Kisah Kisah Kita

Wednesday, February 1, 2012

PAYUNG ITU TELAH HILANG


Biasanya sepulang sekolah Angel seorang diri berjalan kaki ke tempat lesnya, sebelum masuk ke ruang les, lebih dahulu membeli minuman di mini market dekat sana.

Minggu lalu, selama beberapa hari selalu turun hujan. Hujan sebentar turun sebentar reda. Hari itu seperti biasanya Angel mampir dulu ke mini market untuk membeli minuman. Setelah membeli minuman, keluar mini market ternyata hujan telah reda, Angel tidak ingin membawa payungnya dalam keadaan basah ketempat les. Oleh karena itu dia meninggalkan payung di tempat yang sudah tersedia depan mini market. Nanti seusai les, setelah ibunya datang menjemput, ia baru akan mengambil payung itu.

Usai les, ibunya datang menjemput tepat pada waktunya. Angel berkata pada ibunya, “Ibu, bisakah mampir sebentar di mini market untuk ambil payung, tadi saya tinggalkan di sana.”

“Benarkah? Payung itu kan bermerek dan mahal harganya, kalau hilang bagaimana? Ibu sungguh salut padamu bisa meninggalkan payung itu di sana,” kata ibunya dengan sedikit kesal.

Setibanya di sana, Angel turun dari mobil sedang ibunya menunggu di mobil. Tak lama kemudian tampak Angel menggerakkan tangan memberi isyarat kepada ibunya bahwa payungnya telah hilang.

“Heran, payungnya hilang, mana mungkin bisa hilang. Mana mungkin hilang?” kata Angel dengan penuh keheranan.

Ibunya juga menunjukkan keadaan yang tidak bisa berbuat apa-apa, terhadap anak kecil yang begitu polos, tidak tahu apakah harus dipersalahkan atau tidak. Sebuah payung yang begitu ringan dan praktis. Jika ada orang ingin  mengambilnya tentu dengan sangat mudahnya bisa dibawa pergi. Sungguh tidak tahu apakah anak kecil yang begitu polos harus disalahkan atau tidak.

Tetapi Ibunya tidak tahan untuk mengucapkan beberapa kata kepada Angel, ”Sudah pasti diambil orang, itu adalah payung yang bermerek, jika seseorang ingin mengambilnya tentu dengan sangat mudah dibawanya pergi.”

Saat itu Angel mengucapkan kata-kata yang membuat ibunya merasa senang sekaligus merasa malu.

Angel berkata, ”Si Biru pasti tidak akan sedih diambil orang.” Angel terbiasa menggunakan warna untuk memberi nama payung.

Ibunya dengan heran bertanya, “Bagaimana kamu bisa tahu kalau si Biru tidak sedih? Sekarang dia telah meninggalkan kita, kamu tadi telah melemparkannya di mini market, dia pasti mengira kamu sudah tidak menginginkannya lagi.”

Angel menjawab, “Tidak akan begitu, sekarang si Biru pasti gembira. Karena baru saja turun hujan lebat, orang yang membawanya pergi pasti tidak membawa payung barulah membawa si Biru pergi.”

“Si Biru pasti tahu dia telah menolong orang yang tidak membawa payung itu, membuat orang itu tidak sampai terguyur basah oleh hujan. Membantu orang seharusnya bergembira, makanya si Biru tidak mungkin bersedih.”

Pikiran anak begitu lurus dan murni. Kehilangan sebuah payung, perasaan hatinya sangatlah positif. Sebaliknya di dalam benak kita terbersit pertanyaan, mengapa orang itu mengambil barang yang bukan miliknya. Apakah dia tidak tahu kalau itu bukan milik sendiri tidak boleh diambil sesuka hati, walaupun hanya sebuah payung.

Tetapi anaknya bisa berpikir bahwa payung itu sedang memberi pertolongan kepada orang yang tidak membawa payung, untuk menghindarkan orang tersebut basah kehujanan.

Di saat menghadapi suatu masalah yang sama, anak kecil dan orang dewasa seringkali punya pandangan yang berbeda juga perasaan hati yang berbeda.

Dalam masalah ini, nampak pikiran anak kecil yang begitu tulus dan polos. Ia tidak menggunakan pandangan nilai untuk menimbang hasil dari sebuah peristiwa, sedang orang dewasa sering kali mudah menggunakan “untung rugi” untuk melihat proses dan hasilnya dalam suatu peristiwa. Saya pikir ini adalah apa yang disebut dengan Pikiran Lurus!

SEGALA SESUATU KEJADIAN JIKA KITA MENGGUNAKAN SUDUT PANDANG YANG POSITIF UNTUK BERPIKIR..AKIBAT YANG DIHASILKAN PASTILAH BERBEDA..HASIL YANG DIDAPATKAN PASTI DILUAR DUGAAN ORANG.. :) 

Source : The Epoch Times/lin

Friday, January 27, 2012

MALAIKAT KECILKU..TOLONG AJARKAN KAMI TENTANG KASIH



Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, "Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan."

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, namanya Sindu, tampak ketakutan air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam / yogurt (nasi khas India = curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada "cooling effect". 

Aku mengambil mangkok dan berkata, "Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak-teriak sama ayah."

Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata, “Boleh ayah akan aku makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta..." agak ragu-ragu sejenak... "...akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaanku?"

Aku menjawab: "Oh, pasti sayang".

Sindu: "Betul ayah?"

"Yah pasti.." sambil menggenggam tangan anakku yang kemerahmudaan dan lembut sebagai tanda setuju. 

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi.. 

"Janji" kata istriku. 

Aku sedikit khawatir dan berkata, "Sindu, jangan minta laptop atau barang-barang lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang."

Sindu : "Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang-barang mahal kok."

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya.

Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin pada hari Minggu!

Istriku spontan berkata, "Permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin!"

Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program-program TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Aku coba membujuk, "Sindu, kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak."

Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, "Tidak ada 'yah, tak ada keinginan lain."

Aku coba memohon kepada Sindu, “Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami!"

Sindu, dengan menangis, berkata, "Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya aku menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan aku. Kenapa ayah sekarang mau menarik perkataan Ayah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya raja real memberikan tahta, kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri."

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, "Janji kita harus ditepati."

Secara serentak istri dan ibuku berkata, "Apakah aku sudah gila?"

Aku: "Tidak, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu permintaanmu akan kami penuhi."

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus. Hari Senin aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.

Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak, "Sindu, tolong tunggu saya."

Yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki-laki itu botak, aku berpikir mungkin "botak" model jaman sekarang. 

Tanpa memperkenalkan dirinya, seorang wanita keluar dari mobil dan berkata, "Anak anda, Sindu, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish, adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia."

Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air matanya mulai meleleh dipipinya, "Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena chemotherapy kepalanya menjadi botak, jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek oleh teman2 sekelasnya. Nah, minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya, saya betul-betul tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan, mempunyai anak perempuan yang berhati mulia."

Aku berdiri terpaku dan tidak terasa air mataku meleleh. Malaikat kecilku..tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih.

SUNGGUH LUAR BIASA BILA SETIAP ORANG MAU BERKORBAN UNTUK ORANG LAIN :)

Source : rasyba.blogspot.com

Thursday, January 26, 2012

SAPAAN DAMAI

Ketegangan antara Amerika Serikat dengan Korea Utara sejak perang Korea lebih dari setengah abad lalu, tidak pernah reda. Bahkan, isu nuklir Korea Utara dalam beberapa tahun terakhir membuat hubungan mereka semakin kritis. Upaya diplomasi melalui perundingan berjalan sangat alot.

Atas prakarsa bersama, rombongan musik New York Philharmonic dari Amerika, menggelar konser musik di Teater Agung Pyongyang, ibukota Korea Utara, pada tanggal 26 Februari 2008. Konser yang diusung oleh tim berjumlah 350 orang itu mendapat sambutan luar biasa. Banyak orang yang menyaksikan langsung atau melalui siaran televisi, terharu dan meneteskan air mata. Konser itu berhasil merengkuh hati warga Korea. Rupanya cara ini telah menjadi sapaan damai yang lebih ampuh ketimbang gunboat diplomacy (diplomasi ancaman perang) dan ancaman embargo.

Di dunia ini, sebuah dalil berkata, "Untuk menegakkan perdamaian, kita harus siap berperang." Namun bisa kita lihat sendiri kekerasan menimbulkan banyak dampak negatif yang sulit diatasi.

Untuk membuat dunia ini menjadi damai..dalam firman Tuhan kita diajak untuk menunjukkan kelemahlembutan..kita juga harus rela menghilangkan segala keirihatian..egoisme..dan sifat memegahkan diri yang kerap kali menjadi pemicu ketidakdamaian. Selain itu kita juga diminta untuk memilki hati yang murni..pendamai dan peramah. Melalui jalan inilah kita akan menuai damai. Inilah tantangan kita hari ini; menjadi pembawa damai di mana pun kita berada.

KEKERASAN LEBIH SERING MENIMBULKAN MASALAH BARU 

Source : rumahrenungan.blogspot.com

Wednesday, January 25, 2012

PELUKAN KECIL DARI SURGA

Elena Desserich adalah seorang gadis mungil yang baru berusia 6 tahun. Ia didiagnosa menderita kanker otak yang tak dapat dioperasi di usianya yang baru menginjak 5 tahun di tahun 2006. Sembilan bulan melawan penyakit yang dideritanya ternyata Elena kecil tahu apa yang harus ia lakukan untuk menjalani hari-hari akhir dalam hidupnya. Ia tetap hidup penuh sukacita bersama dengan ayah, ibu dan adiknya Grace.

Pada bulan Agustus 2007, Elena meninggal akibat kanker yang dideritanya. Beberapa hari setelah kematiannya, keluarganya mulai menemukan ratusan lembar pesan cinta yang diselipkan di antara halaman buku, di laci, di lemari, tas-tas milik keluarga, di pakaian, bahkan sampai di tempat penyimpanan dekorasi Natal. Dan pesan-pesan itu terus muncul sampai terkumpul hingga 3 kotak besar.

Apa yang tertulis di lembaran pesan tersebut sangat sederhana, berupa coretan tangan Elena yang bertuliskan “I love you mom, dad, grace” dan coretan gambar lainnya. Semuanya menunjukkan besarnya cinta Elena bagi keluarganya. Lembaran demi lembaran pesan yang ditemukan kedua orangtua dan adiknya itu bagaikan pelukan kecil dari sorga. Semua catatan itu kemudian dikumpulkan dan dijadikan buku berjudul “Notes Left Behind”.

Kematian adalah suatu hal yang menyedihkan dan mengharukan bagi mereka yang ditinggalkan. Namun Elena telah melakukan sesuatu yang tak terlupakan bagi orang yang dikasihinya. Ia tahu apa artinya hidup. Dalam umurnya yang singkat, Elena mewariskan sesuatu yang abadi dan memiliki kekuatan yang tak tergoyahkan oleh apapun juga, yaitu KASIH. Menghargai kehidupan adalah suatu hal yang baik, namun meninggalkan warisan yang tak lekang oleh waktu adalah suatu hal yang luar biasa.

RAGA INI AKAN BERAKHIR SUATU HARI NANTI..NAMUN KASIH YANG ANDA WARISKAN KEPADA ORANG LAIN AKAN TERSIMPAN SELAMANYA DI HATI.

Source : jawaban.com/rumahrenungan.blogspot.com

Tuesday, January 24, 2012

SAPUTANGAN PENGEMIS

Suatu hari pada jaman dahulu, seorang pengemis yang kehausan pergi ke pintu depan sebuah rumah besar. Sangat jelas bahwa itu adalah rumah orang kaya. Ketika ia mengetuk pintu, nyonya rumah tidak mempedulikan dan memerintahkan pembantu mengusirnya.

Di antara para penghuni rumah ada seorang pembantu perempuan. Ketika dia melihat pengemis itu ia merasa kasihan dan diam-diam memberinya secangkir air dan beberapa makanan sisa. Setelah selesai makan, pengemis dengan lembut mengucapkan terima kasih kepada pembantu dan mengatakan  : "Saya tidak punya apa-apa yang layak untuk membayar Anda, saya hanya punya saputangan ini. Ambillah. "

Pagi-pagi berikutnya, pembantu tertarik menggunakan saputangan pengemis yang diberikan pada hari sebelumnya, untuk membersihkan muka. Setelah melakukan tugas pagi, ia pergi ke ruang makan untuk melayani sarapan. Ketika nyonya rumah melihat pembantunya, dia sangat terkejut apa yang dilihatnya, ia tidak bisa berbicara. 

Pembantunya merasa sangat aneh dan bertanya kepada nyonya rumah : "Apakah Anda baik-baik saja, nyonya?" 

Dia menjawab "Wajah kamu!" 

"Apakah ada sesuatu di wajah saya?" Tanya si pelayan sambil mengusap wajahnya lagi dengan saputangan. 

Nyonya rumah itu bahkan lebih terkejut dan berteriak : "Sapu tangan apa itu???" 

Pelayannya kelihatan tidak mengerti. Setelah mendengar teriakan nyonya , orang di rumah datang dari segala penjuru berlari ke dalam ruangan. Semua orang hanya berdiri dan menatap. Pada saat ini pembantu perempuannya menjadi penasaran dan cemas, selanjutnya dia meminjam cermin. Ketika dia melihat ke cermin, ia juga menatap dirinya dengan takjub. Dia melihat wajah seorang wanita cantik, wajah seperti ini ia belum pernah lihat dalam hidupnya.

Nyonya tiba-tiba menyadari bahwa saputangan itu telah mengubah penampilan pembantunya, menjadi cantik. Dia meraih sapu tangan dari pembantunya dan segera menggunakannya untuk mencuci muka. Tapi wajahnya tidak berubah sama sekali tidak peduli seberapa keras ia membersihkan atau mengusap. 

Dia bertanya kepada pelayannya: "Dari mana kamu mendapatkan saputangan ini?" 

Pelayan itu mengatakan : "Dari pengemis yang datang meminta air, ia memberikannya kepada saya" 

Nyonya itu iri dan menyesali tindakannya dan berkata,"Seharusnya aku yang memberinya air hiks" 

Lalu ia memerintahkan pelayannya," Bawalah semua pengemis di kota itu untuk saya, segera.! "

Dia mengundang para pengemis ke rumahnya dan memberi mereka banyak makanan dan minuman. Setelah mereka minum dan makan sampai kenyang, para pengemis sangat puas, sehingga mereka pergi satu per satu. 

Nyonya rumah ketika melihat mereka pergi satu persatu ia berteriak, "Tunggu, jangan pergi, berikan saya saputangan Anda sebelum Anda pergi!!!" 

Para pengemis mengabaikan dan terus berjalan. Dia sangat marah, ia meraih pengemis terakhir dan menuntut, "Beri aku saputangan Anda!" 

Si pengemis tidak punya pilihan selain memberikan saputangan yang kotor!. Nyonya rumah segera mengambil saputangan dan menggunakannya untuk mengelap muka. Namun, semakin dia mengelap dan mengusap wajah, wajahnya menjadi semakin hitam.

SESEORANG TIDAK DAPAT MELAKUKAN PERBUATAN BAIK DENGAN ALASAN EGOIS DAN MAKSUD DIBALIKNYA. HANYA KETIKA SESEORANG BERTINDAK SECARA SPONTAN...TANPA PAMRIH DENGAN HATI YANG MURNI DAN PIKIRAN BAIK...TANPA MENGHARAPKAN BALASAN...AKAN MENDAPAT PAHALA YANG TAK TERHITUNG :)

Source : erabaru.net

Monday, January 23, 2012

SURAT GADIS KEPADA AYAHNYA

Belum sempat John meletakkan tas kerjanya sepulang ke rumah, matanya tertegun melihat sebuah surat tergeletak di atas meja. Di sebuah amplop tertulis “Untuk ayah tersayang” Setelah belasan tahun menjadi single parent, baru kali ini ada surat untuknya dari Lucy, anak gadisnya. Ada apa?

Kalimat pertama pada surat itu sudah mengguncang hatinya :

Ayah tersayang, jika ayah membaca surat ini maka aku sudah tidak ada di rumah. Sekalipun berat John melanjutkan bacaan kata demi kata. Ayah, aku telah menemukan pria yang akan mendampingiku selamanya.

Memang buat orang lain dia sudah terlalu tua, tapi bagiku pria berusia 45 tahun masih tetap muda.

Dia sangat energik ayah, kalau ayah mengenal lebih dekat dengannya pasti ayah juga akan menyukainya.

Ayah jangan terkecoh dengan tato di seluruh tubuhnya atau janggut dan brewoknya yang panjang atau puluhan tindik di telinga dan hidungnya, karena jauh di dalam hatinya ia adalah orang baik.

Ia sangat sayang padaku, dan juga ayah dari anak di dalam kandunganku. Istrinya tidak keberatan aku mendampinginya, karena istrinya sudah sibuk mengurus anaknya yang banyak.

Oh iya, ayah tidak usah khawatir tentang kehidupanku. Ia menguasai penjualan ekstasi di kota, jadi uang sama sekali bukan masalah buat kehidupan kami.

Saya tahu ia sudah mengidap HIV sejak lama, tapi katanya dalam beberapa tahun ke depan obat penyakit AIDS akan ditemukan jadi aku tidak perlu khawatir bukan?

Ayah jangan bersedih karena aku bahagia. Usiaku sudah 18 tahun ayah jadi aku
bisa memutuskan yang terbaik untuk hidupku.

Tanpa sadar, air mata sang ayah menetes jatuh ke lembar surat itu. Bagaimana mungkin anaknya yang lucu dan periang bisa menjadi seperti ini?

Lembar pertama surat pertama baru saja selesai dibacanya. Tangan sang ayah bergetar, berat rasanya, tapi ia membuka lembar kedua surat itu. Kali ini isinya jauh berbeda :

Ayah sayang,

Maaf, sebenarnya surat di halaman pertama tadi tidak benar-benar terjadi. Saya hanya ingin menggambarkan betapa kemungkinan terburuk bisa terjadi pada anak-anak gadis, dan syukurlah aku tidak demikian.
Ayah bahagia bukan, kalau aku tetap bersama ayah? Ayah bahagia bukan, aku tidak menghancurkan diriku seperti itu?

Tentu saja, mempunyai anak yang rapornya jelek, jauh lebih menguntungkan daripada mempunyai anak kabur seperti itu ?.

Oh iya Ayah, raporku ada di dalam tas, nilainya jelek, maaf ya. Silahkan ayah lihat, jangan lupa
ditandatangani. Besok guru ingin bicara dengan ayah tentang nilai raporku, jangan marah ya.
Kalau ayah tidak marah melihat nilai raporku, aku sedang bermain di rumah sebelah, aku tunggu yah?

Love you Daddy.

“Lucyyyyyyyy……. …!!!!!” John berteriak dan lari ke rumah tetangganya, ia akan mengitik habis anaknya yang ‘keterlaluan’ itu. Lega rasanya hati John. Konyol tapi melegakan. Tidak seperti kebanyakan ayah yang sedih melihat rapor anaknya yang buruk, hati John justru berbunga-bunga karena ia tidak kehilangan anaknya. Memang kali ini, keterlaluan sekali becanda anak gadisnya!

Sebenarnya Lucy hanya ingin agar ayahnya tidak marah melihat rapornya yang buruk, untuk membuat masalah rapor buruk terlihat kecil ia membuat gambaran masalah besar yang mungkin terjadi sehingga masalah yang ada jadi terlihat kecil.

Memang apa yang dilakukan Lucy pada Ayahnya John agak keterlaluan, tapi itu gambaran dramatis tentang bagaimana bisa membuat diri kita bersyukur apa adanya.

KALAU KITA INGIN BERSYUKUR ATAS KESULITAN YANG KITA TERIMA..MAKA KITA SEBAIKNYA MEMBAYANGKAN KESULITAN LEBIH BESAR YANG MUNGKIN BISA KITA ALAMI. DENGAN DEMIKIAN KITA BISA MENGHINDARI DIRI DARI STRES ATAU KEGALAUAN YANG BERKEPANJANGAN.

Source : inspirasijiwa.com

TETESAN AIR MATA DI HARI IMLEK

Imlek tinggal menghitung hari, banyak orang yang tersenyum ceria siap-siap menyambut hari penuh kebahagiaan ini, tapi tidak untuk Lie Mei. Lie Mei harus banyak menghela nafas dan mengusap dada setiap kali teman-teman setingkatannya di kelas 4 SD saling menunjukkan baju baru yang dibelikan oleh orang tuanya masing-masing. Bagi Lie Mei untuk Imlek yang ke tiga kalinya ini ia harus kembali merayakan imlek seadanya, membuang angan-angan untuk mendapatkan ang pao atau sekedar ciuman dari ayahnya.

Tiga tahun lebih sudah, Ayah Lie mei bekerja menjadi TKI di negeri Taiwan, jangankan mengirimkan sejumlah uang untuk membelikan baju, berkirim kabarpun tidak. Ibunya yang hanya bisa mengais rejeki dari mencuci pakaian tetangga sekitarnya tidak sanggup untuk membelikan yang Lie Mei inginkan.

Beruntung, meskipun masih kecil Lie Mei sudah mampu mengendalikan hasratnya, paling tidak dihadapan ibunya. Lie Mei tidak mau ibunya semakin terbebani dengan kemauan-kemauannya. Lie Mei tahu, meskipun ibunya tidak mampu membelikan apa yang ia inginkan bukan berarti ibunya tidak memahami apa yang diinginkannya. Walau kadang di belakang ibunya tak kuat lagi meneteskan air mata, ia terus berusaha tersenyum ceria sebisa mungkin dihadapan ibunya.

Adakalanya, Imlek adalah salah satu momen yang kurang Lie Mei sukai. Ingin sekali rasanya kalau hidup ini tidak ada Imlek, tidak ada hari yang harus membuat ia bersedih. Tapi Lie mei pun sadar, tidak ada yang salah dengan hari Imlek, yang salah adalah ketika kita salah menyikapi dan merayakannya. Dan meskipun demikian, Lie Mei sangat bersyukur betul mempunyai ibu yang benar-benar pahlawan, inspirator dan motivator bagi dirinya.

Malam menjelang Imlekpun tiba, suara-suara petasan dari berbagai gang-gang di kota Pontianak..akhirnya meruntuhkan benteng senyuman Lie Mei. Ia tak kuat lagi menahan air matanya yang sudah bergelayut kuat di pelupuk mata. Sebisa mungkin ia menahan air matanya, tapi memang ia sudah tak sanggup lagi, bibirnya kelu, alur napasnya terbata-bata, seketika ia peluk ibunya dengan erat-erat, sang ibupun tak sanggup membendung air matanya. Ibu dan putri darah dagingnya berpelukan dengan penuh deraian air mata.

Lebih dari sepuluh menit lamanya Lie Mei dan ibunya berpelukan, selain tangisan tak ada satu katapun yang terucap dari keduanya. Sebagai seorang ibu, ibu Lie Mei faham betul apa yang sedang dirasakan didalam diri putri semata wayangnya. “Gak terasa besok sudah Imlek ya bu…..Lie Mei merasa berdosa sudah banyak menyusahkan ibu, Lie Mei sudah banyak menjadi beban pikiran ibu, Lie Mei sudah membuat ibu bersedih”, suara Lie Mei memecah suasana yang penuh tangisan. Ibu Lie Mei tidak menjawab satu katapun, beliau belum bisa mengendalikan nafas dan tangisannya. Ibu Lie Mei hanya bisa menganggukkan kepala dengan air mata yang terus bercucuran dipipinya.

Iya..Lie Mei merasa berdosa, merasa berdosa karena ia tidak mampu membendung air matanya sehingga membuat ibunya pun larut dalam tangisan, padahal ia sama sekali tidak ingin membuat ibunya bersedih di hari bahagia..hari Tahun Baru yang dirayakan oleh masyarakat keturunan Tionghoa di seluruh dunia, Lie Mei sadar bahwa ibunya sudah banyak melakukan segalanya melebihi batas kewajiban sebagai seorang ibu.

Ibu Lie Mei, masih tersedu-sedu dalam tangisan, serasa bingung mau menjawab apa. Banyak hal yang membuat mereka bersedih. Penjelasan apa yang harus disampaikan pada Lie Mei, membuat ibu Lie Mei semakin bersedih. Keduanya sama-sama tahu dan sama-sama saling memahami. Persis malam itu hanya Lie Mei, Ibu Lie Mei, Malaikat, dan Tuhan saja yang tahu apa yang sedang dirasakan oleh Lie Mei dan Ibunya, dimana saat bersamaan orang-orang disekitar rumah Lie Mei sedang riang gembira bercengkerama berbagi ang pao dengan seluruh anggota keluarganya.

SELAMAT HARI RAYA IMLEK BAGI YANG MERAYAKAN....新年快樂 (Xin nian khuai le!) :)