jawab terhadap umat manusia untuk menyediakan secangkir kelemahlembutan dan kasih kepada yang membutuhkannya. Dan oleh karena Darlene; cangkir kelemahlembutan dan kasih saya mulai beredar ke orang lain.
Brenda Caperton
KASIH DAPAT MENYEBABKAN SESEORANG TERUS BERTAHAN, SEKALIPUN DALAM KESUKARAN.
Source : indowebster.web.id
Picture by : info-cepat.blogspot.com
Wednesday, May 9, 2012
PENJARA MASA LALU
Tidak sedikit orang yang secara fisik hidup pada masa sekarang, tetapi hati dan pikirannya masih berada pada masa lalu. Banyak orang masih terbelenggu dengan apa yang dialami di masa lalu. Karena itu mereka tidak bisa mengungkapkan potensi mereka secara maksimal.
Seorang gadis yang terus terkenang dengan pacar lamanya, sehingga ia tidak bisa bahagia dengan pacarnya yang sekarang. Seorang pemuda yang terus dikejar penyesalan karena pada masa lalu ia pernah melakukan tindakan sangat tercela. Sungguh, betapa tidak nyamannya hidup dalam “penjara masa lalu”. Sangat menyesakkan.
Kadang masa lalu itu memang terlalu menyakitkan atau kadang terlalu menyenangkan sehingga membuat kita sulit untuk melupakannya. Membuat kita tergoda untuk melihat lagi ke belakang, padahal seharusnya kita terus melangkah dan menatap ke depan.
Betapa pun masa lalu yang telah kita alami, manis atau pahit, semuanya sudah berlalu. Dan hidup kita tidak pernah surut ke belakang. Masa lalu baik untuk kita jadikan cermin, tetapi akan tidak baik kalau terus-menerus kita “pegang”. Sebuah ungkapan bijak: Kemarin adalah kenangan, esok adalah misteri, hari ini adalah kenyataan.
Iya..jangan sia-siakan masa kini hanya untuk sebuah masa lalu yang sudah mati.
LEARN FROM THE PAST..LIVE IN THE PRESENT..BELIEVE IN THE FUTURE!
Source : jampitoe.wordpress.com
Picture by : hendarstory.blogspot.com
Seorang gadis yang terus terkenang dengan pacar lamanya, sehingga ia tidak bisa bahagia dengan pacarnya yang sekarang. Seorang pemuda yang terus dikejar penyesalan karena pada masa lalu ia pernah melakukan tindakan sangat tercela. Sungguh, betapa tidak nyamannya hidup dalam “penjara masa lalu”. Sangat menyesakkan.
Kadang masa lalu itu memang terlalu menyakitkan atau kadang terlalu menyenangkan sehingga membuat kita sulit untuk melupakannya. Membuat kita tergoda untuk melihat lagi ke belakang, padahal seharusnya kita terus melangkah dan menatap ke depan.
Betapa pun masa lalu yang telah kita alami, manis atau pahit, semuanya sudah berlalu. Dan hidup kita tidak pernah surut ke belakang. Masa lalu baik untuk kita jadikan cermin, tetapi akan tidak baik kalau terus-menerus kita “pegang”. Sebuah ungkapan bijak: Kemarin adalah kenangan, esok adalah misteri, hari ini adalah kenyataan.
Iya..jangan sia-siakan masa kini hanya untuk sebuah masa lalu yang sudah mati.
LEARN FROM THE PAST..LIVE IN THE PRESENT..BELIEVE IN THE FUTURE!
Source : jampitoe.wordpress.com
Picture by : hendarstory.blogspot.com
Sunday, May 6, 2012
GADIS DENGAN SETANGKAI BUNGA MAWAR
John Blanford berdiri tegak di atas bangku di Stasiun Kereta Api sambil melihat ke arah jarum jam, pukul 6 kurang 6 menit. John sedang menunggu seorang gadis yang dekat di hatinya, tetapi dia tidak mengenal wajahnya. Seorang gadis dengan setangkai mawar.
Lebih dari setahun yang lalu, John membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan. Rasa ingin tahunya terpancing saat ia melihat coretan tangan yang halus di buku tersebut. Pemilik terdahulu buku tersebut adalah seorang gadis bernama Hollis Molleoin.
Hollis tinggal di New York dan John di Florida. John mencoba menghubungi sang gadis dan mengajaknya untuk saling bersurat. Beberapa hari kemudian, John dikirim ke medan perang, Perang Dunia II. Mereka terus saling menyurati selama hampir 1 tahun. Setiap surat seperti layaknya bibit yang jatuh di lantai yang subur dalam hati masing-masing dan menumbuhkan jalinan cinta di antara mereka.
John berkali-kali meminta agar Hollis mengiriminya sebuah foto. Akan tetapi sang gadis selalu menolak.
“Kalau perasaan cintamu tulus, John. Bagaimanapun paras saya tidak akan mengubah perasaan itu. Kalau saya cantik, selama hidup saya akan bertanya tanya apakah mungkin perasaanmu itu hanya dikarenakan kecantikan saya saja. Kalau saya biasa-biasa atau cenderung jelek, saya takut kamu akan terus menulis hanya karena kamu merasa kesepian dan tidak ada orang lain lagi tempat kamu mengadu. Jadi, sebaiknya kamu tidak usah mengetahui paras saya. Sekembalinya kamu ke New York, kita akan bertemu muka. Pada saat itu, kita akan bebas menentukan apa yang akan kita lakukan.” kata sang gadis.
Mereka berdua membuat janji untuk bertemu di Stasiun Pusat di New York pada pukul 6 sore setelah perang usai.
“Kamu akan mengenali saya, John. Karena saya akan menyematkan setangkai bunga mawar merah pada kerah baju. ” Kata Hollils.
Pukul 6 kurang 1 menit, sang perwira muda semakin gelisah. Tiba-tiba, jantungnya serasa hampir copot, dilihatnya seorang gadis yang sangat cantik berbaju hijau lewat di depannya, tubuhnya langsing, rambutnya pirang bergelombang, matanya biru seperti langit, luar biasa cantiknya.
Sang perwira mulai menyusul sang gadis, dia bahkan tidak menghiraukan kenyataan bahwa sang gadis tidak mengenakan bunga seperti yang telah disepakati. Hanya tinggal 1 langkah lagi ketika John melihat seorang wanita berusia 40 tahun mengenakan sekuntum mawar merah di kerahnya. “O… itu Hollis!!!”
Rambutnya sudah mulai beruban dan agak gemuk. Gadis berbaju hijau hampir menghilang. Perasaan sang perwira mulai terasa terbagi dua, ia ingin berlari mengejar sang gadis cantik. Di sisi lain, ia tidak ingin menghkhianati Hollis yang lembut dan telah menemaninya selama masa perang.
Tanpa berpikir panjang, John berjalan menghampiri wanita yang berusia setengah baya itu dan menyapanya. “Nama saya John Blanford, Anda tentu saja Nona Hollis. Bahagia sekali bisa bertemu dengan Anda. Maukah Anda makan malam bersama saya?”
Sang wanita tersenyum ramah dan berkata, “Anak muda, saya tidak tahu apa arti semua ini. Tetapi seorang gadis berbaju hijau yang baru saja lewat memaksa saya untuk mengenakan bunga mawar ini dan dia mengatakan kalau Anda mengajak saya makan, maka saya diminta untuk memberitahu Anda bahwa dia menunggu Anda di restoran di ujung jalan ini. Katanya semua ini hanya untuk menguji Anda.”
Kita tidak bisa benar-benar yakin akan suatu hal, sebelum hal itu diuji. Seperti halnya ketika kita harus melewati ujian agar bisa dnyatakan menguasai suatu ilmu. Obat akan diuji sebelum diakui dan dipergunakan.
Demikian juga dengan perasaan cinta.
SUATU RELASI MENCAPAI KESEJATIANNYA SETELAH MENGALAMI BERBAGAI UJIAN. TERMASUK UJIAN KESETIAAN. APAKAH KITA CUKUP SETIA DENGAN PILIHAN KITA ATAU DENGAN MUDAH BERPALING KEPADA ORANG LAIN?
Source : renungan-harian.com
Lebih dari setahun yang lalu, John membaca buku yang dipinjam dari perpustakaan. Rasa ingin tahunya terpancing saat ia melihat coretan tangan yang halus di buku tersebut. Pemilik terdahulu buku tersebut adalah seorang gadis bernama Hollis Molleoin.
Hollis tinggal di New York dan John di Florida. John mencoba menghubungi sang gadis dan mengajaknya untuk saling bersurat. Beberapa hari kemudian, John dikirim ke medan perang, Perang Dunia II. Mereka terus saling menyurati selama hampir 1 tahun. Setiap surat seperti layaknya bibit yang jatuh di lantai yang subur dalam hati masing-masing dan menumbuhkan jalinan cinta di antara mereka.
John berkali-kali meminta agar Hollis mengiriminya sebuah foto. Akan tetapi sang gadis selalu menolak.
“Kalau perasaan cintamu tulus, John. Bagaimanapun paras saya tidak akan mengubah perasaan itu. Kalau saya cantik, selama hidup saya akan bertanya tanya apakah mungkin perasaanmu itu hanya dikarenakan kecantikan saya saja. Kalau saya biasa-biasa atau cenderung jelek, saya takut kamu akan terus menulis hanya karena kamu merasa kesepian dan tidak ada orang lain lagi tempat kamu mengadu. Jadi, sebaiknya kamu tidak usah mengetahui paras saya. Sekembalinya kamu ke New York, kita akan bertemu muka. Pada saat itu, kita akan bebas menentukan apa yang akan kita lakukan.” kata sang gadis.
Mereka berdua membuat janji untuk bertemu di Stasiun Pusat di New York pada pukul 6 sore setelah perang usai.
“Kamu akan mengenali saya, John. Karena saya akan menyematkan setangkai bunga mawar merah pada kerah baju. ” Kata Hollils.
Pukul 6 kurang 1 menit, sang perwira muda semakin gelisah. Tiba-tiba, jantungnya serasa hampir copot, dilihatnya seorang gadis yang sangat cantik berbaju hijau lewat di depannya, tubuhnya langsing, rambutnya pirang bergelombang, matanya biru seperti langit, luar biasa cantiknya.
Sang perwira mulai menyusul sang gadis, dia bahkan tidak menghiraukan kenyataan bahwa sang gadis tidak mengenakan bunga seperti yang telah disepakati. Hanya tinggal 1 langkah lagi ketika John melihat seorang wanita berusia 40 tahun mengenakan sekuntum mawar merah di kerahnya. “O… itu Hollis!!!”
Rambutnya sudah mulai beruban dan agak gemuk. Gadis berbaju hijau hampir menghilang. Perasaan sang perwira mulai terasa terbagi dua, ia ingin berlari mengejar sang gadis cantik. Di sisi lain, ia tidak ingin menghkhianati Hollis yang lembut dan telah menemaninya selama masa perang.
Tanpa berpikir panjang, John berjalan menghampiri wanita yang berusia setengah baya itu dan menyapanya. “Nama saya John Blanford, Anda tentu saja Nona Hollis. Bahagia sekali bisa bertemu dengan Anda. Maukah Anda makan malam bersama saya?”
Sang wanita tersenyum ramah dan berkata, “Anak muda, saya tidak tahu apa arti semua ini. Tetapi seorang gadis berbaju hijau yang baru saja lewat memaksa saya untuk mengenakan bunga mawar ini dan dia mengatakan kalau Anda mengajak saya makan, maka saya diminta untuk memberitahu Anda bahwa dia menunggu Anda di restoran di ujung jalan ini. Katanya semua ini hanya untuk menguji Anda.”
Kita tidak bisa benar-benar yakin akan suatu hal, sebelum hal itu diuji. Seperti halnya ketika kita harus melewati ujian agar bisa dnyatakan menguasai suatu ilmu. Obat akan diuji sebelum diakui dan dipergunakan.
Demikian juga dengan perasaan cinta.
SUATU RELASI MENCAPAI KESEJATIANNYA SETELAH MENGALAMI BERBAGAI UJIAN. TERMASUK UJIAN KESETIAAN. APAKAH KITA CUKUP SETIA DENGAN PILIHAN KITA ATAU DENGAN MUDAH BERPALING KEPADA ORANG LAIN?
Source : renungan-harian.com
Friday, May 4, 2012
STOP..LOOK..LISTEN
Palang kereta api biasanya tergantung di atas, tetapi di Taiwan, ada sebuah papan rambu di depan palang kereta, yang tertulis: “Berhenti, Melihat, Mendengar”. Tiga kata ini untuk memperingatkan pengendara dan pejalan kaki yang lewat, memperhatikan apakah ada kereta api yang akan lewat di sana.
Dalam hati saya pernah berpikir : “Berhenti, Melihat, Mendengar” tiga kata ini, jika diterapkan dalam pergaulan atau hubungan antar manusia, sebenarnya sangat sesuai. Bisa mengurangi timbulnya bentrokan atau perselisihan, juga mengurangi perilaku yang suka memukul dan memaki orang seenaknya. Di bawah ini ada kisah kecil, yang bisa mendukung pemikiran saya.
Ada seorang ibu menelepon seorang arsitek yang merancang rumahnya, bahwa tempat tidurnya dapat bergeser ketika kereta api lewat. Arsitek itu menjawab: “Ini tidak mungkin! Coba saya buktikan sendiri.”
Setelah arsitek itu tiba di sana, ibu itu memberi saran kepadanya untuk berbaring di ranjangnya, agar mengalami sendiri saat kereta api lewat nanti. Baru saja arsitek itu rebah di atas ranjang, suami ibu itu kebetulan pulang ke rumah.
Melihat pemandangan itu, sang suami menghardik dengan keras: “Mengapa Anda berbaring di ranjang saya?”
Dengan suara ketakutan arsitek itu menjawab: “Apakah Anda percaya, jika saya katakan sedang menunggu kereta api?”
Peran sang suami dalam cerita ini, sudah sewajarnya menggunakan pengalamannya untuk menganalisa kondisi yang dia lihat. Memahaminya berdasarkan pemikirannya sendiri: arsitek tersebut telah berselingkuh dengan istrinya. Siapa pun orangnya, walau dia memiliki daya khayal yang tinggi, juga sulit memahami bahwa seorang arsitek masuk ke kamarnya dan berbaring di ranjang hanya untuk menunggu kereta api lewat.
Saya sering berpikir, ketika konflik diantara manusia, jika seseorang sebelum “memukul atau mencaci orang lain”, bisa berhenti sejenak, lalu melihat keadaan orang lain, serta mau mendengar alasan yang dikatakan orang lain, maka cacian dan perkelahian itu bisa dihindari. Selain itu, jika sering kali menemui pengalaman seperti ini, maka empati orang tersebut juga akan bertambah, lama kelamaan, rasa belas kasihnya juga akan berangsur-angsur berkembang.
Sebaliknya, seseorang yang tidak pernah melakukan “Berhenti, Melihat, Mendengar”, melihat orang lain tidak searah dengan hatinya, langsung mengarahkan tombak keluar, diayunkan ke arah lawan. Maka orang tersebut mungkin tidak ada kesempatan untuk belajar berempati. Dalam jangka waktu panjang orang tersebut, mungkin akan menjadi mati rasa (tidak berperasaan), dingin, hatinya keras bagaikan batu dan besi.
"BERHENTI, MELIHAT, MENDENGAR, " PERILAKU YANG SEDERHANA..TETAPI ADEGAN SELANJUTNYA SEPERTI PERTENGKARAN ATAU AKIBAT YANG LEBIH BURUK BISA DIHINDARKAN.
Source : The Epoch Times (Huang Jin Yuan)
Thursday, May 3, 2012
KOTAK SEPATU
Henry dan Marta sudah menikah lebih dari
40 tahun. Tentu, sepasang manusia itu kini telah renta. Umur Henry 72
tahun dan umur Marta 68 tahun. Ketika hidup berumah tangga, keduanya
tidak pernah menyimpan rahasia. Kecuali, sebuah kotak sepatu yang di
simpan Marta di lemari pakaiannya.
Marta berpesan kepada suaminya untuk tidak sekali-kali membukanya atau bahkan menanyakan tentang barang itu kepadanya.
Marta berpesan kepada suaminya untuk tidak sekali-kali membukanya atau bahkan menanyakan tentang barang itu kepadanya.
Suatu ketika, Marta sakit keras. Berbagai
upaya telah dilakukan oleh Henry dan anak-anak mereka untuk
menyembuhkan Marta. Tetapi, tak satu pun yang berhasil. Dokter sudah
angkat tangan dengan penyakit Marta. Mengingat tuanya usia Marta, tidak
mungkin bagi dokter untuk melakukan tindakan-tindakan medis seperti yang
biasa dilakukan pada penderita biasa.
Saat berbaring di tempat tidur, Marta
berkata lirih pada suaminya,
“Tolong ambilkan kotak sepatu di lemari
pakaianku.”
Henry segera beranjak dari tempat duduknya dan mengambil
kotak sepatu itu, lalu memberikannya pada istrinya. Rupanya Marta sadar,
bahwa ini adalah saat yang tepat untuk membuka rahasia di dalam kotak
sepatu itu.
“Bukalah.” Marta berkata lagi pada
suaminya.
Perlahan-lahan Henry membuka penutup kotak itu. Henry
mendapati ada dua boneka rajut dan setumpuk uang senilai hampir sepuluh
juta rupiah. Henry lalu menanyakan ada apa dengan dua boneka rajut dan
uang itu pada istrinya.
“Ketika kita menikah, ada sebuah rahasia
perkawinan yang dituturkan Nenekku.” Marta bercerita, “Nenekku berpesan
bahwa jangan sekali-kali membentak atau berteriak pada suamimu. Nenek
bilang jika suatu saat saya marah padamu, saya harus tetap diam dan
merajut sebuah boneka.”
Henry hanya bisa terdiam saat mendengar cerita
istrinya. Dan, air mata pun mulai bercucuran di pipinya.
“Sayang, lalu bagaimana dengan uang
sepuluh juta ini?” Tanya Henry pada Marta,
“Darimana engkau mendapatkan
sebanyak ini?” Isteri menyahut,
“Oh, itu adalah uang hasil penjualan
dari boneka-boneka yang pernah saya buat.”
TIADA PERKAWINAN YANG BAHAGIA TANPA PENGORBANAN TIADA HENTI ~ S. Belen
Source : virouz007.wordpress.com (Didik)
Wednesday, May 2, 2012
THIS TOO SHALL PASS
Apakah anda sedang menghadapi masalah besar? Anda ada di dalam kekalutan? Ijinkan saya menceritakan kisah Raja Salomo dan Panglima Benaya Bin Yodaya.
Raja Salomo terkenal amat bijak. Dia senang akan pengetahuan. Suatu hari ia ingin menggoda Benaya, panglimanya yang sangat hebat dari segi ilmu perang, tapi menurut Salomo kurang berhikmat.
“Benaya, saya menugaskan engkau mencari Cincin Sakti”
“Apa kesaktian cincin ini, Baginda?”
“Hanya dengan memandang cincin ini, orang gembira akan menjadi sedih, dan orang sedih akan menjadi gembira”, jelas Salomo.
Maka berangkatlah Benaya ke seluruh pelosok kerajaan, mencari Cincin Sakti ini. Upayanya nyaris sia-sia, sampai suatu hari ia bertemu seorang kakek pedagang yang datang dari jauh. Dengan berharap cemas, Benaya bertanya mana tahu sang kakek ini tahu Cincin Sakti.
Mendengar penjelasan Benaya, sang kakek mengeluarkan cincin emas dan mengukirkan tiga kata di situ, lalu menjualnya kepada Benaya.
Benaya membacanya dan tersenyum. Pencariannya telah berakhir. Segera ia datang ke singasana Raja Salomo. Melihat Benaya datang, Raja dan para menteri tersenyum geli. Mereka merasa berhasil mempermainkan Benaya.
Dengan senyum lebar Raja Salomo memandang cincin itu, dan saat ia membaca ketiga kata yang terukir di sana, wajahnya berubah cemberut. Di situ tertulis: “Gimel Zayin Yud”, artinya “Inipun akan berakhir!”.
Raja Salomo menyadari, semua kehebatannya, semua hikmatnya, akan berakhir. Suatu saat ia akan kembali menjadi debu. Wajahnya berubah dari gembira menjadi sedih. Persis seperti yang ia minta pada Benaya.
Tapi tiga kata itupun menjadi sumber kekuatan bagi begitu banyak orang yang menderita.
“Inipun akan berakhir (This too shall pass)”
Ini menjadi sumber kekuatan Abraham Lincoln ketika menghadapi masalah perang sipil. Ini menjadi kekuatan Martin Luther King saat menghadapi penindasan terhadap kulit hitam. Dan Presiden Obama pun menggunakan “cincin sakti” ini saat menghadapi krisis ekonomi yang hebat.
Banyak kita sangat tertekan karena merasa bahwa masalah yang kita hadapi, kesulitan yang kita alami itu, penyakit yang kita idap, situasi buruk yang melingkupi kita itu bersifat permanen. Selama-lamanya.
Padahal tidak. Kata Cincin Sakti itu juga “Gimel zayin yud..”, Tidak ada yang kekal. Termasuk kesulitan kita.
JADI SAAT PIKIRAN KITA DIGANGGU DENGAN BEBAN MASALAH. JANGAN KUATIR..ITU CUMA SEMENTARA..ITU CUMA TRANSISI..THIS TOO SHALL PASS!
-Armein Z. R.
Source : jampitoe.wordpress.com
Picture by : anguishedrepose.com
Raja Salomo terkenal amat bijak. Dia senang akan pengetahuan. Suatu hari ia ingin menggoda Benaya, panglimanya yang sangat hebat dari segi ilmu perang, tapi menurut Salomo kurang berhikmat.
“Benaya, saya menugaskan engkau mencari Cincin Sakti”
“Apa kesaktian cincin ini, Baginda?”
“Hanya dengan memandang cincin ini, orang gembira akan menjadi sedih, dan orang sedih akan menjadi gembira”, jelas Salomo.
Maka berangkatlah Benaya ke seluruh pelosok kerajaan, mencari Cincin Sakti ini. Upayanya nyaris sia-sia, sampai suatu hari ia bertemu seorang kakek pedagang yang datang dari jauh. Dengan berharap cemas, Benaya bertanya mana tahu sang kakek ini tahu Cincin Sakti.
Mendengar penjelasan Benaya, sang kakek mengeluarkan cincin emas dan mengukirkan tiga kata di situ, lalu menjualnya kepada Benaya.
Benaya membacanya dan tersenyum. Pencariannya telah berakhir. Segera ia datang ke singasana Raja Salomo. Melihat Benaya datang, Raja dan para menteri tersenyum geli. Mereka merasa berhasil mempermainkan Benaya.
Dengan senyum lebar Raja Salomo memandang cincin itu, dan saat ia membaca ketiga kata yang terukir di sana, wajahnya berubah cemberut. Di situ tertulis: “Gimel Zayin Yud”, artinya “Inipun akan berakhir!”.
Raja Salomo menyadari, semua kehebatannya, semua hikmatnya, akan berakhir. Suatu saat ia akan kembali menjadi debu. Wajahnya berubah dari gembira menjadi sedih. Persis seperti yang ia minta pada Benaya.
Tapi tiga kata itupun menjadi sumber kekuatan bagi begitu banyak orang yang menderita.
“Inipun akan berakhir (This too shall pass)”
Ini menjadi sumber kekuatan Abraham Lincoln ketika menghadapi masalah perang sipil. Ini menjadi kekuatan Martin Luther King saat menghadapi penindasan terhadap kulit hitam. Dan Presiden Obama pun menggunakan “cincin sakti” ini saat menghadapi krisis ekonomi yang hebat.
Banyak kita sangat tertekan karena merasa bahwa masalah yang kita hadapi, kesulitan yang kita alami itu, penyakit yang kita idap, situasi buruk yang melingkupi kita itu bersifat permanen. Selama-lamanya.
Padahal tidak. Kata Cincin Sakti itu juga “Gimel zayin yud..”, Tidak ada yang kekal. Termasuk kesulitan kita.
JADI SAAT PIKIRAN KITA DIGANGGU DENGAN BEBAN MASALAH. JANGAN KUATIR..ITU CUMA SEMENTARA..ITU CUMA TRANSISI..THIS TOO SHALL PASS!
-Armein Z. R.
Source : jampitoe.wordpress.com
Picture by : anguishedrepose.com
Tuesday, May 1, 2012
KEKUATAN PIKIRAN
Sejak kecil Tara Holland sudah bermimpi menjadi Miss America. Impiannya nyaris kandas setelah beberapa kali ikut kontes dan tidak menang.Bukannya putus asa, Tara terus berusaha. Akhirnya, pada 1997 ia sungguh-sungguh terpilih menjadi Miss America.
Ketika ditanya seorang wartawan apakah ia canggung berjalan di atas panggung?
Tara menjawab : “Tidak, karena saya sudah berjalan di atas panggung ribuan kali dalam pikiran saya.”
Ada pepatah dalam bahasa Latin: Fortis imaginatio generat casum..artinya, imajinasi yang jelas menghasilkan kenyataan. Sejalan dengan yang dikatakan Marcus Aurelius dalam karyanya Meditations (Perenungan): “Profil kehidupan kita akan persis sama dengan apa yang kita pikirkan”. Dengan kata lain, pikiran memiliki pengaruh sangat besar dalam kehidupan seseorang.
Ketika yang ada dalam pikiran kita adalah hal-hal yang negatif : kepedihan, keluhan, kemarahan, kebencian, dan kegagalan, hidup kita akan terasa suram dan kelam. Sebaliknya kalau pikiran kita sarat dengan hal-hal positif : kesuksesan, kasih, sukacita, kebaikan, dan kebahagiaan, dunia pun akan terasa cerah.
Iya..Pikiran ibarat kacamata kehidupan yang menentukan cerah suramnya apa yang kita lihat.
BIASAKAN BERPIKIR POSITIF HIDUP AKAN TERASA LEBIH CERAH!
Source : jampitoe.wordpress.com
Picture by : collegian.psu.edu
Subscribe to:
Posts (Atom)



.jpg)

