Sebagai ibu dari dua anak yang sangat aktif, berusia tujuh dan satu tahun, kadang-kadang aku khawatir kalau mereka mengacaukan rumah yang sudah saya dekor dengan cermat. Disaat anak-anak yang masih murni itu bermain, terkadang mereka menjatuhkan lampu kesayanganku atau mengacaukan tata ruang yang sudah dirancang dengan seksama. Pada saat-saat itu ketika tak ada lagi rasa aman, aku terkenang akan pelajaran yang kudapatkan dari ibu mertuaku yang bijaksana, Ruby.
Ruby adalah ibu dari 6 anak dan nenek 13 cucu. Bagiku dia merupakan cermin dari kelemahlembutan, kesabaran, dan kasih sayang.
Pada suatu hari Natal, seperti biasanya semua anak dan cucunya berkumpul di rumah Ruby. Tepat sebulan sebelumnya, Ruby telah membeli sebuah karpet putih yang baru dan indah setelah hidup dengan karpet tua yang sama lebih 25 tahun lamanya. Dia merasa amat bahagia dengan suasana baru yang diberikan karpet itu pada rumahnya.
Adik ipar saya, Arnie, baru saja membagi-bagikan hadiahnya kepada para keponakan madu buatan sendiri yang bermutu tinggi dari peternakan lebahnya. Mereka sangat bergairah. Tetapi malang benar, Sheena yang berusia delapan tahun menumpahkan tabung madunya ke karpet baru nenek dan madu itu mengalir terus sampai ke bawah tangga rumah.
Sambil menangis, Sheena berlari ke dapur menyusup ke lengan nenek Ruby. "Nek, saya telah menumpahkan madu ke karpet baru nenek."
Nenek Ruby berlutut, melihat dengan lembut ke mata Sheena yang berlinang dan berkata, "Jangan khawatir sayang, kami akan memberikan madu lagi untukmu."
Lynn Robertson
DALAM KASIH ADA TENGGANG RASA DAN KEMAMPUAN UNTUK TAHAN UJI
TERHADAP SITUASI YANG KURANG MENGUNTUNGKAN DAN TERHADAP SIKAP
ORANG-ORANG YANG KURANG MENGENAKKAN. KASIH ITU PANJANG SABAR.
Source : Chicken Soup for the Woman's Soul
Picture by : andrewcomiskey.com
Wednesday, May 16, 2012
Tuesday, May 15, 2012
KECANTIKAN SEJATI
Untuk Hari Ibu, Jeannie telah bersusah payah merencanakan membeli sesuatu yang amat khusus bagi ibunya, Bess. Dengan cermat ia hendak memberikan sebuah sertifikat hadiah dengan memakai gaji pertamanya yang tidak seberapa. Pada hari yang telah ditentukan, putri muda ini membawa ibunya yang sederhana dan pemalu ke studioku.
Saat memasang layar-layar warna dan mengatur posisi, Bess mengaku ia telah mencurahkan seluruh perhatiannya bagi keluarganya selama bertahun-tahun dan telah mengabaikan dirinya sendiri. Akibatnya ia tak pernah mempertimbangkan pakaian apa yang pantas dikenakannya atau bagaimana memakai make up.
Ketika aku menaruh warna-warna cantik dekat ke wajahnya, ia mulai 'berbunga', walaupun tampaknya ia tidak menyadari hal itu. Setelah memberikan sentuhan akhir pemerah dan lipstik untuk meningkatkan penampilannya, aku mengundangnya untuk melihat dirinya sendiri dalam kaca panjang yang besar. Dia memperhatikan dirinya agak lama, seakan menyimak seorang asing, lalu terus beringsut mendekat ke bayangannya. Akhirnya dengan membelalak dan mulutnya terbuka, ia menyentuh cermin itu sedikit.
"Jeannie," ia memberi isyarat, "kesini donk." Sambil menarik putrinya ke sampingnya, ia menunjuk ke bayangan itu. "Jeannie, lihatlah saya. Saya cantik!"
Si wanita muda itu melempar senyum pada wanita tua di depan kaca dengan air mata di pelupuknya.
"Ya, Ibu, kamu memang selalu cantik."
Charlotte Ward
KETIKA DITANYA MENGAPA IA TAMPAK MUDA MESKI HIDUPNYA SUKAR, IBU TERESA MENJAWAB,"TERKADANG PERASAAN BAIK DARI DALAM LEBIH BERHARGA DARIPADA SEORANG AHLI KECANTIKAN."
Source : Chicken Soup for the Woman's Soul
Picture by : loyno.edu
Saat memasang layar-layar warna dan mengatur posisi, Bess mengaku ia telah mencurahkan seluruh perhatiannya bagi keluarganya selama bertahun-tahun dan telah mengabaikan dirinya sendiri. Akibatnya ia tak pernah mempertimbangkan pakaian apa yang pantas dikenakannya atau bagaimana memakai make up.
Ketika aku menaruh warna-warna cantik dekat ke wajahnya, ia mulai 'berbunga', walaupun tampaknya ia tidak menyadari hal itu. Setelah memberikan sentuhan akhir pemerah dan lipstik untuk meningkatkan penampilannya, aku mengundangnya untuk melihat dirinya sendiri dalam kaca panjang yang besar. Dia memperhatikan dirinya agak lama, seakan menyimak seorang asing, lalu terus beringsut mendekat ke bayangannya. Akhirnya dengan membelalak dan mulutnya terbuka, ia menyentuh cermin itu sedikit.
"Jeannie," ia memberi isyarat, "kesini donk." Sambil menarik putrinya ke sampingnya, ia menunjuk ke bayangan itu. "Jeannie, lihatlah saya. Saya cantik!"
Si wanita muda itu melempar senyum pada wanita tua di depan kaca dengan air mata di pelupuknya.
"Ya, Ibu, kamu memang selalu cantik."
Charlotte Ward
KETIKA DITANYA MENGAPA IA TAMPAK MUDA MESKI HIDUPNYA SUKAR, IBU TERESA MENJAWAB,"TERKADANG PERASAAN BAIK DARI DALAM LEBIH BERHARGA DARIPADA SEORANG AHLI KECANTIKAN."
Source : Chicken Soup for the Woman's Soul
Picture by : loyno.edu
Monday, May 14, 2012
NENEK MOSES DAN AKU
"Aku terlalu tua dan sudah uzur!" Kata-kata itu terus melayang- layang di kepalaku. Aku patah semangat dan letih setelah mengakhiri pernikahan dan karierku di bidang hukum pada saat bersamaan. Meski memiliki hasrat besar untuk menjadi penulis, aku meragukan kemampuanku untuk berhasil. Apakah aku telah menyia-nyiakan waktu dengan mengejar tujuan yang salah?
Aku berada pada titik terendah ketika suara radio mulai menceritakan kisah Nenek Moses. Anna Mary Robertson Moses meninggalkan rumah pada usia 13 tahun, melahirkan 10 anak, dan bekerja keras untuk menghidupi 5 anaknya yang mampu bertahan hidup. Berjuang untuk hidup di pertanian miskin, dia berhasil menciptakan sedikit keindahan untuk dirinya sendiri dengan merenda di atas kanvas.
Pada usia 78 tahun, jari-jarinya menjadi terlalu kaku untuk bisa memegang jarum. Namun bukannya menyerah terhadap kelemahannya, ia malah pergi ke gudang dan mulai melukis. Pada panel-panel kanvas dia menciptakan pemandangan kehidupan alam pedesaan dengan cermat dan memakai warna-warna yang cemerlang.
Untuk dua tahun pertama, karyanya cuma diberikan begitu saja atau dijual dengan harga amat murah. Tetapi pada usia 79 tahun, dia "ditemukan" oleh dunia seni..dan berikutnya ia mencatat sejarah. Dia telah menghasilkan lebih dari 2000 lukisan dan buku kumpulan karyanya "Twas the Night before Christmas" selesai pada ulang tahunnya yang ke 100.
Ketika aku mendengar radio itu, perasaan hatiku berubah. Jika nenek Moses bisa memulai suatu karier baru dan berhasil pada usia 80 tahun, hidupku masih punya harapan setelah 30 tahun. Sebelum acara itu berakhir, aku mulai bekerja di komputerku, menulis novel yang nyaris kulupakan.
Delapan bulan kemudian novel itu diterbitkan.
Liah Kraft-Kristaine
MASA DEPAN ADALAH MILIK MEREKA YANG PERCAYA PADA KEINDAHAN MIMPI-MIMPI MEREKA. ~Eleanor Roosevelt
Source : Chicken Soup for the Woman's Soul
Picture by : artknowledgenews.com
Aku berada pada titik terendah ketika suara radio mulai menceritakan kisah Nenek Moses. Anna Mary Robertson Moses meninggalkan rumah pada usia 13 tahun, melahirkan 10 anak, dan bekerja keras untuk menghidupi 5 anaknya yang mampu bertahan hidup. Berjuang untuk hidup di pertanian miskin, dia berhasil menciptakan sedikit keindahan untuk dirinya sendiri dengan merenda di atas kanvas.
Pada usia 78 tahun, jari-jarinya menjadi terlalu kaku untuk bisa memegang jarum. Namun bukannya menyerah terhadap kelemahannya, ia malah pergi ke gudang dan mulai melukis. Pada panel-panel kanvas dia menciptakan pemandangan kehidupan alam pedesaan dengan cermat dan memakai warna-warna yang cemerlang.
Untuk dua tahun pertama, karyanya cuma diberikan begitu saja atau dijual dengan harga amat murah. Tetapi pada usia 79 tahun, dia "ditemukan" oleh dunia seni..dan berikutnya ia mencatat sejarah. Dia telah menghasilkan lebih dari 2000 lukisan dan buku kumpulan karyanya "Twas the Night before Christmas" selesai pada ulang tahunnya yang ke 100.
Ketika aku mendengar radio itu, perasaan hatiku berubah. Jika nenek Moses bisa memulai suatu karier baru dan berhasil pada usia 80 tahun, hidupku masih punya harapan setelah 30 tahun. Sebelum acara itu berakhir, aku mulai bekerja di komputerku, menulis novel yang nyaris kulupakan.
Delapan bulan kemudian novel itu diterbitkan.
Liah Kraft-Kristaine
MASA DEPAN ADALAH MILIK MEREKA YANG PERCAYA PADA KEINDAHAN MIMPI-MIMPI MEREKA. ~Eleanor Roosevelt
Source : Chicken Soup for the Woman's Soul
Picture by : artknowledgenews.com
Sunday, May 13, 2012
SIAPA YANG MENGAMBIL PELAJARAN DARI KEJADIAN INI?
Suatu ketika ada seorang penjual topi yang berjalan melintasi hutan. Cuaca saat itu sangat panas. Ia lalu memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon besar. Sebelum merebahkan diri, ia meletakkan keranjang berisi topi-topi dagangan di sampingnya.
Beberapa jam ia terlelap dan terbangun oleh suara-suara ribut. Hal pertama yang disadarinya adalah bahwa semua topi dagangannya telah hilang. Kemudian ia mendengar suara monyet-monyet di atas pohon. Ia mendongak ke atas. Betapa terkejutnya ia melihat pohon itu penuh dengan monyet.
Dan, semua monyet itu mengenakan topi-topinya. Penjual topi itu terduduk dan berpikir keras bagaimana caranya ia bisa mendapatkan kembali topi-topi dagangannya yang sekarang sedang dibuat main-main oleh monyet-monyet itu. Ia berpikir dan berpikir, dan mulai menggaruk-garukkan kepalanya. Lalu ia melihat monyet-monyet itu ternyata menirukan tingkah lakunya.
Kemudian, ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya. Dan monyet-monyet itu pun melakukan hal yang sama. Aha..! Ia pun mendapat ide..! Lalu ia membuang topinya ke tanah, dan monyet-monyet itu juga membuang topi-topi di tangan mereka ke tanah. Segera saja si penjual itu mengumpulkan dan mendapatkan kembali semua topi-topinya. Ia pun melanjutkan perjalanannya.
Lima puluh tahun kemudian, cucu dari si penjual topi itu juga menjadi seorang penjual topi juga dan telah mendengar cerita tentang monyet-monyet itu dari kakeknya. Suatu hari, persis seperti kakeknya, ia melintasi hutan yang sama. Udara sangat panas. Ia beristirahat di bawah pohon yang sama dan meletakkan keranjang berisi topi-topi dagangan di sampingnya. Sekali lagi, ketika terbangun ia menyadari kalau monyet-monyet telah mengambil semua topi-topinya.
Ia pun teringat akan cerita kakeknya. Ia mulai menggaruk-garuk kepala, dan monyet-monyet itu menirukannya. Ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya, monyet-monyet itu masih menirukannya. Nah, sekarang ia merasa yakin akan ide kakeknya. Kemudian ia melempar topinya ke tanah. Tapi kali ini ia yang terkejut, karena monyet-monyet itu tidak menirukannya dan tetap memegangi topi itu erat-erat.
Kemudian, seekor monyet turun dari pohon, mengambil topi yang di lemparkan oleh cucu pedagang topi itu, lalu menepuk bahunya sambil berkata:
"Memangnya cuma lu doang yang punya kakek?"
JANGAN HANYA KARENA ANDA MAMPU MENGAMBIL PELAJARAN DARI SUATU PENGALAMAN BURUK..LALU ANDA TELEDOR..MEREMEHKAN ORANG LAIN..DAN MENGANGGAP ORANG LAIN TIDAK MENGAMBIL PELAJARAN YANG SAMA JUGA! BELUM TENTU CARA YANG DULU EFEKTIF KINI MASIH EFEKTIF :)
Source : indowebster.web.id (labyrinth)
Picture by : solidrock-batupejal.blogspot.com
Beberapa jam ia terlelap dan terbangun oleh suara-suara ribut. Hal pertama yang disadarinya adalah bahwa semua topi dagangannya telah hilang. Kemudian ia mendengar suara monyet-monyet di atas pohon. Ia mendongak ke atas. Betapa terkejutnya ia melihat pohon itu penuh dengan monyet.
Dan, semua monyet itu mengenakan topi-topinya. Penjual topi itu terduduk dan berpikir keras bagaimana caranya ia bisa mendapatkan kembali topi-topi dagangannya yang sekarang sedang dibuat main-main oleh monyet-monyet itu. Ia berpikir dan berpikir, dan mulai menggaruk-garukkan kepalanya. Lalu ia melihat monyet-monyet itu ternyata menirukan tingkah lakunya.
Kemudian, ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya. Dan monyet-monyet itu pun melakukan hal yang sama. Aha..! Ia pun mendapat ide..! Lalu ia membuang topinya ke tanah, dan monyet-monyet itu juga membuang topi-topi di tangan mereka ke tanah. Segera saja si penjual itu mengumpulkan dan mendapatkan kembali semua topi-topinya. Ia pun melanjutkan perjalanannya.
Lima puluh tahun kemudian, cucu dari si penjual topi itu juga menjadi seorang penjual topi juga dan telah mendengar cerita tentang monyet-monyet itu dari kakeknya. Suatu hari, persis seperti kakeknya, ia melintasi hutan yang sama. Udara sangat panas. Ia beristirahat di bawah pohon yang sama dan meletakkan keranjang berisi topi-topi dagangan di sampingnya. Sekali lagi, ketika terbangun ia menyadari kalau monyet-monyet telah mengambil semua topi-topinya.
Ia pun teringat akan cerita kakeknya. Ia mulai menggaruk-garuk kepala, dan monyet-monyet itu menirukannya. Ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya, monyet-monyet itu masih menirukannya. Nah, sekarang ia merasa yakin akan ide kakeknya. Kemudian ia melempar topinya ke tanah. Tapi kali ini ia yang terkejut, karena monyet-monyet itu tidak menirukannya dan tetap memegangi topi itu erat-erat.
Kemudian, seekor monyet turun dari pohon, mengambil topi yang di lemparkan oleh cucu pedagang topi itu, lalu menepuk bahunya sambil berkata:
"Memangnya cuma lu doang yang punya kakek?"
JANGAN HANYA KARENA ANDA MAMPU MENGAMBIL PELAJARAN DARI SUATU PENGALAMAN BURUK..LALU ANDA TELEDOR..MEREMEHKAN ORANG LAIN..DAN MENGANGGAP ORANG LAIN TIDAK MENGAMBIL PELAJARAN YANG SAMA JUGA! BELUM TENTU CARA YANG DULU EFEKTIF KINI MASIH EFEKTIF :)
Source : indowebster.web.id (labyrinth)
Picture by : solidrock-batupejal.blogspot.com
WAH ADA NENEK 77 TAHUN DAPAT JODOH DI FACEBOOK
Facebook
berhasil mengantarkan kebahagiaan pada seorang nenek. Wanita berusia 77
tahun ini berhasil mendapat jodoh lewat jejaring sosial itu. Bagaimana
kisahnya?
Barbara Moore, 77 tahun, dan Laurence Brocklesby, 82 tahun, bukanlah usia rata-rata pengguna yang sering memanfaatkan layanan jejaring sosial.
Moore memanfaatkan komputer setelah suaminya meninggal empat tahun yang lalu. Anak dan cucunya menggunakan Facebook, namun mantan suster ini tidak terlalu tertarik untuk bergabung dengan anak muda. Ia memanfaatkan media itu untuk mencari teman kerjanya dahulu. Saat itulah, ia bertemu dengan Brocklesby yang sudah bercerai sejak 16 tahun lalu.
Awalnya, Moore hanya bertanya soal tips berkebun kepada Brocklesby. Namun, pasangan ini merasa cocok dan berbincang via media online setiap hari.
"Kami berbicara soal apapun seperti hobi, kebiasaan minum teh dan segala sesuatu yang kami lakukan setiap hari. Ini menakjubkan untuk tahu betapa banyak kesamaan di antara kami dan kami begitu terbuka di internet. Saya merasa bisa menceritakan apapun kepadanya tanpa perlu khawatir," kata Moore.
Setelah berkenalan tiga bulan di Facebook, keduanya memutuskan untuk saling bertemu di dunia nyata. Sebelumnya, mereka telah saling bertukar foto sehingga tahu raut muka satu sama lain.
"Kami telah berbicara apapun di internet dan saling menelepon di malam hari," kata Brocklesby, yang mantan tentara.
Source : gusti777.blogdetik.com
Barbara Moore, 77 tahun, dan Laurence Brocklesby, 82 tahun, bukanlah usia rata-rata pengguna yang sering memanfaatkan layanan jejaring sosial.
Moore memanfaatkan komputer setelah suaminya meninggal empat tahun yang lalu. Anak dan cucunya menggunakan Facebook, namun mantan suster ini tidak terlalu tertarik untuk bergabung dengan anak muda. Ia memanfaatkan media itu untuk mencari teman kerjanya dahulu. Saat itulah, ia bertemu dengan Brocklesby yang sudah bercerai sejak 16 tahun lalu.
Awalnya, Moore hanya bertanya soal tips berkebun kepada Brocklesby. Namun, pasangan ini merasa cocok dan berbincang via media online setiap hari.
"Kami berbicara soal apapun seperti hobi, kebiasaan minum teh dan segala sesuatu yang kami lakukan setiap hari. Ini menakjubkan untuk tahu betapa banyak kesamaan di antara kami dan kami begitu terbuka di internet. Saya merasa bisa menceritakan apapun kepadanya tanpa perlu khawatir," kata Moore.
Setelah berkenalan tiga bulan di Facebook, keduanya memutuskan untuk saling bertemu di dunia nyata. Sebelumnya, mereka telah saling bertukar foto sehingga tahu raut muka satu sama lain.
"Kami telah berbicara apapun di internet dan saling menelepon di malam hari," kata Brocklesby, yang mantan tentara.
Source : gusti777.blogdetik.com
SURAT TUKANG BUAH KEPADA TUKANG SAYUR
"Wajahmu memang manggis,
watakmu juga melonkolis, tapi hatiku nanas karena cemburu. Oh Sirsak
napasku, hatiku anggur lebur..hiks. Ini delima dalam hidupku, aku tau
memang ini juga salakku jarang apel malam minggu. Ya Tuhan..mohon
belimbingmu. Kalo memang perpisangan ini yang terbaik untukku..semangka
kau bahagia dengan pria laen.
Sawonara!
Dari : Durianto
Surat balasan dari pacarnya yang ternyata tukang sayur :
Membalas kentang suratmu itu, brokoli-koli sudah kubilang, jgn tiap dateng rambutmu selalu kucai. Jagungmu ga pernah dicukur. Wong disuruh dateng malam minggu..ehh nongolnya hari labu! Ditambah kondisi keuanganmu makin hari makin pare. Kalo mo nelpon aku aja mesti ke wortel. Terus terong aja ya, cintaku padamu sudah TOMAT!!!!!!
Jangan kangkung aku lage...Cabe dehhhhhhhh!!!!
Dari : mba yam
Source : indowebster.web.id
Sawonara!
Dari : Durianto
Surat balasan dari pacarnya yang ternyata tukang sayur :
Membalas kentang suratmu itu, brokoli-koli sudah kubilang, jgn tiap dateng rambutmu selalu kucai. Jagungmu ga pernah dicukur. Wong disuruh dateng malam minggu..ehh nongolnya hari labu! Ditambah kondisi keuanganmu makin hari makin pare. Kalo mo nelpon aku aja mesti ke wortel. Terus terong aja ya, cintaku padamu sudah TOMAT!!!!!!
Jangan kangkung aku lage...Cabe dehhhhhhhh!!!!
Dari : mba yam
Source : indowebster.web.id
Thursday, May 10, 2012
SURAT TERAKHIR UNTUK SIAO FENG
Siao Feng adalah seorang gadis kecil berumur lima tahun. Ia tinggal bersama mamanya yang sudah cukup tua. Mereka hanya tinggal berdua. Papanya sudah bercerai dengan mamanya, karena masalah yang tidak ia mengerti.
Pada suatu hari, saat Siao Feng sedang bermain-main, ia melihat mamanya membawa tas dan bersiap untuk pergi. Siao Feng menyusul mamanya dan berkata ingin ikut. Tapi mamanya hanya menangis sambil berkata,
“Siao Feng, mama akan pergi ke Amerika untuk suatu pekerjaan, mama tidak bisa menunda lagi. Kamu tidak boleh ikut. Kamu akan tinggal bersama kakek dan nenek. Baik-baik ya. Jaga dirimu. Jangan nakal. Mama akan sering menyuratimu.” Siao Feng menangis dan berteriak agar mamanya jangan pergi.
Tapi percuma, mamanya tidak mau mendengarkannya.
Beberapa bulan kemudian, mama Siao Feng mengirimi Siao Feng surat. Hari ini hari Siao Feng masuk sekolah pertamanya di SD. “Siao Feng, bagaimana kabarmu? Baik-baik sajakah? Saat ini kamu pasti sudah duduk di bangku SD, kamu pasti sudah mendapat teman yang banyak, sepatu baru, tas baru. Siao Feng, maafkan mama, mama tidak datang melihatmu masuk sekolah, mama sangat sibuk di Amerika. Tidak ada waktu untuk pulang melihatmu.”
Sampai beberapa tahun kemudian, Siao Feng masih dikirimi surat oleh mamanya. Bukannya merasa bahagia, Siao Feng malah merasa benci dan sangat marah kepada mamanya. Mamanya sempat menulis surat tapi tidak sempat datang untuk menemuinya.
Pada saat ia SMP, mamanya juga mengirimkan surat padanya. “Siao Feng, sekarang kamu sudah smp kan? Mama kangen kamu. Kamu pasti tambah cantik, Siao Feng jaga kesehatanmu. Sekarang musim dingin, pakai baju hangat kalau mau keluar ya. Supaya kamu tidak sakit nanti.”
Setiap kali menerima surat dari mamanya, Siao Feng selalu merasa sedih. Ia teringat bagaimana kasih sayang mamanya dulu, dan sekarang tidak bisa ia dapatkan, meskipun mamanya sudah mengirimkan surat padanya. Ia merasa marah dan kesal. Ia heran kenapa ada seorang ibu yang tega pada anaknya seperti ini, kalau seperti ini, seharusnya mama mati saja. Ia tidak butuh mama seperti ini.
“Siao Feng, sekarang kamu pasti sudah SMA, apa kamu sudah punya pacar? Mama kangen sama kamu.”
Belasan tahun, Siao Feng menunggu dan menunggu mamanya pulang, tapi yang datang hanya surat, dan surat.
Siang hari ini, Siao Feng menunggu surat dari mamanya di depan pagar rumahnya. Siao Feng menunggu pak pos untuk mengantarkan surat dari mamanya yang dikirimkan dari Amerika untuknya yang mengucapkan selamat ulang tahun Siao Feng yang ke-17.
Sudah tiga jam Siao Feng menunggu surat dari mamanya, Siao Feng merasa kesal karena surat itu belum datang-datang juga. Sambil menangis Siao Feng memaki mamanya, “Dasar mama! Mendingan mama mati aja deh... uhh.. nyebelin....”
Siao Feng merasa mamanya sudah tidak sayang lagi kepadanya. Kalau mamanya masih sayang kepadanya, setidaknya mama pulang dari Amerika dan datang untuk melihat Siao Feng, tapi dari Siao Feng berumur 5 tahun sampai ia berumur 17 tahun mama tidak pernah kembali dari Amerika.
Setelah 5 jam Siao Feng menunggu, kakek dan nenek Siao Feng datang membawa surat untuk Siao Feng. Siao Feng melihat kalau mereka berdua terlihat sedih. Siao Feng yang sangat menantikan surat dari mamanya langsung mengambil surat yang dibawa kakek dan neneknya.
Siao Feng meilhat kalau warna kertas surat itu sudah kuning dan usang seperti sudah disimpan lama. Siao Feng yang awalnya sangat senang menerima surat dari mamanya tiba-tiba langsung menangis terisak-isak tak percaya. Siao Feng sangat kaget ketika membaca surat dari mamanya yang mengatakan.
“Siao Feng, maafkan mama, mama sudah berbohong kepadamu dari dulu. Mama rasa sudah saatnya kamu mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Siao Feng, mama betul-betul minta maaf karena mama tidak dapat menemani kamu pada saat ulang tahunmu yang ke-17. Mama ucapkan selamat ulang tahun Siao Feng.
Siao Feng, mama minta maaf karena mama mengatakan bahwa mama bekerja di Amerika, sebenarnya mama sudah tidak ada. Mama terkena kanker paru-paru yang ganas. Siao Feng, sebenarnya dari dulu mama ingin memberitahukannya padamu tentang masalah ini, tapi mama tidak ingin membuatmu sedih. Mama membuat surat ini saat kamu masih berumur 5 tahun, karena pada saat itu, dokter mengatakan umur mama tinggal beberapa hari lagi. Waktu itu, kamu masih kecil dan nakal, kamu menghamburkan surat yang sudah mama buat dengan sisa kekuatan mama. Kamu tidak tahu surat itulah yang akan dikirimkan padamu suatu saat nanti.
Siao Feng, maafkan mama, mama tidak dapat di samping kamu ketika kamu berada dalam kesulitan. Kamu tidak bisa memanggil “mama, mama”. Jika kamu sakit, kamu tidak bisa mengatakan “mama, aku sakit”. Mama tidak bisa menjadi tempat kamu cerita dan meminta petunjuk dari mama. Jika kamu kesepian, tidak ada yang menemani kamu. Tidak ada yang memberi kamu belaian kasih sayang. Maafkan mama. Dulu mama menitipkan surat ini pada pamanmu, mama meminta pamanmu untuk mengirim surat ini kepadamu, karena pada saat itu, mama sudah tidak ada lagi di dunia ini....
Siao Feng, mama masih ingat ketika mama mengatakan bahwa mama akan ke Amerika untuk bekerja, mama melihat kamu menangis-nangis dan mau ikut dengan mama, tapi kakek dan nenek memelukmu. Ingin rasanya mama memelukmu, tapi ini hanya akan membuat kamu berat melepas mama. Siao Feng, ini surat terakhir dari mama untukmu, mama sudah hampir tidak kuat lagi menulis surat ini. Mama minta maaf Siao Feng, mama hanya berdoa semoga kamu berbahagia selalu dan selamanya.”
Setelah membaca surat dari mamanya, Siao Feng hanya bisa menangis, mengingat ia selalu memaki mamanya agar mamanya cepat meninggal. Ternyata memang itulah yang terjadi.
SUNGGUH TAK BISA DIHITUNG KASIH SAYANG SEORANG IBU UNTUK BUAH HATINYA.
Source : indowebster.web.id
Picture by : teratailyar.blogspot.com
Pada suatu hari, saat Siao Feng sedang bermain-main, ia melihat mamanya membawa tas dan bersiap untuk pergi. Siao Feng menyusul mamanya dan berkata ingin ikut. Tapi mamanya hanya menangis sambil berkata,
“Siao Feng, mama akan pergi ke Amerika untuk suatu pekerjaan, mama tidak bisa menunda lagi. Kamu tidak boleh ikut. Kamu akan tinggal bersama kakek dan nenek. Baik-baik ya. Jaga dirimu. Jangan nakal. Mama akan sering menyuratimu.” Siao Feng menangis dan berteriak agar mamanya jangan pergi.
Tapi percuma, mamanya tidak mau mendengarkannya.
Beberapa bulan kemudian, mama Siao Feng mengirimi Siao Feng surat. Hari ini hari Siao Feng masuk sekolah pertamanya di SD. “Siao Feng, bagaimana kabarmu? Baik-baik sajakah? Saat ini kamu pasti sudah duduk di bangku SD, kamu pasti sudah mendapat teman yang banyak, sepatu baru, tas baru. Siao Feng, maafkan mama, mama tidak datang melihatmu masuk sekolah, mama sangat sibuk di Amerika. Tidak ada waktu untuk pulang melihatmu.”
Sampai beberapa tahun kemudian, Siao Feng masih dikirimi surat oleh mamanya. Bukannya merasa bahagia, Siao Feng malah merasa benci dan sangat marah kepada mamanya. Mamanya sempat menulis surat tapi tidak sempat datang untuk menemuinya.
Pada saat ia SMP, mamanya juga mengirimkan surat padanya. “Siao Feng, sekarang kamu sudah smp kan? Mama kangen kamu. Kamu pasti tambah cantik, Siao Feng jaga kesehatanmu. Sekarang musim dingin, pakai baju hangat kalau mau keluar ya. Supaya kamu tidak sakit nanti.”
Setiap kali menerima surat dari mamanya, Siao Feng selalu merasa sedih. Ia teringat bagaimana kasih sayang mamanya dulu, dan sekarang tidak bisa ia dapatkan, meskipun mamanya sudah mengirimkan surat padanya. Ia merasa marah dan kesal. Ia heran kenapa ada seorang ibu yang tega pada anaknya seperti ini, kalau seperti ini, seharusnya mama mati saja. Ia tidak butuh mama seperti ini.
“Siao Feng, sekarang kamu pasti sudah SMA, apa kamu sudah punya pacar? Mama kangen sama kamu.”
Belasan tahun, Siao Feng menunggu dan menunggu mamanya pulang, tapi yang datang hanya surat, dan surat.
Siang hari ini, Siao Feng menunggu surat dari mamanya di depan pagar rumahnya. Siao Feng menunggu pak pos untuk mengantarkan surat dari mamanya yang dikirimkan dari Amerika untuknya yang mengucapkan selamat ulang tahun Siao Feng yang ke-17.
Sudah tiga jam Siao Feng menunggu surat dari mamanya, Siao Feng merasa kesal karena surat itu belum datang-datang juga. Sambil menangis Siao Feng memaki mamanya, “Dasar mama! Mendingan mama mati aja deh... uhh.. nyebelin....”
Siao Feng merasa mamanya sudah tidak sayang lagi kepadanya. Kalau mamanya masih sayang kepadanya, setidaknya mama pulang dari Amerika dan datang untuk melihat Siao Feng, tapi dari Siao Feng berumur 5 tahun sampai ia berumur 17 tahun mama tidak pernah kembali dari Amerika.
Setelah 5 jam Siao Feng menunggu, kakek dan nenek Siao Feng datang membawa surat untuk Siao Feng. Siao Feng melihat kalau mereka berdua terlihat sedih. Siao Feng yang sangat menantikan surat dari mamanya langsung mengambil surat yang dibawa kakek dan neneknya.
Siao Feng meilhat kalau warna kertas surat itu sudah kuning dan usang seperti sudah disimpan lama. Siao Feng yang awalnya sangat senang menerima surat dari mamanya tiba-tiba langsung menangis terisak-isak tak percaya. Siao Feng sangat kaget ketika membaca surat dari mamanya yang mengatakan.
“Siao Feng, maafkan mama, mama sudah berbohong kepadamu dari dulu. Mama rasa sudah saatnya kamu mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Siao Feng, mama betul-betul minta maaf karena mama tidak dapat menemani kamu pada saat ulang tahunmu yang ke-17. Mama ucapkan selamat ulang tahun Siao Feng.
Siao Feng, mama minta maaf karena mama mengatakan bahwa mama bekerja di Amerika, sebenarnya mama sudah tidak ada. Mama terkena kanker paru-paru yang ganas. Siao Feng, sebenarnya dari dulu mama ingin memberitahukannya padamu tentang masalah ini, tapi mama tidak ingin membuatmu sedih. Mama membuat surat ini saat kamu masih berumur 5 tahun, karena pada saat itu, dokter mengatakan umur mama tinggal beberapa hari lagi. Waktu itu, kamu masih kecil dan nakal, kamu menghamburkan surat yang sudah mama buat dengan sisa kekuatan mama. Kamu tidak tahu surat itulah yang akan dikirimkan padamu suatu saat nanti.
Siao Feng, maafkan mama, mama tidak dapat di samping kamu ketika kamu berada dalam kesulitan. Kamu tidak bisa memanggil “mama, mama”. Jika kamu sakit, kamu tidak bisa mengatakan “mama, aku sakit”. Mama tidak bisa menjadi tempat kamu cerita dan meminta petunjuk dari mama. Jika kamu kesepian, tidak ada yang menemani kamu. Tidak ada yang memberi kamu belaian kasih sayang. Maafkan mama. Dulu mama menitipkan surat ini pada pamanmu, mama meminta pamanmu untuk mengirim surat ini kepadamu, karena pada saat itu, mama sudah tidak ada lagi di dunia ini....
Siao Feng, mama masih ingat ketika mama mengatakan bahwa mama akan ke Amerika untuk bekerja, mama melihat kamu menangis-nangis dan mau ikut dengan mama, tapi kakek dan nenek memelukmu. Ingin rasanya mama memelukmu, tapi ini hanya akan membuat kamu berat melepas mama. Siao Feng, ini surat terakhir dari mama untukmu, mama sudah hampir tidak kuat lagi menulis surat ini. Mama minta maaf Siao Feng, mama hanya berdoa semoga kamu berbahagia selalu dan selamanya.”
Setelah membaca surat dari mamanya, Siao Feng hanya bisa menangis, mengingat ia selalu memaki mamanya agar mamanya cepat meninggal. Ternyata memang itulah yang terjadi.
SUNGGUH TAK BISA DIHITUNG KASIH SAYANG SEORANG IBU UNTUK BUAH HATINYA.
Source : indowebster.web.id
Picture by : teratailyar.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)






