Tetangga yang tinggal di sebelah rumah saya adalah seorang tua. Kakek ini telah mengalami pengalaman hidup yang susah, berbagai pengalaman pahit telah dilalui, pada masa mudanya karena perang hampir kehilangan seluruh anggota keluarganya, dia juga kehilangan sebelah kakinya pada masa perang.
Pada masa ‘revolusi kebudayaan’ istrinya karena tidak tahan siksaan yang tak berujung, akhirnya pergi meninggalkanya. Tidak berapa lama kemudian putra tunggalnya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.
Tetapi di dalam ingatan saya, kakek ini selalu tenang dan hidup dengan semangat. Pada suatu hari saya tidak dapat menahan rasa heran saya bertanya kepadanya,“
Kakek engkau menderita begitu banyak kesengsaraan dan kemalangan, tapi mengapa anda terlihat tetap tenang?"
Kakek ini tanpa menjawab memandang saya dalam waktu yang lama, kemudian mengambil selembar daun menunjukkan kepada saya sambil berkata, “coba anda lihat, ini seperti apa?”
Ini adalah selembar daun yang sudah kuning dan warnanya transparan, sekarang sedang musim gugur, saya pikir ini adalah selembar daun pohon poplar, lalu bentuknya seperti apa?.
“Apakah engkau dapat katakan dia tidak mirip dengan sebuah hati? Atau memang sebuah hati.”
Benar, memang sama seperti sebuah hati, hati saya seketika tergetar .
“Coba perhatikan dengan seksama apa yang ada diatasnya?”
Kakek ini membawa daun ini lebih dekat kearah saya. Saya melihat dengan jelas, diatas daun ini terdapat banyak sekali lubang yang besar dan kecil, seperti bintang-bintang yang bertaburan dilangit.
Kakek mengambil kembali daun ini dan diletakkan di atas telapak tangan saya, dengan suara berat dan tenang berkata, “Dia lahir di musim semi, tumbuh di bawah sinar matahari, melalui musim dingin dan terpaan salju, melewati seluruh hidupnya. Dalam kurun waktu tersebut, digigit oleh ulat sampai berlubang-lubang, tetapi dia tidak gugur, alasan dia dapat hidup adalah karena kecintaannya pada sinar matahari, tanah, air hujan, dan mencintai kehidupannya sendiri, sedangkan penderitaan adalah bagian dari hidupnya yang harus dia jalani."
Sampai sekarang saya masih menyimpan daun tersebut, setiap kali di dalam hidup saya menghadapi rintangan dan pengalaman yang pahit, saya selalu belajar dari sana meresapi nya dan menghadapi dengan ketenangan dan kekuatan, sehingga bagaimanapun kesulitan tersebut, saya selalu dapat melaluinya dengan perasaan tenang dan dengan semangat optimisme.
Terakhir kakek meletakkan daun tersebut dimeja tulis saya, dan berkata,
“Jawabannya terserah kepada anda, ini benar-benar sebuah sejarah dan
juga filsafat dalam hidup ini.”
Di dalam kehidupan manusia pasti ada masalah yang akan dihadapi, namun yang menjadi permasalahannya adalah bagaimana sikap kita menghadapi masalah itu. Ada berbagai macam sikap orang ketika dia memiliki masalah : ada yang marah-marah, ada yang merajuk dan mengurung diri di kamar, ada yang menceritakan masalahnya pada orang lain, ada yang menutup dirinya pada semua orang dan ada orang langsung berdoa masuk kamar dan menceritakan masalahnya kepada Tuhan.
SAAT INI APA MASALAH KITA? PEKERJAANKAH? KESEHATANKAH? ATAU APAPUN MASALAH KITA..TETAPLAH TENANG..MASUK KAMAR BERDOA DAN CERITAKANLAH MASALAH KITA KEPADA TUHAN..MAKA KITA AKAN DIBERIKAN KEKUATAN.
Source : erabaru / rumah renungan
Sunday, November 13, 2011
Friday, November 11, 2011
KITA JUGA AKAN MENJADI TUA
Seorang ayah tua yang buta duduk berdampingan dengan putranya yang sedang membaca surat kabar, di bawah pohon rindang, menikmati kebahagiaan keluarga dengan bermandikan kehangatan sinar mentari sore, sungguh sebuah pemandangan yang indah.
Sang ayah mendengar ada kicauan burung, beruntun telah bertanya 4 kali kepada sang putra, “Suara apa itu?”
Sang putra kelihatan tidak sabaran menjawab, “Itu burung gereja..!!” Untuk ke-4 kalinya, ia sudah tak tertahankan dan marah-marah.
Ayahnya tak menjawab apa-apa hanya berjalan masuk ke rumah. Tak lama kemudian ia berjalan keluar menghampiri putranya, sambil menyerahkan buku harian yg ditulisnya waktu masih muda.Ia meminta anaknya membacakannya :
“Beberapa hari yang lalu, putra kecilku berjalan-jalan di kebun bersamaku, dia beruntun bertanya 21 kali ‘itu apa’, saya menjawabnya 21 kali ‘burung gereja’, setiap kali kupeluk anak kecil yang masih polos itu, dengan penuh kasih sayang memberi jawaban kepadanya...”
Sang putra membaca sampai di situ tiba-tiba merasa sangat menyesal, tak tertahankan dipeluknya erat-erat sang ayah sambil berkata, “Maafkan aku ayah! Maafkan aku ayah!”
Bila kita dapat membuat diri sendiri waspada, banyak memikirkan orang lain, memiliki saling pengertian, perhatian dan maaf, memperhatikan situasi pada saat kita berbicara dan nada bicara kita, selalu ingat agar bertindak perlahan-lahan (lemah lembut ) dan tidak terburu-buru menyalahkan..dapat diyakini bahwa setiap langkah di esok hari akan menjadi lebih baik.
IYA..BERSABARLAH KEPADA ORANG TUA KITA..KARENA KITA JUGA AKAN MENJADI TUA :)
Source : The Epoch Times
Sang ayah mendengar ada kicauan burung, beruntun telah bertanya 4 kali kepada sang putra, “Suara apa itu?”
Sang putra kelihatan tidak sabaran menjawab, “Itu burung gereja..!!” Untuk ke-4 kalinya, ia sudah tak tertahankan dan marah-marah.
Ayahnya tak menjawab apa-apa hanya berjalan masuk ke rumah. Tak lama kemudian ia berjalan keluar menghampiri putranya, sambil menyerahkan buku harian yg ditulisnya waktu masih muda.Ia meminta anaknya membacakannya :
“Beberapa hari yang lalu, putra kecilku berjalan-jalan di kebun bersamaku, dia beruntun bertanya 21 kali ‘itu apa’, saya menjawabnya 21 kali ‘burung gereja’, setiap kali kupeluk anak kecil yang masih polos itu, dengan penuh kasih sayang memberi jawaban kepadanya...”
Sang putra membaca sampai di situ tiba-tiba merasa sangat menyesal, tak tertahankan dipeluknya erat-erat sang ayah sambil berkata, “Maafkan aku ayah! Maafkan aku ayah!”
Bila kita dapat membuat diri sendiri waspada, banyak memikirkan orang lain, memiliki saling pengertian, perhatian dan maaf, memperhatikan situasi pada saat kita berbicara dan nada bicara kita, selalu ingat agar bertindak perlahan-lahan (lemah lembut ) dan tidak terburu-buru menyalahkan..dapat diyakini bahwa setiap langkah di esok hari akan menjadi lebih baik.
IYA..BERSABARLAH KEPADA ORANG TUA KITA..KARENA KITA JUGA AKAN MENJADI TUA :)
Source : The Epoch Times
EMPAT MUSIM DARI POHON PIR
Ada seorang pria yang memiliki empat putra. Dia ingin
anak-anaknya untuk belajar tidak menghakimi hal-hal terlalu cepat. Maka
ia mengutus mereka masing-masing bergiliran untuk pergi dan melihat
sebuah pohon pir yang besar.
Anak pertama pergi pada saat musim dingin, yang kedua pada saat musim semi, yang ketiga pada musim panas, dan putra bungsu pada musim gugur.
Ketika mereka semua pergi dan kembali, dia pun memanggil mereka bersama-sama untuk menggambarkan apa yang mereka lihat.
Anak pertama mengatakan bahwa pohon itu jelek, bengkok, dan melilit. Berbeda dengan kakaknya, putra kedua mengatakan bahwa pohon itu ditutupi dengan tunas hijau dan menjanjikan.
Lain lagi pendapat anak ketiga. Ia mengatakan pohon pir itu sarat dengan bunga yang berbau begitu manis dan tampak sangat indah. Anak terakhir tidak setuju dengan mereka semua, ia mengatakan pohon tersebut sudah matang, penuh buah, dan penuh kehidupan.
Pria itu kemudian menjelaskan kepada anak-anaknya bahwa tidak ada satupun dari pendapat mereka yang salah, karena mereka telah melihat kehidupan pohon pada musim-musim yang berbeda.
Dia kemudian melanjutkan kata-katanya, “Kalian tidak bisa menilai pohon dari hanya satu musim, begitupun dengan kehidupan. Kalian tidak bisa mengatakan bahwa hidup ini begitu menyedihkan, atau begitu berat, karena pasti di suatu waktu kalian pasti merasakan kebahagiaan dan kegembiraan.”
Jika Anda menyerah saat musim dingin, Anda akan kehilangan janji musim semi Anda, keindahan musim panas Anda, dan pemenuhan pada musim gugur Anda.
JANGAN BIARKAN RASA SAKIT DARI SATU MUSIM MENGHANCURKAN SUKACITA SEMUA SISANYA.
Source : skywriting/bm/(jawaban.com)
Anak pertama pergi pada saat musim dingin, yang kedua pada saat musim semi, yang ketiga pada musim panas, dan putra bungsu pada musim gugur.
Ketika mereka semua pergi dan kembali, dia pun memanggil mereka bersama-sama untuk menggambarkan apa yang mereka lihat.
Anak pertama mengatakan bahwa pohon itu jelek, bengkok, dan melilit. Berbeda dengan kakaknya, putra kedua mengatakan bahwa pohon itu ditutupi dengan tunas hijau dan menjanjikan.
Lain lagi pendapat anak ketiga. Ia mengatakan pohon pir itu sarat dengan bunga yang berbau begitu manis dan tampak sangat indah. Anak terakhir tidak setuju dengan mereka semua, ia mengatakan pohon tersebut sudah matang, penuh buah, dan penuh kehidupan.
Pria itu kemudian menjelaskan kepada anak-anaknya bahwa tidak ada satupun dari pendapat mereka yang salah, karena mereka telah melihat kehidupan pohon pada musim-musim yang berbeda.
Dia kemudian melanjutkan kata-katanya, “Kalian tidak bisa menilai pohon dari hanya satu musim, begitupun dengan kehidupan. Kalian tidak bisa mengatakan bahwa hidup ini begitu menyedihkan, atau begitu berat, karena pasti di suatu waktu kalian pasti merasakan kebahagiaan dan kegembiraan.”
Jika Anda menyerah saat musim dingin, Anda akan kehilangan janji musim semi Anda, keindahan musim panas Anda, dan pemenuhan pada musim gugur Anda.
JANGAN BIARKAN RASA SAKIT DARI SATU MUSIM MENGHANCURKAN SUKACITA SEMUA SISANYA.
Source : skywriting/bm/(jawaban.com)
Wednesday, November 9, 2011
TIDAK ADA YANG SEMPURNA
Kisah seorang istri dari pasangan muda yang baru hidup bersama 1 tahun. Suatu malam, ketika sang suami sudah tertidur lelap disampingnya, sang istri masih terjaga.
Ditatapnya wajah suaminya, dan sang istri hanya bisa menggerutu dalam hati, melihat sosok si suami yang sebenarnya jauh dari idaman. Apalagi ketika sang suami mulai mendengkur cukup keras. Akhirnya dia menutup wajah dengan bantal dan mencoba tidur dengan segala kegalauan hati.
Namun belum lama terlelap dengan nyenyak, sang istri harus terbangun, karena kaki sang suami menyenggol kakinya. Memang seringkali sang suami banyak gerak tidurnya, dan ini yang kesekiankalinya terjadi kejadian yang sama.
Sang istri pun kaget, dan tanpa sadar untuk pertama kalinya agak membentak pada sang suami. Sang suami pun terbangun dan langsung meminta maaf.
Dengan sabarnya membujuk Sang istri untuk tenang. Setelah beberapa saat, akhirnya sang istri mulai mereda emosinya, kemudian dia bertanya untuk sebuah pertanyaan yang akhir-akhir ini mengganjal dalam fikirnya, “MENGAPA KAU MENIKAHIKU, MAS?”
Sang suamipun menghela nafas, tersenyum dan menjawab,
“Sebetulnya, memang kamu bukan wanita tipe idamanku, sayang. Tapi dari sekian waktu yang telah kita lewati bersama dulu, aku telah memilih untuk menjadikanmu pasangan hidup. Yang akan selalu kuperhatikan, kusayangi , dan kucintai untuk selamanya. Aku sadar, kalau aku selalu mencari sosok idaman, mungkin akan kudapatkan, tapi mungkin juga aku hanya akan selalu mencari dan mencarinya hingga Tuhan memanggilku, karena bisa jadi aku takkan pernah punya kesempatan bertemu dengan sosok idamanku itu atau malah dia akan menghindar untuk mencari idamannya juga. Jadi, kapan waktuku untuk membina keluarga?? Untuk menyayangi dan disayangi seseorang?”
Terhenyak sang istri mendengarnya, suatu penjelasan yang sederhana dan jauh dari egois. Sang istri tiba-tiba merasa sangat bersyukur telah “diberi kesempatan” untuk berkeluarga dan rasa cinta pada sang suami yang sempat ia pertanyakan sendiri, tiba-tiba tumbuh begitu dahsyat disertai sebuah kekaguman yang luar biasa. hingga air mata haru pun tak terasa menetes.
Mulai saat itu, tak pernah lagi sang istri mengingat-ingat sosok idamannya, sosok itu telah dia kubur dalam-dalam, dan dia mulai dapat menerima suaminya dengan segala kekurangan yang ada dan rasa syukur pun menjadi pengingat senyumnya di setiap waktu.
“PASANGAN HIDUP KITA ADALAH YANG TERBAIK. TAK PERLU MENGHABISKAN WAKTU DAN ENERGI UNTUK SELALU MEMIKIRKAN KEKURANGANNYA. KARENA TIDAK AKAN PERNAH KAU DAPATKAN PASANGAN SEMPURNA SESUAI DENGAN KEINGINANMU. BILA INGIN SUATU CINTA LEBIH INDAH..BAHAGIA DAN ABADI. BERIKAN HATIMU UNTUK MENGISI YANG KURANG DAN MENGURANGI YANG BERLEBIHAN ATAS APA YANG ADA PADA DIRI KALIAN BERDUA.."
Source : Rumah Renungan
Ditatapnya wajah suaminya, dan sang istri hanya bisa menggerutu dalam hati, melihat sosok si suami yang sebenarnya jauh dari idaman. Apalagi ketika sang suami mulai mendengkur cukup keras. Akhirnya dia menutup wajah dengan bantal dan mencoba tidur dengan segala kegalauan hati.
Namun belum lama terlelap dengan nyenyak, sang istri harus terbangun, karena kaki sang suami menyenggol kakinya. Memang seringkali sang suami banyak gerak tidurnya, dan ini yang kesekiankalinya terjadi kejadian yang sama.
Sang istri pun kaget, dan tanpa sadar untuk pertama kalinya agak membentak pada sang suami. Sang suami pun terbangun dan langsung meminta maaf.
Dengan sabarnya membujuk Sang istri untuk tenang. Setelah beberapa saat, akhirnya sang istri mulai mereda emosinya, kemudian dia bertanya untuk sebuah pertanyaan yang akhir-akhir ini mengganjal dalam fikirnya, “MENGAPA KAU MENIKAHIKU, MAS?”
Sang suamipun menghela nafas, tersenyum dan menjawab,
“Sebetulnya, memang kamu bukan wanita tipe idamanku, sayang. Tapi dari sekian waktu yang telah kita lewati bersama dulu, aku telah memilih untuk menjadikanmu pasangan hidup. Yang akan selalu kuperhatikan, kusayangi , dan kucintai untuk selamanya. Aku sadar, kalau aku selalu mencari sosok idaman, mungkin akan kudapatkan, tapi mungkin juga aku hanya akan selalu mencari dan mencarinya hingga Tuhan memanggilku, karena bisa jadi aku takkan pernah punya kesempatan bertemu dengan sosok idamanku itu atau malah dia akan menghindar untuk mencari idamannya juga. Jadi, kapan waktuku untuk membina keluarga?? Untuk menyayangi dan disayangi seseorang?”
Terhenyak sang istri mendengarnya, suatu penjelasan yang sederhana dan jauh dari egois. Sang istri tiba-tiba merasa sangat bersyukur telah “diberi kesempatan” untuk berkeluarga dan rasa cinta pada sang suami yang sempat ia pertanyakan sendiri, tiba-tiba tumbuh begitu dahsyat disertai sebuah kekaguman yang luar biasa. hingga air mata haru pun tak terasa menetes.
Mulai saat itu, tak pernah lagi sang istri mengingat-ingat sosok idamannya, sosok itu telah dia kubur dalam-dalam, dan dia mulai dapat menerima suaminya dengan segala kekurangan yang ada dan rasa syukur pun menjadi pengingat senyumnya di setiap waktu.
“PASANGAN HIDUP KITA ADALAH YANG TERBAIK. TAK PERLU MENGHABISKAN WAKTU DAN ENERGI UNTUK SELALU MEMIKIRKAN KEKURANGANNYA. KARENA TIDAK AKAN PERNAH KAU DAPATKAN PASANGAN SEMPURNA SESUAI DENGAN KEINGINANMU. BILA INGIN SUATU CINTA LEBIH INDAH..BAHAGIA DAN ABADI. BERIKAN HATIMU UNTUK MENGISI YANG KURANG DAN MENGURANGI YANG BERLEBIHAN ATAS APA YANG ADA PADA DIRI KALIAN BERDUA.."
Source : Rumah Renungan
Tuesday, November 8, 2011
KINI SAYA TELAH DEWASA..HARUS SELALU MENGAMPUNI
Ayah saya seorang pengacara. Ia paham betul akan hukum-hukum internasional. Klien ayah semuanya perusahaan besar, maka penghasilan tiap bulan juga sangat besar. Tetapi acapkali dia mengabdi secara sukarela kepada kelompok lemah, menyediakan jasanya tanpa memungut biaya.
Minimal sehari dalam seminggu, dia pergi ke tempat pendidikan pelatihan bagi anak-anak muda yang menjalani hukuman. Setiap kali ada pengumuman penerimaan murid SMU, dia akan mencari apakah nama anak-anak yang menjalani hukuman itu juga tercantum di sana.
Saya anak tunggal. Sudah tentu segala kasih sayang orang tua semuanya jatuh pada saya, tetapi ayah tidak memanjakan saya. Namun demikian yang ayah berikan kepada saya sungguh sangat banyak.
Setiap malam, ayah selalu menyelesaikan sebagian tugasnya di meja kerjanya. Ketika masih kecil, saya sering menggunakan kesempatan masuk ke ruang kerja ayah untuk bermain. Kadang kala ayah juga bisa menjelaskan kepada saya untuk menangani berbagai kasus.
Jalan pemikiran ayah selamanya sesuai dengan logika yang ada, sehingga saya sejak kecil sudah bisa menggunakan cara berpikir seperti ayah. Tak heran acapkali ketika saya berbicara di berbagai forum sekolah, pemikiran saya selalu jernih, sehingga banyak guru sekolah berteman akrab dengan saya.
Kini, saya telah menjadi mahasiswa. Sebulan sekali baru bisa melewatkan akhir pekan dengan orang tua. Beberapa hari lalu, saat liburan musim semi, ayah mengajak saya berlibur ke sebuah vila di tepi pantai.
Saat sore, Ayah mengajak saya berjalan-jalan di pinggir pantai. Ayah duduk beristirahat di pinggir sebuah tebing sambil memandangi cakrawala sore yang indah.
Mendadak ayah membicarakan seorang terpidana yang baru-baru ini dieksekusi. Ayah berkata dia sangat menentang hukuman mati. Walaupun terpidana mati itu sebelumnya pernah melakukan perbuatan jahat, tetapi ada sebagian orang bisa berubah menjadi baik. Orang yang dihukum tembak bisa jadi seorang yang baik. Sedangkan orang yang kelihatan baik dan hidup bebas diluar penjara banyak yang jahat.
Ketika saya membicarakan masalah opini publik, ayah tidak berdebat dengan saya, dia hanya berkata masyarakat harus membicarakan opini publik tetapi masyarakat harus lebih mementingkan pengampunan. Dia berkata, “Kita semua orang juga berharap mungkin bisa mendapatkan pengampunan dari orang lain.”
Saya teringat bahwa ayah pernah menjadi seorang hakim, secara spontan saya lalu bertanya apakah ayah pernah menvonis hukuman mati.
Ayah berkata, “Ayah pernah sekali memvonis orang dengan hukuman mati. Dia masih muda dan tidak berpendidikan. Ketika dia pergi ke ibukota untuk mencari kerja, KTP-nya ditahan oleh majikan perempuan. Sebenarnya tindakan menahan KTP ini menyalahi hukum. Anak muda tersebut lalu dipekerjakan bagaikan budak oleh majikan perempuan itu. Sehingga suatu hari dia menjadi sangat marah, memukul majikan perempuan itu hingga meninggal.”
“Saat itu ayah menjadi hakim utama yang menjatuhkan hukuman mati kepada si anak muda. Setelah peristiwa itu, selama di penjara, terpidana tersebut sangat rajin berdoa, dilihat dari berbagai indikasi ia sudah menjadi seorang yang baik. Oleh karena itu ayah pergi ke berbagai instansi untuk mengajukan permohonan pengampunan khusus, agar dia tidak dihukum mati, tetapi usaha ayah tidak berhasil.”
“Setelah divonis hukuman mati, isteri-nya melahirkan seorang putra yang sangat lucu. Ketika ayah pergi ke penjara untuk menjenguk si terpidana, ia sedang memandangi foto bayinya. Melihat foto itu, ayah menjadi sangat sedih akan nasibnya yang akan menjadi seorang anak yatim. Ayah sangat menyesali hukuman mati yang pernah ayah jatuhkan kepada dirinya.”
“Sebelum dia dieksekusi, Ayah menerima sepucuk surat.”
Ayah mengeluarkan sepucuk surat yang kertasnya sudah menguning dari dalam sakunya, dia menyodorkan surat kepada saya tanpa berkata apapun.
Bunyi surat itu :
Kepada Bapak Hakim yang terhormat :
Terima kasih Anda yang telah melakukan berbagai usaha bagi kebebasan saya, tapi nampaknya ajal saya sudah tiba. Bagaimanapun dalam hati saya akan selamanya berterima kasih kepada Anda. Ada sebuah permintaan, mohon Anda bisa mengabulkannya. Mohon berikan perhatian kepada putra saya, agar dia kelak bisa melepaskan diri dari lingkungan kemiskinan dan ketidaktahuan, agar dia kelak bisa menerima pendidikan tinggi. Sekali lagi saya mohon bantuan Anda untuk membantu putra saya agar dia bisa menjadi seorang anak yang terpelajar.Jangan membiarkan anak ini seperti saya, dengan ceroboh menjalani kehidupan ini.
Hormat saya,
Setelah membaca surat itu, saya merasa penasaran atas kelanjutan nasib anak tersebut, “Ayah, bagaimana Anda memberikan perhatian kepada anak tersebut?”
Ayah menjawab, “Ayah mengangkatnya sebagai anak.”
Sekejab itu dunia bagaikan berubah semuanya. Orang yang di depan saya ini bukan ayah kandung saya. Dia pembunuh ayah kandung saya, anak harus membalaskan dendam ayah, pembunuh harus mati!
Saya berdiri mendekati ayah, asalkan saya mendorongnya dengan ringan saja, ayah pasti akan jatuh ke jurang. Tetapi bukankah ayah kandung saya telah mengampuni orang yang menjatuhkan hukuman mati kepada dirinya? Yang duduk di depan saya ini seorang yang baik. Masalah dia telah menjatuhkan hukuman mati, sudah menjadi ganjalan dalam hatinya sejak awal.
Jika ayah kandung saya hadir di sini, dia akan berharap saya bisa melakukan apa untuk menyelesaikan masalah ini?
Saya bersimpuh di hadapan Ayah, dengan suara lembut berkata, “Ayah, hari sudah petang, mari kita pulang! Ibu sedang menunggu kita di rumah.”
Ayah berdiri dari duduknya, saya melihat air mata berada di sudut matanya, “Terima kasih Nak. Ayah tidak menyangka begitu cepat dirimu memaafkan ayah.”
Saya juga menemukan bahwa pandangan mata saya menjadi kabur karena genangan air mata, tetapi ucapan kata-kata saya masih jelas sekali, “Ayah, saya adalah anakmu, terima kasih Ayah telah membesarkan saya hingga dewasa.”
Saya bangga sekali terhadap ayah kandung saya yang telah tiada, kelapangan dadanya telah memberikan pengampunan kepada orang yang menjatuhkan hukuman mati kepada dirinya. Saya juga bangga dengan ayah saya sekarang ini, dia selalu merasakan hati nuraninya tidak tenang karena telah memberikan hukuman mati kepada orang lain, tetapi dia sudah menunaikan tanggung jawabnya, membesarkan diri saya menjadi dewasa. Dia bahkan siap mati jika saya menghendaki nyawanya.
Sedangkan saya sendiri? Saya merasakan diri saya menjadi tinggi besar dan kuat. Hanya orang yang memiliki kebaikan hati yang bisa memberikan pengampunan kepada orang lain, baru bisa menikmati ketenangan hati setelah memberi pengampunan kepada orang lain. Bagi orang yang dalam hati penuh dengan dendam dan pikiran yang jahat tidak akan mengerti perasaan yang demikian.
Ayah kandung yang tercinta, kiranya Ayah bisa beristirahat di dalam alam baka. Anak kandungmu kini sudah dewasa, apa yang saya lakukan hari ini tentunya adalah hal yang Ayah restui dan menenangkan hati Ayah.
FORGIVENESS ISN'T SOMETHING WE DO FOR OTHERS. WE DO IT SO WE CAN GET WELL AND MOVE ON :)
Source : Jia Tong/The Epoch Times/lin
Minimal sehari dalam seminggu, dia pergi ke tempat pendidikan pelatihan bagi anak-anak muda yang menjalani hukuman. Setiap kali ada pengumuman penerimaan murid SMU, dia akan mencari apakah nama anak-anak yang menjalani hukuman itu juga tercantum di sana.
Saya anak tunggal. Sudah tentu segala kasih sayang orang tua semuanya jatuh pada saya, tetapi ayah tidak memanjakan saya. Namun demikian yang ayah berikan kepada saya sungguh sangat banyak.
Setiap malam, ayah selalu menyelesaikan sebagian tugasnya di meja kerjanya. Ketika masih kecil, saya sering menggunakan kesempatan masuk ke ruang kerja ayah untuk bermain. Kadang kala ayah juga bisa menjelaskan kepada saya untuk menangani berbagai kasus.
Jalan pemikiran ayah selamanya sesuai dengan logika yang ada, sehingga saya sejak kecil sudah bisa menggunakan cara berpikir seperti ayah. Tak heran acapkali ketika saya berbicara di berbagai forum sekolah, pemikiran saya selalu jernih, sehingga banyak guru sekolah berteman akrab dengan saya.
Kini, saya telah menjadi mahasiswa. Sebulan sekali baru bisa melewatkan akhir pekan dengan orang tua. Beberapa hari lalu, saat liburan musim semi, ayah mengajak saya berlibur ke sebuah vila di tepi pantai.
Saat sore, Ayah mengajak saya berjalan-jalan di pinggir pantai. Ayah duduk beristirahat di pinggir sebuah tebing sambil memandangi cakrawala sore yang indah.
Mendadak ayah membicarakan seorang terpidana yang baru-baru ini dieksekusi. Ayah berkata dia sangat menentang hukuman mati. Walaupun terpidana mati itu sebelumnya pernah melakukan perbuatan jahat, tetapi ada sebagian orang bisa berubah menjadi baik. Orang yang dihukum tembak bisa jadi seorang yang baik. Sedangkan orang yang kelihatan baik dan hidup bebas diluar penjara banyak yang jahat.
Ketika saya membicarakan masalah opini publik, ayah tidak berdebat dengan saya, dia hanya berkata masyarakat harus membicarakan opini publik tetapi masyarakat harus lebih mementingkan pengampunan. Dia berkata, “Kita semua orang juga berharap mungkin bisa mendapatkan pengampunan dari orang lain.”
Saya teringat bahwa ayah pernah menjadi seorang hakim, secara spontan saya lalu bertanya apakah ayah pernah menvonis hukuman mati.
Ayah berkata, “Ayah pernah sekali memvonis orang dengan hukuman mati. Dia masih muda dan tidak berpendidikan. Ketika dia pergi ke ibukota untuk mencari kerja, KTP-nya ditahan oleh majikan perempuan. Sebenarnya tindakan menahan KTP ini menyalahi hukum. Anak muda tersebut lalu dipekerjakan bagaikan budak oleh majikan perempuan itu. Sehingga suatu hari dia menjadi sangat marah, memukul majikan perempuan itu hingga meninggal.”
“Saat itu ayah menjadi hakim utama yang menjatuhkan hukuman mati kepada si anak muda. Setelah peristiwa itu, selama di penjara, terpidana tersebut sangat rajin berdoa, dilihat dari berbagai indikasi ia sudah menjadi seorang yang baik. Oleh karena itu ayah pergi ke berbagai instansi untuk mengajukan permohonan pengampunan khusus, agar dia tidak dihukum mati, tetapi usaha ayah tidak berhasil.”
“Setelah divonis hukuman mati, isteri-nya melahirkan seorang putra yang sangat lucu. Ketika ayah pergi ke penjara untuk menjenguk si terpidana, ia sedang memandangi foto bayinya. Melihat foto itu, ayah menjadi sangat sedih akan nasibnya yang akan menjadi seorang anak yatim. Ayah sangat menyesali hukuman mati yang pernah ayah jatuhkan kepada dirinya.”
“Sebelum dia dieksekusi, Ayah menerima sepucuk surat.”
Ayah mengeluarkan sepucuk surat yang kertasnya sudah menguning dari dalam sakunya, dia menyodorkan surat kepada saya tanpa berkata apapun.
Bunyi surat itu :
Kepada Bapak Hakim yang terhormat :
Terima kasih Anda yang telah melakukan berbagai usaha bagi kebebasan saya, tapi nampaknya ajal saya sudah tiba. Bagaimanapun dalam hati saya akan selamanya berterima kasih kepada Anda. Ada sebuah permintaan, mohon Anda bisa mengabulkannya. Mohon berikan perhatian kepada putra saya, agar dia kelak bisa melepaskan diri dari lingkungan kemiskinan dan ketidaktahuan, agar dia kelak bisa menerima pendidikan tinggi. Sekali lagi saya mohon bantuan Anda untuk membantu putra saya agar dia bisa menjadi seorang anak yang terpelajar.Jangan membiarkan anak ini seperti saya, dengan ceroboh menjalani kehidupan ini.
Hormat saya,
Setelah membaca surat itu, saya merasa penasaran atas kelanjutan nasib anak tersebut, “Ayah, bagaimana Anda memberikan perhatian kepada anak tersebut?”
Ayah menjawab, “Ayah mengangkatnya sebagai anak.”
Sekejab itu dunia bagaikan berubah semuanya. Orang yang di depan saya ini bukan ayah kandung saya. Dia pembunuh ayah kandung saya, anak harus membalaskan dendam ayah, pembunuh harus mati!
Saya berdiri mendekati ayah, asalkan saya mendorongnya dengan ringan saja, ayah pasti akan jatuh ke jurang. Tetapi bukankah ayah kandung saya telah mengampuni orang yang menjatuhkan hukuman mati kepada dirinya? Yang duduk di depan saya ini seorang yang baik. Masalah dia telah menjatuhkan hukuman mati, sudah menjadi ganjalan dalam hatinya sejak awal.
Jika ayah kandung saya hadir di sini, dia akan berharap saya bisa melakukan apa untuk menyelesaikan masalah ini?
Saya bersimpuh di hadapan Ayah, dengan suara lembut berkata, “Ayah, hari sudah petang, mari kita pulang! Ibu sedang menunggu kita di rumah.”
Ayah berdiri dari duduknya, saya melihat air mata berada di sudut matanya, “Terima kasih Nak. Ayah tidak menyangka begitu cepat dirimu memaafkan ayah.”
Saya juga menemukan bahwa pandangan mata saya menjadi kabur karena genangan air mata, tetapi ucapan kata-kata saya masih jelas sekali, “Ayah, saya adalah anakmu, terima kasih Ayah telah membesarkan saya hingga dewasa.”
Saya bangga sekali terhadap ayah kandung saya yang telah tiada, kelapangan dadanya telah memberikan pengampunan kepada orang yang menjatuhkan hukuman mati kepada dirinya. Saya juga bangga dengan ayah saya sekarang ini, dia selalu merasakan hati nuraninya tidak tenang karena telah memberikan hukuman mati kepada orang lain, tetapi dia sudah menunaikan tanggung jawabnya, membesarkan diri saya menjadi dewasa. Dia bahkan siap mati jika saya menghendaki nyawanya.
Sedangkan saya sendiri? Saya merasakan diri saya menjadi tinggi besar dan kuat. Hanya orang yang memiliki kebaikan hati yang bisa memberikan pengampunan kepada orang lain, baru bisa menikmati ketenangan hati setelah memberi pengampunan kepada orang lain. Bagi orang yang dalam hati penuh dengan dendam dan pikiran yang jahat tidak akan mengerti perasaan yang demikian.
Ayah kandung yang tercinta, kiranya Ayah bisa beristirahat di dalam alam baka. Anak kandungmu kini sudah dewasa, apa yang saya lakukan hari ini tentunya adalah hal yang Ayah restui dan menenangkan hati Ayah.
FORGIVENESS ISN'T SOMETHING WE DO FOR OTHERS. WE DO IT SO WE CAN GET WELL AND MOVE ON :)
Source : Jia Tong/The Epoch Times/lin
Monday, November 7, 2011
AKU DITILANG DAN POLISI ITU TEMANKU
Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jono segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat, sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lengang.
Lampu berganti kuning. Hati Jono berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.
Prittttt!
Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.
Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jono agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
“Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!”
“Hai, Jon.” Tanpa senyum.
“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru.Istri saya sedang menunggu di rumah..”
“Oh ya?”
Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu.
“Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”
“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.”
Oooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi.
“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah.. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.
“Ayo dong Jon. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu.”
Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono memandangi wajah Bobi dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bobi kembali ke posnya.. Jono mengambil surat tilang yang diselipkan Bobi di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota.
Kenapa ia tidak menilangku? Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi.
Halo Jono,
Tahukah kamu Jon, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan.
Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi.Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Maafkan aku Jon. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah.
Salam.. Bobi.
Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi. Namun, Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan …
TAK SELAMANYA PENGERTIAN KITA HARUS SAMA DENGAN PENGERTIAN ORANG LAIN. BISA JADI SUKA KITA TAK LEBIH DARI DUKA REKAN KITA. HIDUP INI SANGAT BERHARGA..JALANILAH DENGAN PENUH HATI-HATI.
Source : dragus.cn
Lampu berganti kuning. Hati Jono berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Jono bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.
Prittttt!
Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jono menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.
Hey, itu khan Bobi, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jono agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
“Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!”
“Hai, Jon.” Tanpa senyum.
“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru.Istri saya sedang menunggu di rumah..”
“Oh ya?”
Tampaknya Bobi agak ragu. Nah, bagus kalau begitu.
“Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.”
“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.”
Oooo, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jono harus ganti strategi.
“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah.. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” Aha, terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan.
“Ayo dong Jon. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIM-mu.”
Dengan ketus Jono menyerahkan SIM, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bobi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bobi mengetuk kaca jendela. Jono memandangi wajah Bobi dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bobi kembali ke posnya.. Jono mengambil surat tilang yang diselipkan Bobi di sela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota.
Kenapa ia tidak menilangku? Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jono membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bobi.
Halo Jono,
Tahukah kamu Jon, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan.
Begitu bebas, ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi.Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Maafkan aku Jon. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah.
Salam.. Bobi.
Jono terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bobi. Namun, Bobi sudah meninggalkan pos jaganya entah ke mana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak menentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan …
TAK SELAMANYA PENGERTIAN KITA HARUS SAMA DENGAN PENGERTIAN ORANG LAIN. BISA JADI SUKA KITA TAK LEBIH DARI DUKA REKAN KITA. HIDUP INI SANGAT BERHARGA..JALANILAH DENGAN PENUH HATI-HATI.
Source : dragus.cn
LILIN HATI
Roy adalah seorang pedagang kulit bulu, umurnya telah melewati setengah baya, masalah bisnisnya tidak sesuai dengan harapan. Berkali-kali ia mengalami kegagalan. Semangatnya amat sangat rendah, acap kali marah-marah tanpa sebab yang jelas, selalu mengeluh bahwa orang lain telah menipu dirinya.
Akhirnya pada suatu hari, ia berkata pada istrinya, “Kota ini membuat saya sangat kecewa, saya ingin meninggalkan kota ini, pindah ke tempat lain.”
Roy dan istrinya datang ke suatu kota, pindah ke tempat tinggal baru mereka. Di suatu malam akhir pekan, ketika Roy dan istrinya sedang menata kamar, mendadak listrik padam, seketika itu seluruh ruangan menjadi gelap gulita.
Roy sangat menyesal mengapa ketika datang ia tidak membawa lilin, karena itu ia hanya bisa duduk tak berdaya di lantai dan mengeluh. Saat itu, di luar pintu terdengar suara ketukan pintu yang agak ragu dan perlahan, memecah kesunyian malam.
“Siapa itu?” Di kota tersebut Roy tidak punya kenalan, ia juga tidak ingin diganggu orang di akhir pekan. Ia berdiri dengan terpaksa. Susah payah Roy meraba ke arah pintu, dan membuka pintu itu dengan tidak sabar.
Di depan pintu berdiri seorang gadis kecil, yang dengan nada ketakutan berkata pada Roy, “Tuan, saya adalah tetangga Anda. Tolong tanya apakah Anda memiliki lilin?”
Roy menjawab dengan nada dongkol, “Tidak ada.” lalu menutup pintu dengan keras. “Sungguh merepotkan!” keluh Roy pada istrinya. Roy berkata lagi, “Tetangga yang menyebalkan, kita baru pindah kemari sudah datang untuk pinjam barang, kalau begini terus akan bagaimana jadinya nanti!”
Ketika ia sedang menggerutu tak berkesudahan, di pintu terdengar lagi suara ketukan. Pintu dibukanya, si gadis kecil itu masih berdiri di sana, hanya saja kali ini di dalam tangannya membawa dua batang lilin, bercahaya merah, seperti wajah gadis kecil itu yang merah padam, sangat menyolok.
“Nenek bilang, kami telah kedatangan penghuni baru, mungkin tidak membawa lilin, lalu nenek menyuruh saya agar membawakan dua batang lilin ini untuk Anda.”
Seketika itu juga Roy tertegun, ia terperangah dengan kejadian di depan matanya ini. Dengan sangat tidak mudah ia tersadarkan kembali, “Terima kasih kepada engkau dan nenekmu, semoga Tuhan melindungi kalian.”
Seketika itu juga, tiba-tiba Roy menyadari banyak hal, ia sepertinya telah menyadari tentang akar permasalahan dari kegagalan dirinya, yaitu terletak pada kekasaran dan ketidak-acuhannya pada orang lain.
DIDALAM KEHIDUPAN INI..YANG BISA MENIPU KITA..ACAP KALI BUKANLAH ORANG LAIN..MELAINKAN SEPASANG MATA KITA YANG TELAH DIKELABUI OLEH DINGINNYA HATI KITA INI.
Source : Mingxin/The Epoch Times/lin
Akhirnya pada suatu hari, ia berkata pada istrinya, “Kota ini membuat saya sangat kecewa, saya ingin meninggalkan kota ini, pindah ke tempat lain.”
Roy dan istrinya datang ke suatu kota, pindah ke tempat tinggal baru mereka. Di suatu malam akhir pekan, ketika Roy dan istrinya sedang menata kamar, mendadak listrik padam, seketika itu seluruh ruangan menjadi gelap gulita.
Roy sangat menyesal mengapa ketika datang ia tidak membawa lilin, karena itu ia hanya bisa duduk tak berdaya di lantai dan mengeluh. Saat itu, di luar pintu terdengar suara ketukan pintu yang agak ragu dan perlahan, memecah kesunyian malam.
“Siapa itu?” Di kota tersebut Roy tidak punya kenalan, ia juga tidak ingin diganggu orang di akhir pekan. Ia berdiri dengan terpaksa. Susah payah Roy meraba ke arah pintu, dan membuka pintu itu dengan tidak sabar.
Di depan pintu berdiri seorang gadis kecil, yang dengan nada ketakutan berkata pada Roy, “Tuan, saya adalah tetangga Anda. Tolong tanya apakah Anda memiliki lilin?”
Roy menjawab dengan nada dongkol, “Tidak ada.” lalu menutup pintu dengan keras. “Sungguh merepotkan!” keluh Roy pada istrinya. Roy berkata lagi, “Tetangga yang menyebalkan, kita baru pindah kemari sudah datang untuk pinjam barang, kalau begini terus akan bagaimana jadinya nanti!”
Ketika ia sedang menggerutu tak berkesudahan, di pintu terdengar lagi suara ketukan. Pintu dibukanya, si gadis kecil itu masih berdiri di sana, hanya saja kali ini di dalam tangannya membawa dua batang lilin, bercahaya merah, seperti wajah gadis kecil itu yang merah padam, sangat menyolok.
“Nenek bilang, kami telah kedatangan penghuni baru, mungkin tidak membawa lilin, lalu nenek menyuruh saya agar membawakan dua batang lilin ini untuk Anda.”
Seketika itu juga Roy tertegun, ia terperangah dengan kejadian di depan matanya ini. Dengan sangat tidak mudah ia tersadarkan kembali, “Terima kasih kepada engkau dan nenekmu, semoga Tuhan melindungi kalian.”
Seketika itu juga, tiba-tiba Roy menyadari banyak hal, ia sepertinya telah menyadari tentang akar permasalahan dari kegagalan dirinya, yaitu terletak pada kekasaran dan ketidak-acuhannya pada orang lain.
DIDALAM KEHIDUPAN INI..YANG BISA MENIPU KITA..ACAP KALI BUKANLAH ORANG LAIN..MELAINKAN SEPASANG MATA KITA YANG TELAH DIKELABUI OLEH DINGINNYA HATI KITA INI.
Source : Mingxin/The Epoch Times/lin
Subscribe to:
Posts (Atom)





.jpg)