Kisah Kisah Kita

Saturday, May 26, 2012

LOVE STORY

Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika.

Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam- malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya.

Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.

Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya.

Dia berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis:

Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku...

Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku.

Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya?

Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, "Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan. Kita mesti lihat apa yang akan terjadi."

Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya dia melihat pohon itu.

Air mata menetes di matanya. Dia tidak melihat sehelai pita kuning.

Tidak ada sehelai pita kuning. Tidak ada sehelai. Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning bergantungan di pohon beringin itu.

Seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning.

Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu,"Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree",  dan ketika album ini di-rilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973. Sebuah lagu yang manis, namun mungkin masih jauh lebih manis jika kita bisa melakukan apa yang ditorehkan lagu tersebut.

IF GOD ALWAYS FORGIVES YOU, WILL YOU FORGIVE THE OTHERS? THINK WISELY..

Source       :  brigittachin.blogspot.com
Picture by  :  wn.com

Friday, May 25, 2012

ANUGERAH CINTA

Setelah dua tahun mengalami kegagalan kehamilan dan hasil diagnosis yang meragukan bahwa bisa hamil dengan normal, saya dan suami memutuskan untuk mengadopsi seorang bayi.

Karena dikelilingi oleh keluarga yang punya banyak anak, kami menyadari bahwa tidak ada masalah bagaimana kami bisa mendapatkan anak di dunia ini - apakah melahirkan sendiri atau adopsi. Kami hanya tahu bahwa hidup kami tidak akan lengkap tanpa kelahiran seorang anak, dimana kami bisa berbagi kasih.

Setelah keputusan dibuat, kami menghubungi beberapa agen adopsi untuk mendapat bantuan. Akan tetapi setelah sekian lama tidak ada hasil yang memuaskan. Kami yakin dalam hati bahwa satu-satunya cara adopsi yang bisa kami lakukan adalah melalui adopsi secara independen.

Kami kemudian membayar pengacara khusus untuk adopsi, dan mengikuti sarannya untuk memasang iklan di semua koran negara bagian. Kami memasang jalur telpon tersendiri dengan mesin penjawab. Awalnya kami tidak mendapat hasil memuaskan, tetapi setelah beberapa minggu secara tetap memasang iklan di koran, kami mulai menerima banyak telpon.

Pengacara kami memberikan daftar pertanyaan yang bisa kami ajukan dengan sopan. Daftar pertanyaan itu sangat bermanfaat saat saya menjawab telpon yang mulai masuk - yang membuat saya acapkali gugup sampai lupa mengingat nama sendiri. Setelah beberapa bulan menjawab beragam panggilan telpon, akhirnya saya berbicara dengan Julia.

Julia hamil empat bulan, tidak menikah, muda dan miskin. Dia mengundang kami ke rumahnya di kota sebelah, dan kami senang menerima undangan itu. Ketika saya berjalan di beranda rumahnya yang reyot, saya menarik nafas panjang dan berpikir bahwa seluruh masa depan saya akan bergantung pada pertemuan ini.

Ketika Julia membuka pintu saya dibuat tercengang olehnya. Rambutnya yang panjang dan pirang sebagian menutupi wajah, mata biru berkilau penuh rasa ingin tahu, dan saya bisa melihat perutnya yang sedikit besar.

Kami bertemu ibu dan neneknya. Wanita dari tiga generasi itu terus menerus menanyai tentang keyakinan dan prinsip hidup kami. Saya berdoa dalam hati supaya kami bisa memperoleh kepercayaan mereka.

Setelah tiga jam yang melelahkan berlalu, kami berpelukan di depan pintu sebelum kami berpisah. Sepanjang perjalanan pulang saya sangat senang dan tak hentinya berbicara.

"Apakah kamu melihat hidungnya yang kecil?" saya bertanya ke suami.

Suami saya tertawa mendengar pertanyaan itu, karena memang hidung kami agak lebih besar, bahkan tulang hidung kami terlihat sangat menonjol.

Setelah beberapa bulan, dengan dibantu oleh pengacara kami, kami membantu membiayai biaya pemeriksaan dan perawatan kehamilan Julia. Kami membayar semua biaya pemeriksaan dokter dan membelikan baju-baju hamil untuk Julia.

Setiap malam saya secara rutin berbicara panjang lebar dengan Julia untuk menanyakan keadaannya dan bayinya serta menanyakan semua hal yang dibutuhkan supaya segera bisa kami persiapkan.

Semakin hari saya merasakan bahwa Julia lebih dari saudara sendiri, dan ada ikatan yang sangat kuat diantara kami berdua. Hal itulah yang membuat saya sangat syok dan tidak bisa percaya, ketika pada usia kehamilan yang ke delapan bulan Julia memutuskan untuk merawat bayinya sendiri dan menolak diadopsi.

Memang dari awal pengacara kami sudah menyampaikan kemungkinan itu bisa terjadi, dan secara hukum kami tidak berhak menuntut - tetapi bagaimanapun juga penolakan untuk adopsi itu membuat saya sangat terguncang, setelah selama tiga empat mengikuti perkembangan kehamilan Julia dengan doa dan pengharapan yang besar.

Saya bahkan merasakan mulas di dalam kandungan saya, seolah-olah saya kehilangan bayi yang sudah saya kandung sendiri selama delapan bulan.

Saya terbaring lemah selama tiga hari, tidak bisa bangun dan terus-menerus dalam air mata kesedihan. Saya tidak mampu berbicara pada siapa pun kecuali keluhan yang dalam pada suami. Saya sangat berduka, melebihi semua pengharapan yang sudah saya bangun selama ini.

Suami saya dengan sabar berusaha memulihkan semangat saya, dan atas dorongan pengacara saya, kami mulai kembali memasang iklan di koran. Beberapa bulan berlalu dan nampaknya harapan untuk berhasil sangat kecil.

Dua minggu setelah Natal saat pengacara kami menelpon, apakah kami bisa menemuinya di kantor karena ada seorang wanita datang. Dua minggu sebelumnya dia baru saja melahirkan. Nama wanita itu Aurea, dari Philipina, tidak menikah, datang dengan ditemani keluarga temannya.

Dia ingin pulang kembali ke Philipina, tetapi dia tidak bisa membawa bayinya ikut. Bayinya akan ditolak negaranya karena dia tidak menikah, dan lebih dari itu dia merasa tidak sanggup merawat bayinya di sana.

Sebelumnya dia sudah pernah memenuhi panggilan iklan adopsi di koran. Tetapi pasangan yang dihadapi adalah keluarga Yahudi ortodoks yang tidak bisa menerima bayi orang Philipina.

Selanjutnya dia berkonsultasi dengan pengacara saya, dan disampaikan bahwa menurut hukum saya bisa menerima bayi Aurea.

Selama dua jam, saya dan suami berbincang-bincang secara mendalam dengan Aurea yang manis dan bayi laki-lakinya yang lucu.

Saat bayi itu saya gendong dan melihat mata saya, dia tersenyum polos dan itu sangat menyentuh hati saya. Ada suatu ikatan hati yang langsung terpaut dan saya jatuh hati padanya. Saya menciumnya dan kedua tangan kecilnya memeluk wajah saya.

Kami tinggal di kantor pengacara satu jam lagi, karena saya tidak bisa buru-buru meninggalkan buah hati saya itu. Aurea akhirnya menyetujui untuk menyerahkan bayinya saya adopsi. Dia hanya membutuhkan waktu beberapa hari untuk mengucapkan selamat tinggal padanya.

Hari-hari penantian berikutnya saya berada dalam mimpi buruk, karena dibayang-bayangi oleh kegagalan yang menyakitkan dengan Julia.

Hal yang lain adalah kami bergumul dengan hati dan perasaan bahwa saya akan membesarkan seorang anak dari bangsa lain - dan itu sama sekali di luar pemikiran kami sebelumnya.

Kami tidak ada masalah dengan kemampuan untuk merawat dan mencintainya, tapi kami tidak terlalu bodoh untuk berpendapat bahwa membesarkan seorang anak dari bangsa lain itu hal yang mudah. Tetapi saya dan suami memiliki sebuah keyakinan yang sama yaitu, "Cinta akan mengalahkan segalanya."

Dalam minggu yang sama, kami mendapat kabar dari pengacara kami bahwa Aurea berubah pikiran. Ini bukan karena kami berbeda bangsa, tetapi dia merasa berat untuk bisa berpisah dengan bayi laki-lakinya.

Kami tidak bisa menyalahkan Aurea, dan berdasarkan pengalaman kami sebelumnya, kami tidak lagi merasa marah atau sakit hati. Kami sekarang sudah bisa memahami semua kondisi itu.

Tetapi di akhir minggu kami menerima berita yang lain lagi. Aurea menghubungi pengacara kami, supaya kami segera menemuinya di apartemennya. Hari itu salju turun lebat dengan udara yang membekukan tulang, bahkan ramalan cuaca mengatakan badai salju akan datang. Tetapi hari itu tidak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi kami.

Saat kami bertiga tiba, Aurea sudah mendadani bayi laki-lakinya dengan baju yang terbaik. Dia memberikan sebuah tas plastik pada suami saya, berisi perlengkapan bayi yang digunakan selama tiga minggu itu.

Aurea menyerahkan bayi itu ke dalam tangan saya, memeluk dan berbisik dengan suara tersendat ke telinga saya,

"Tolong rawat dia baik-baik."

"Jangan kuatir," saya balas berbisik.

Aurea berlari ke dapur dan menumpahkan segala kesedihan hatinya dengan menangis tersedu-sedu di sana. Pengacara kami memberi tanda supaya kami meninggalkan apartemen itu, dan dia berkata akan mengurus segalanya.

Saya bergegas ke mobil karena tidak tahan dengan suasana kepedihan di apartemen itu. Sepanjang perjalanan saya melihat air mata suami saya mengalir membasahi pipinya, dan kami tidak berkata sepatah kata pun.

Ada perasaan campur aduk yang tidak bisa dilukiskan, perasaan sukacita karena akhirnya pengharapan kami terkabulkan dan duka yang dalam melihat seorang ibu muda yang harus berpisah dengan anak yang telah dikandungnya selama sembilan bulan.

Saat sampai di rumah hati kami diliputi oleh kasih melihat bayi laki-laki mungil tersenyum manis di pelukan. Mengobati rasa sedih dari penderitaan Aurea, kami tidak pernah mengganti nama awal anak kami yang sudah diberikan oleh ibunya. Kami merasa bahwa itu adalah hadiah terbaik yang bisa kami berikan padanya maupun untuk Aurea.

Dia sekarang berusia dua belas tahun. Pengorbanan dan kasih Aurea selalu ada dalam hati dan jiwa kami setiap hari.

Phyllis DeMarco

DALAM PENGORBANAN ADA RENCANA TUHAN YANG AMAT BESAR!

Source     : indowebster.web.id (nawainruk)
Picture by : lover0fnightmares.deviantart.com

PENUMPANG YANG KEHUJANAN

Malam itu, pukul setengah dua belas malam. Seorang wanita negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam hujan yang sangat deras, yang hampir seperti badai. Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini sangat ingin menumpang mobil.

Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat. Namun tidak satupun dari mereka yang mau berhenti.

Mobil berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yang terjadi pada saat itu.

Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda itu, menulisnya, lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda.

7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule ini diketuk seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang ternyata kiriman sebuah televisi set besar berwarna (1960-an!) khusus dikirim kerumahnya.Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang isinya adalah:

"Terima kasih nak, karena membantuku di jalan tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang sekarat... hingga wafatnya". Tuhan memberkati anda,karena membantu saya dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu"

Tertanda Ny.Nat King Cole.

(Catatan : Nat King Cole, adalah penyanyi negro tenar tahun 60-an di USA)

APAPUN BANTUAN YANG ANDA BERIKAN DAN ANDA IKHLAS MEMBERINYA, MAKA AKAN MENJADI BERKAH.

Source      : smartbaby.blogdetik.com
Picture by  : frompingkan.blogspot.com

Wednesday, May 23, 2012

KUMPULKAN KAPAS KAPAS YANG TERSEBAR

Ada seorang pedagang yang sangat kaya raya dan berpengaruh di kalangan masyarakat dikotanya, dalam setiap kegiatannya berdagang mengharuskan dia sering banyak pergi keluar kota.

Suatu saat, karena pergaulan yang salah, dia mulai terjerumus dengan berjudi.

Pada awalnya ia mulai dengan taruhan kecil-kecilan, tetapi karena tidak dapat menahan nafsu untuk menang dan mengembalikan kekalahannya, si pedagang semakin gelap mata, dan akhirnya uang hasil jerih payahnya selama ini banyak terkuras di meja judi.

Istri dan anak-anaknya terlantar hingga akhirnya mereka jatuh miskin.

Orang luar tidak ada yang tahu tentang kebiasaannya berjudi, maka untuk menutupi hal tersebut, dia mulai menyebar fitnah, bahwa kebangkrutannya karena orang kepercayaan, sahabatnya, mengkhianati dia dan menggelapkan banyak uangnya.

Kabar itu semakin hari semakin menyebar, sehingga sahabat yang setia itu, jatuh sakit. Mereka sekeluarga sangat menderita, disorot dengan pandangan curiga oleh masyarakat disekitarnya dan dikucilkan dari pergaulan.

Si pedagang tidak pernah mengira, dampak perbuatannya demikian buruk. Dia bergegas datang menengok sekaligus memohon maaf kepada si sahabat

“Sobat. Aku mengaku salah! Tidak seharusnya aku menimpakan perbuatan burukku dengan menyebar fitnah kepadamu. Sungguh, aku menyesal dan minta maaf. Apakah ada yang bisa aku kerjakan untuk menebus kesalahan yang telah kuperbuat?”

Dengan kondisi yang semakin lemah, si sahabat berkata, “Ada dua permintaanku. Pertama, tolong ambillah bantal dan bawalah ke atap rumah. Sesampainya di sana, ambillah kapas dari dalam bantal dan sebarkan keluar sedikit demi sedikit “.

Walaupun tidak mengerti apa arti permintaan yang aneh itu, demi menebus dosa, segera dilaksanakan permintaan tersebut. Setelah kapas habis di sebar, dia kembali menemui laki-laki yang sekarat itu.

“Permintaanmu telah aku lakukan, apa permintaanmu yang kedua?”

“Sekarang, kumpulkan kapas-kapas yang telah kau sebarkan tadi”, kata si sahabat dengan suara yang semakin lemah.

Si pedagang terdiam sejenak dan menjawab dengan sedih, “Maaf sobat, aku tidak sanggup mengabulkan permintaanmu ini. Kapas-kapas telah menyebar kemana-mana, tidak mungkin bisa dikumpulkan lagi”.

“Begitu juga dengan berita bohong yang telah kau sebarkan, berita itu takkan berakhir hanya dengan permintaan maaf dan penyesalanmu saja” kata si sakit

“Aku tahu. Engkau sungguh sahabat sejatiku. Walaupun aku telah berbuat salah yang begitu besar tetapi engkau tetap mau memberi pelajaran yang sangat berharga bagi diriku. Aku bersumpah, akan berusaha semampuku untuk memperbaiki kerusakan yang telah kuperbuat, sekali lagi maafkan aku dan terima kasih sobat”. Dengan suara terbata-bata dan berlinang air mata, dipeluklah sahabatnya.

Seperti kata pepatah mengatakan, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Kebohongan tidak berakhir dengan penyesalan dan permintaan maaf. Seringkali sulit bagi kita untuk menerima kesalahan yang telah kita perbuat. Bila mungkin, orang lainlah yang menanggung akibat kesalahan kita. Kalau memang itu yang akan terjadi , lalu untuk apa melakukan fitnah yang hanya membuat orang lain menderita. 

BIJAKSANALAH DALAM BERTUTUR KATA DAN TENTUNYA AKAN JAUH LEBIH BIJAK BISA MELAKUKAN SESUATU YANG MEMBUAT ORANG LAIN BAHAGIA.

Source       : indowebster.web.id (lauzart)
Picture by  : abisabila.com

Tuesday, May 22, 2012

EMPAT EKOR ANJING

Dahulu kala ada seorang tua bernama Chu Ping. Dia adalah orang yang baik hati, terutama terhadap hewan. Suatu hari dia pergi mengunjungi keluarganya.

Ketika dia sampai di sana, keluarganya sedang menyeret keluar empat ekor anak anjing.

“Apa yang akan kau lakukan terhadap mereka?” Chu Ping bertanya.

“Saya akan membuang mereka. Anjing kami melahirkan empat ekor anak anjing, dan kamu tahu orang-orang berkata empat ekor anak anjing dalam sekali persalinan adalah sial, jadi saya akan menyingkirkan mereka sekarang.”

“Apakah kamu mau memberikan mereka kepada saya?”

“Kalau itu maumu. Silakan.”

Chu Ping menjadi pemilik yang bangga dari empat ekor anak anjing yang lincah. Dia merawat mereka dengan baik dan dia suka bermain dengan mereka, tidak lama kemudian, mereka telah tumbuh menjadi empat ekor anjing yang kuat dan sehat.

Suatu sore ketika Chu sedang duduk di rumah, dia mendengar suara bisikan di rumput di luar. Suara tersebut makin mendekat, dan semakin keras suaranya.

Pertama-tama terdengar seperti bisikan, lalu semilir angin, kemudian terdengar seperti angin kencang yang bertiup melewati lembah.

Chu keluar untuk menyelidiki, dan di sana, beberapa langkah dari pintunya, dia melihat seekor ular python besar Tubuhnya seukuran roda. Dia melihat sekeliling dengan ganas dengan matanya yang besar dan mempesona, dan lidahnya yang merah menyala menjulur keluar, mengeliat.

Lalu dia melihat Chu seperti panah meluncur dari busur, dia menyergap lurus ke arahnya. Chu tidak dapat bergerak. Dia terlalu takut bahkan untuk mengiba.

Kemudian, sewaktu dia seperti akan binasa, keempat anjingnya datang terbang ke arah ular tersebut. Mereka meloncat menuju ular tersebut, seperti tidak takut pada monster yang mengerikan ini, menggonggong dan menyalak sambil menyerang dari empat sisi.

Keributan itu mengundang para tetangga. Tidak ada yang berani mendekati python tersebut, tetapi mereka semua bersorak untuk keempat anjing yang berani tersebut dari kejauhan.

Dengan amat cepat, dua ekor anjing telah menggigit leher ular itu. Mereka terlalu dekat dengan kepala ular sehingga dia tidak bisa menggigit mereka. Darahnya memancar ke udara, dan sesaat kemudian, python besar itu mati.

Anjing anjing itu memeriksa mayatnya sebentar, mengendusnya dengan hati hati. Lalu mereka dengan sikap merendahkan mengorek tanah ke atas mayat tersebut, dan datang ke arah Chu dengan lidah terjulur ke luar, sambil menggoyang goyangkan ekor.

Semua tetangga bertepuk tangan ketika Chu Ping berjongkok untuk menepuk anjing anjingnya. Mereka menjilat lengan dan
wajahnya.

“Siapa yang berkata empat ekor sekali lahir tidak beruntung?” Chu Ping bertanya kepada anjing anjingnya.

“Tidak terpikir olehku ketika menyelamatkan kalian, suatu hari kalian akan menyelamatkan nyawaku ”

IYA..PERBUATAN BAIK TIDAK AKAN PERNAH SIA-SIA :)

Source      : sarikata.com
Picture by  : wallcoo.net

KISAH KAKAK DAN ADIK

Pada jaman dinasti Tang, ada sebuah keluarga yg terkenal karena kerukunannya. Keluarga tersebut bermarga Zhang. Tuan Zhang selalu mengajarkan kpd kedua anaknya utk saling mengasihi dan saling mendahulukan.

Tuan Zhang tentunya telah banyak menemukan kendala yang dapat mengurangi keakraban di antara kakak-beradik, khususnya jika yg satu lebih terkenal dari yg lain. Namun demikian Tuan Zhang tidak pernah putus asa dlm mendidik kakak beradik untuk saling mengalah dan saling menganggap yang lain lebih penting dari dirinya. Itulah yg ingin ditanamkan kepada anak-anaknya.

Tuan Zhang merasa jika kasih di antara kakak-adik cukup kuat, maka kelak tidak akan ada masalah saling memperebutkan kasih sayang orangtua dan akhirnya saling membenci karena warisan.

Sang kakak bernama Zhang Yueshi dan si adik bernama Zhang Chujin. Sedari kecil keduanya sudah menampakkan perilaku saling mengalah dan saling mendahulukan.

Ketika bermain, ke sekolah, atau melakukan apa saja, mereka hampir selalu saling mengalah dan mengasihi. Para tetangga mereka pun sudah melihat hasil didikan Tuan Zhang di dalam diri kedua kakak-beradik tersebut.

Kenyataan ini membuat berita tentang kasih di antara kakak-beradik itu pun tersebar ke beberapa desa. Tak sedikit orangtua yang mengambil contoh kasih persaudaraan Zhang Yueshi dan Zhang Chujin untuk diajarkan kepada anak-anak mereka.

Pada suatu waktu, ketika mereka telah beranjak dewasa, pihak kerajaan mengadakan ujian ilmu pengetahuan. Yg lulus ujian akan menjadi pegawai kerajaan.

Menjadi pegawai kerajaan adalah dambaan hampir seluruh rakyat saat itu. Kakak-beradik tersebut berhasil menyelesaikan ujian dengan sangat baik dan keduanya memiliki nilai tertinggi di antara peserta yang lain.

Sayangnya, peraturan kerajaan saat itu adalah bahwa kakak dan adik tidak boleh diterima sekaligus. Jadi pihak kerajaan, dalam hal ini kepala bagian penerimaan, harus memilih salah satu di antara kedua kakak-beradik tersebut untuk menjadi pegawai istana.

Kepala penerimaan pegawai istana pun bingung memilih karena keduanya sama-sama mempunyai nilai yang tinggi dan cakap dalam ujian keterampilan. Namun karena harus memilih, akhirnya kepala bagian penerimaan pegawai istana memilih sang adik, Zhang Chujin.

Keesokan harinya, sang adik menemui kepala bagian penerimaan pegawai istana dan berkata,

"Tuan yang terhormat, umur kakak saya lebih tua dari saya. Sesungguhnya pengetahuan dan keterampilannya pun lebih banyak daripada saya. Dalam banyak hal, kakak saya jauh melampaui saya. Karena itu mohon Tuan membatalkan keputusan, dan tahun ini memilih kakak saya terlebih dahulu utk menjadi pegawai istana. Saya masih muda dan masih punya banyak kesempatan untuk menjadi pegawai istana. Sekali lagi, mohon Tuan sudi mempertimbangkan hal ini."

Kepala bagian penerimaan pegawai istana hanya bisa terdiam, tanpa mengucapkan janji apapun kepada Zhang Chujin.

Tidak lama setelah Zhang Chujin pulang, sang kakak jg tiba di istana dan menemui kepala bagian penerimaan pegawai istana.

"Tuan, saya mau mengucapkan selamat atas keputusan memilih adik saya. Sesungguhnya saya tahu bahwa dalam banyak hal, adik saya lebih cakap dari saya. Karena itu saya mohon, apa pun yg terjadi, dan siapa pun yg menggugat, jangan pernah mengubah keputusan Tuan yg sudah tepat tersebut."

Setelah menyampaikan isi hatinya, Zhang Yueshi pun pamit pulang.

Sementara itu kepala bagian penerimaan pegawai istana terkagum-
kagum dengan kasih yg ditunjukkan oleh Zhang Yueshi dan Zhang Chujin. Ia berpikir, seandainya setiap keluarga mengajarkan sikap saling mengasihi di antara kakak-beradik, pastilah keluarga menjadi kuat dan bahagia. Jika setiap keluarga kuat, maka negara pun akan kuat.

Kepala bagian penerimaan pegawai istana pun pergi menghadap Raja untuk mendiskusikan hal ini. Ia pun punya usul kpd Raja,

"Jika kita memilih keduanya sekaligus, maka kita berharap teladan yang mereka tunjukkan akan berpengaruh baik bagi setiap keluarga di negeri kita."

Setelah mempertimbangkan dengan matang, Raja pun setuju dan memutuskan utk menerima Zhang Yueshi dan Zhang Chujin, kedua kakak-beradik itu, sekaligus.

HENDAKLAH DENGAN RENDAH HATI MENGANGGAP ORANG LAIN LEBIH UTAMA DARI DIRI SENDIRI. JIKA SIKAP INI DITERAPKAN DALAM HIDUP BERMASYARAKAT, MAKA HIDUP AKAN TERASA LEBIH INDAH. MULAILAH DARI DIRI SENDIRI DAN MULAILAH UNTUK MENGAJARKAN KEPADA ANAK-ANAK KITA!

Source       : indowebster.web.id (kiefs)
Picture by  : dodiedisastro.blogdetik.com

Thursday, May 17, 2012

HIDUP ITU CUMA HARI INI

Pada suatu pagi buta, seorang pemuda mendatangi rumah gurunya yang dikenal bijak di desa itu. Dia mengetuk pintu rumah dengan keras, sambil suaranya terdengar memanggil-manggil gurunya.

Si guru sambil mengusap matanya dan menahan kuap membuka pintu sambil berkata,

"Ada apa anakku? Pagi-pagi begini mengganggu nyenyak tidurku. Ada sesuatu yang penting?"

Pemuda menjawab, "Ampun guru, maafkan saya terpaksa mengganggu tidur guru. Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan."

Si guru kemudian mempersilahkannya masuk ke dalam rumah dan pemuda itu pun segera menceritakan kegundahannya, yakni semalam dia bermimpi dijemput malaikat dan diajak pergi meninggalkan dunia ini. Dia ingin menolak tetapi sesuatu seperti memaksanya harus pergi. Saat tarik menarik itulah dia terbangun sambil berkeringat dan tidak dapat tidur lagi. Timbul perasaan takut dan tidak berdaya membayangkan bila malaikat benar-benar datang kepadanya.

Si pemuda kemudian bertanya kepada gurunya,

"Guru, kapan kematian akan datang kepada manusia?"

Gurunya menjawab, "Saya tidak tahu anakku. Kematian adalah rahasia Tuhan".

"Aaaakh, guru pasti tahu. Guru kan selalu menjadi tempat bertanya bagi semua orang di daerah sini,” desak si murid.

"Baiklah. Sebenarnya rata-rata manusia meninggal pada usia 70 sampai 75 tahun. Tetapi sebagian ada yang tidak mencapai atau lebih dari perkiraan tersebut."

Merasa tidak puas dia kembali bertanya, "Jadi, umur berapakah manusia pantas untuk mati?"

Sambil pandangannya menerawang keluar jendela, sang guru menjawab, "Sesungguhnya, begitu manusia dilahirkan, proses penuaan langsung terjadi. Sejak saat itu, manusia semakin tua dan kapan pun bisa mengalami kematian".

Si murid bertanya terus, "Lalu, bagaimana sebaiknya saya menjalani hidup ini?"

”Hidup sesungguhnya adalah saat ini, bukan besok atau kemarin. Hargai hidup yang singkat ini, jangan sia siakan waktu. Bekerjalah secara jujur dan bertanggung jawab, usahakan berbuat baik pada setiap kesempatan. Jangan takut mati, nikmati kehidupanmu! Mengerti??”

Dengan wajah gembira si murid berkata, "Terima kasih guru, saya mengerti. Saya akan belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh, berani menghadapi hidup ini, sekaligus menikmatinya. Saya pamit guru."

Iya..hiduplah saat ini, tidak usah menyesali hari kemarin, karena hari kemarin sudah berlalu, tidak usah cemas akan hari esok, karena hari esok belum datang.

Hanya hari ini yang menjanjikan kesuksesan , kebahagiaan bagi setiap orang yang mau dan mampu mengaktualisasikan dirinya dengan penuh totalitas! Sekali lagi, Hiduplah Saat Ini!

YESTERDAY IS HISTORY..TOMORROW IS A MISTERY..TODAY IS A GIFT. ~Eleanor Roosevelt

Source       : indowebster.web.id (happybratboy)
Picture by  : randomthoughtsonlifeblog.com